Kajol dan Energi Terbarukan

Siapa yang tak kenal Kajol? Artis kenamaan India bernama lengkap Kajol Devgan yang sejak dahulu hingga sekarang terus melambung namanya melalui berbagai film Bollywood, terutama jika ia berpasangan dengan aktor legendaris Shahrukh Khan. Generasi sampai 1990-an akhir sebagian besar akrab dengan pasangan ini. Pasangan serasi yang bermain bersama dalam film Koochie Koochie Hota Hai itu sukses menggoyang dunia, termasuk Indonesia. Membuat stasiun televisi menyiarkan berulang-ulang kali film ini di layar kaca. Kajol dan Shahrukh Khan pula yang membuat radio-radio di rumah-rumah kita terus memutar ulang lagu Koochie Koochie Hota Hai. Terakhir mereka berpasangan dengan film laris berjudul My Name is Khan. Film yang seolah meneguhkan pesona Kajol yang telah berumur hampir empat puluh tahun saat itu tak habis dimakan usia dan seolah selalu terbarukan dari waktu ke waktu, sekaligus menunjukkan kedigdayaan film-film Bollywood yang tak pernah mati diterjang cobaan zaman.

Kita mungkin bisa belajar banyak dari India soal perfilman. Bagaimana Bollywood tetap bisa exist di tengah ketatnya persaingan industri perfilman dunia. Bollywood yang terus konsisten menghadirkan ciri khas film yang banyak selingan lagu dan tarian ala India, bisa menjadi contoh untuk Indonesia untuk mengembangkan film-film yang memiliki ciri khas kebudayaan tersendiri.

Namun selain belajar mengenai industri perfilman, hal yang tak kalah penting untuk kita pelajari dari India adalah bagaimana mengembangkan energi terbarukan yang kini tumbuh pesat di negara mereka.

benar_img10

Selama ini kita melihat contoh energi terbarukan dari negara-negara telah maju seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara maju di Eropa. Seolah pengembangan energi terbarukan hanya menjadi domain negara-negara maju. Tapi dari India kita bisa belajar jika negara-negara berkembang pun juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan peningkatan kapasitas produksi energi terbarukan. India sejak akhir 2015 memiliki kapasitas energi terbarukan dari tenaga angin terbesar keempat di dunia. Hingga maret 2017, total kapasitas energi yang dihasilkan dari tenaga angin yang dimiliki oleh India adalah sebesar 32,17 GW (Gigawatt) yang menyebar di regional selatan, barat, dan utara. Sebagai perbandingan, data sampai tahun 2014, keseluruhan total kapasitas energi listrik nasional di Indonesia yang dikelola oleh PT PLN  39,25 GW. Hanya berbeda sedikit dengan kapasitas energi listrik tenaga angin India. Bahkan Menteri Keuangan India telah menargetkan pemasangan kapasitas produksi listrik tenaga angin nantinya pada tahun 2022 adalah sebesar 60 GW.

Pengembangan energi listrik tenaga angin ini pun didukung dengan kebijakan tax holiday untuk pengembang dan listrik yang dijual pun tidak kena pajak serta pemerintah yang memberikan subsidi untuk lahan (inkind) untuk pengembangan energi angin. Berkat dukungan pemerintah ini, India memiliki wind farm yang banyak untuk menyokong 70% dari total keseluruhan energi terbarukan mereka.

Asia's largest solar power station, the Gujarat Solar Park, in Gujarat, India

Selain energi angin, India kini juga tengah mengembangkan energi listrik dengan tenaga surya (matahari). India sempat mencetak rekor harga termurah untuk biaya produksi tenaga listrik dengan memakai tenaga surya. Biaya yang dihasilkan pun jauh di bawah biaya produksi listrik yang berasal dari batu bara.

Dilansir dari Vice Indonesia, dalam lelang tender listrik pemerintah digelar baru-baru ini, dua perusahaan pembangkit berbasis tenaga surya menawarkan harga per kilowatt hour (kWh) senilai 2,62 Rupee (setara Rp543 saja). Phelan Energy dan Avaada Power, yang sama-sama berani mengajukan harga jual listrik murah meriah itu, berebut konsesi pembangunan pembangkit berkapasitas 250 Mega Watt di Negara Bagian Rajasthan.

Tawaran harga yang murah tersebut bukan hal yang baru dalam tren energi terbarukan di India. DIberitakan pada april lalu, perusahaan asal Prancis berani mengajukan harga jual per kWh sebesar 3,15 Rupee. Angka ini menandai semakin murahnya listrik berbasis tenaga surya di India, yang awal 2016 masih dihargai 4,34 Rupee per kWh. Sebagai perbandingan, harga listrik untuk pembangkit tenaga surya di Indonesia masih berada di kisaran Rp1.995 per kWh. Akibatnya, harga itu membuat ongkos produksi listrik dari sinar matahari di Indonesia (yang terhitung negara kawasan khatulistiwa dengan jarak yang seharusnya lebih dekat dengan matahari) jauh lebih mahal daripada Kamboja. Dampak lainnya, di Indonesia Pembangkit Listrik Berbasis Batu Bara yang kurang ramah lingkungan masih dianggap lebih murah, karena berada di kisaran Rp800-Rp900 per kWh.

Karena murahnya harga produksi energi listrik bertenaga surya tersebut, India kini menjadi pasar paling atraktif dan menarik dalam hal investasi energi terbarukan, bahkan mengungguli Amerika.

Tren ini lalu juga didukung oleh Perdana Menteri India yang ingin mengelontorkan aliran subsidi dana milik pemerintah sebesar 3,1 miliar dollar AS untuk mengembangkan industri pembuat panel surya di India. Tujuannya agar kapasitas produksi pembangkit energi fotovoltaik meningkat serta agar India bisa menjadi pengekspor produk listrik bertenaga surya.

Pemerintah India telah membuat proyeksi 40 persen atau sebesar 175 Gigawatt kebutuhan energi dalam negeri dibangkitkan melalui energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, dan angin pada 2030. Di India juga terdapat masalah yang hampir sama seperti di Indonesia, terdapat lebih dari 300 juta warga yang sama sekali belum tersentuh listrik. Energi surya merupakan energi termurah bagi warga India. Pemerintah India mengharapkan mereka bisa menghasilkan energi tenaga suryanya secara swadaya.

Optimisme India ini dalam mengembangkan energi terbarukan sepertinya akan terwujud melihat konsistensi mereka dan utilitas energi fosil serta nuklir yang semakin lama berbiaya tinggi. Belum lagi akibat polutan yang ditimbulkannya.

Seperti yang disebutkan di awal, India adalah contoh baik bagaimana negara berkembang pun dapat memiliki peran besar dalam pengembangan energi terbarukan. Indonesia seharusnya banyak belajar dan juga harus bergegas mengejar ketertinggalan dalam hal pengembangan energi terbarukan. Selain bergegas mengejar ketertinggalan dalam hal industri perfilman juga tentunya. 🙂

*Tabik

Refrensi

https://www.theguardian.com/environment/2017/may/10/indian-solar-power-prices-hit-record-low-undercutting-fossil-fuels

https://en.wikipedia.org/wiki/Wind_power_in_India

http://windergy.in/index.php/wind-energy-in-india/

https://www.vice.com/id_id/article/9aedvz/harga-listrik-tenaga-surya-di-india-cetak-rekor-termurah

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #15HariCeritaEnergi

https://www.esdm.go.id

 

 

Advertisements

Bagai Sang Surya Menerangi Desa-Desa

Mengikuti lomba menulis blog #15HariCeritaEnergi adalah tantangan tersendiri. Di tengah aktivitas yang padat dan waktu yang sempit, kita yang menjadi peserta lomba ‘dipaksa’ untuk konsisten menulis setiap harinya mengenai energi. Di tengah-tengah mengejar deadline tiap malamnya, kita harus melakukan riset kecil-kecilan mengenai tema energi terbarukan dan konservasi energi sebelum kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan di blog. Riset dan penulisan yang harus dilakukan dengan seksama di tengah berbagai kesibukan cukup menguras energi (tentunya energi yang dimaksud di sini adalah energi yang dipakai oleh tubuh untuk beraktivitas, bukan energi yang menjadi tema lomba ini).

Saya sendiri meluangkan waktu menulis setiap harinya pada saat malam hari, setelah seharian bekerja dan melalui jalanan macet pulang kantor. Sebuah lagu dan secangkir kopi seringkali menjadi teman setia dalam membuat tulisan untuk lomba blog ini. Namun, selain kedua hal tadi, tentunya yang tidak kalah penting adalah supply listrik untuk menghidupkan alat-alat elektornik penunjang kegiatan menulis, seperti komputer, AC, dan lampu.

Hal-hal sederhana tersebut terkadang terlupa untuk disyukuri. Padahal kehidupan terang seperti itu masih belum ditemui di banyak desa-desa di Indonesia. Menurut data Kementerian ESDM, terdapat setidaknya kurang lebih 2.500-an desa yang belum menikmati listrik. Artinya sekitar 290.000-an rumah masih dalam kondisi gelap gulita selepas matahari terbenam.

bulb

Salah satu desa yang sempat belum teraliri listrik adalah Desa Tomuan Holbung di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kab. Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, namun desa mereka tak kunjung dilistriki. Hingga akhirnya siswa-siswi SD di desa tersebut mengeluhkan kondisi tersebut pada Presiden dengan berfoto berseragam pramuka sembari memegang karton kardus bertuliskan, “Bapak Presiden RI Pak Joko Widodo yang Terhormat. Tolonglah Desa kami Pak, karena sampai pada saat ini desa kami belum dialiri arus listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara). Desa kami: Desa Tomuan Holbung, Kec. Bandar Pasir Mandoge Kab. Asahan, Provinsi Sumatera Utara?”. Foto tersebut sempat viral di media sosial.

hl 3 Ribuan warga Kabupaten Asahan menghadiri acara syukuran Wakil Gubernur Sumatera Utara (1)

Untungnya sejak viral foto tersebut, pemerintah cepat merespon keluhan tersebut. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM melakukan pertemuan antara PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera dengan PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) Sumatera Utara I.

Pertemuan ini dilakukan karena PT PLN Wilayah Sumatera Utara awalnya telah merencanakan untuk membangun jaringan listrik ke wilayah tersebut. Namun, pembangunan fasilitas distribusi listrik ke Desa Tomuan Holbung ini memerlukan pemangkasan dan penebangan pohon karet milik PT BSP.

Mediasi pun dilakukan agar pembangunan fasilitas distribusi listrik dapat melalui wilayah perkebunan milik PT BSP. Sebagai informasi, pembangunan jaringan 20 kilo volt (kV) di Desa Tomuan Holbung ini merupakan program pemerintah yang dilaksanakan oleh PT PLN, sehingga dalam pelaksanaannya tidak tersedia anggaran ganti rugi untuk penebangan pohon.

Usai dilakukan mediasi, PT BSP menyampaikan dukungan bagi program listrik perdesaan di Desa Tomuan Holbung, dengan catatan meminimalkan resiko kerugian penebangan pohon. Tindak lanjut mediasi tersebut adalah survei ulang yang dilakukan PT. PLN Wilayah Sumatera Utara dan PT. BSP untuk meminimalisir penebangan pohon.

Informasi terakhir yang diberikan oleh website Kementerian ESDM, Desa Tomuan Holbung kini telah teraliri listrik. Anak-anak SD Desa Tomuan Holbung kembali berfoto dengan memegang kardus, namun dengan tulisan terima kasih kepada Presiden karena desa mereka telah teraliri listrik.

Selain Desa Tomuan Holbung, pemerintah juga akan melistriki desa-desa lain dengan program Listrik Masuk Desa (Lindes).

Hanya saja ternyata tak semua desa seberuntung Desa Tomuan Holbung dan desa-desa yang teraliri listrik dengan program Lindes. Masih banyak desa-desa lain yang belum bisa begitu saja dialiri listrik oleh PT PLN. Karena berbagai kendala teknis, seperti daerah-daerah yang terlalu terisolasi sehingga masih belum memungkinkan penyambungan listrik ke daerah tersebut.

Untuk itulah, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 47/2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi Bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik dan juga Permen ESDM No. 43/2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Peraturan-peraturan ini kemudian diewajantahkan dalam bentuk program pembagian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

DHpEWXMUIAAdCqt.jpg-large

LTSHE ini merupakan program pemerintah dengan membangun independent home solar system, semacam pembangkit tenaga surya kecil-kecilan yang mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Jadi ada pemasangan tenaga surya yang kecil paling tidak bisa menerangi empat lampu. Walau belum bisa menyalakan perangkat selain lampu, seperti televisi dan sejenisnya, tapi minimal rumah-rumah yang memakai LTSHE ini sementara mampu menikmati listrik dengan lampu sehingga tidak lagi menjadi gelap gulita jika malam.

LTSHE selain mampu menjadi pembangkit listrik sementara bagi rumah-rumah, memiliki juga keunggulan berupa alat yang dapat dipindah-pindah (portable), daya tahan lebih lama, dan pemasangannya yang tidak terlalu susah.

LTSHE ini bisa menjadi pembangkit sementara sebelum adanya jaringan listrik yang masuk ke desa-desa tersebut. Karena beberapa daerah sebetulnya memiliki potensi tenaga air yang mampu menjadi pembangkit listrik, hanya saja belum dikembangkan. Jika pun tidak ada potensi tenaga air, dapat pula dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya seperti yang telah dilakukan oleh Kementerian ESDM di beberapa desa yang telah ada. Pembangkit Listrik Tenaga Surya lebih memungkinkan dibangun karena potensi cahaya matahari di Indonesia relatif banyak.

Semoga kelak, usaha pemerintah dalam menerangi pedesaan tertinggal semakin banyak hasilnya hingga nantinya tidak ada lagi yang tidak menikmati listrik di era kemerdekaan seperti saat ini.

 

Refrensi:

1. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pln-sudah-tersambung-ke-desa-kami

2. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/terangi-desa-terpencil-kementerian-esdm-andalkan-lisdes-dan-ltshe

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

Menjadi Sebaik-baiknya Generasi Milenial Urban yang Sadar Energi

150114_energy_renewable

Kita, anak-anak muda seringkali disebut generasi Y atau generasi milenial karena telah melewati pergantian millennium. Pergantian seribu abad yang menjadi salah satu simbol peralihan zaman yang kemudian juga menjadi menanda peralihan teknologi yang semakin maju, dari semula memakai tombol hingga kemudian berlayar sentuh. Dahulu saat masa bapak-ibu kita yang jarang memakai kendaraan sendiri dan jumlahnya terbatas, berbeda dengan sekarang yang bahkan dari sejak dini telah memakai kendaraan pribadi. Konon juga, kita memiliki akses informasi yang tidak terbatas dari berbagai intensitas pemakaian perangkat teknologi. Kita pun, anak-anak muda yang rata-rata sudah bekerja sebagian besar senang sekali menjadi kaum urban, senang kerja di kota besar yang lebih menjanjikan, menjadi pelaju yang berangkat tiap subuh dan pulang malam harinya pun dilakoni dengan senang hati demi memuaskan hasrat aktualisasi diri.

Aktivitas-aktivitas kita tersebut yang penuh dengan kebutuhan akses informasi dan mobilisasi yang lebih banyak dari generasi sebelumnya tentu memerlukan jumlah supply energi yang tidak sedikit pula. Misalnya saja kebutuhan informasi, kita memerlukan banyak daya listrik untuk membuat perangkat-perangkat informasi kita bekerja, seperti televisi, handphone, tablet, laptop, dan semacamnya. Kebutuhan mobilisasi kita pun juga memerlukan berbagai energi, motor atau mobil kita memakai energi yang berasal dari bensin atau solar sebagai bahan bakar, juga kereta listrik yang memerlukan energi listrik sebagai penggeraknya.

Namun, kebutuhan energi kita yang besar ini ternyata tidak diimbangi oleh cadangan energi yang tersedia. Cadangan minyak untuk bensin atau solar kita semakin lama semakin menipis. Energi listrik yang kebanyakan berasal dari energi batu bara pun suatu saat bisa habis. Lalu nantinya, jika kita memboroskan dan hanya mengandalkan energi-energi yang ada saat ini, bertahun-tahun kemudian anak cucu kita akan mengalami krisis energi.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar hal tersebut tidak terjadi?

Sudah selayaknya kita, para generasi milenial untuk sadar akan pentingnya energi. Untuk menghindari krisis energi, sejatinya kita dapat melakukan penghematan (konservasi) energi dan mencari sumber-sumber energi baru, seperti sumber energi terbarukan.

Tentu tak semua dari kita mampu mencari sumber-sumber energi terbarukan, karena latar belakang dan profesi kita yang berbeda-beda. Hanya saja, ada beberapa hal yang dapat kita semua lakukan untuk menghindari krisis energi tanpa memandang latar belakang dan profesi kita, yakni:

  1. Memakai kendaraan umum

Di era sekarang, memang kita harus bermobilisasi tinggi dari satu tempat ke tempat lainnya. Hanya saja, kendaraan-kendaraan pribadi yang kita gunakan memakan biaya energi yang sangat besar. Belum lagi banyaknya kendaraan pribadi membuat kemacetan di jam-jam kantor sehingga memperparah jumlah energi yang terbuang sia-sia. Kendaraan-kendaraan pribadi juga menimbulkan asap dan polusi udara yang bisa mengakibatkan global warming.

Dengan menggunakan kendaraan umum, kita ikut turut serta mengurangi jumlah kendaraan yang menimbulkan kemacetan dan polusi serta menghabiskan energi yang cukup besar.

Beberapa kendaraan umum juga ada yang bebas dari kemacetan, semisal busway dan kereta listrik. Kita pun selain dapat menghemat energi, juga dapat menghemat waktu perjalanan dan terhindar dari stress akibat kemacetan.

Kita pun tak perlu takut lelah dan letih layaknya mengendarai kendaraan pribadi yang menyebabkan risiko kecelakaan semakin besar. Kita tinggal menikmati perjalanan. Lebih bisa berinteraksi dengan penumpang lain dan melihat pemandangan sekitar. Kalau naik mobil sendiri kan nggak boleh ngobrol, terlalu menoleh terus-terusan menikmati pemandangan, sangat beresiko kecelakaan.

  1. Menggunakan sepeda

Jika jarak tidak terlalu jauh, ada baiknya kita memakai sepeda ke tempat tujuan. Misalnya ketika tempat kost kita tak jauh dari tempat bekerja, jangan memanjakan diri dengan menaiki motor atau mobil. Sesekali bersepeda selain dapat menghemat energi juga dapat berolahraga agar tubuh lebih sehat.

  1. Menghemat penggunaan listrik

Sebagai generasi milenial yang membutuhkan banyak sekali perangkat elektronik, sudah barang tentu kebutuhan akan listrik tak dapat dihindarkan. Namun kita dapat melakukan penghematan listrik dengan cara mengefisiensikan penggunaannya. Misalnya dengan cara mengatur kebutuhan penggunaan lampu. Siasati kebutuhan penerangan di rumah dengan menggunakan lampu hanya pada saat benar-benar dibutuhkan saja. Manfaatkan sinar matahari sebagai sumber penerangan utama saat siang hari. Gunakan lampu hemat energi yang hanya menggunakan jumlah kebutuhan listrik yang relatif sedikit. Usahakan untuk menerapkan aturan mematikan setidaknya dua lampu pada pukul 17.00 hingga 20.00 (jam-jam dimana kebutuhan energi listrik cukup tinggi).

Bisa juga dengan melakukan penghematan penggunaan AC. Pilihlah AC yang hemat energi dengan kemampuan untuk menaikkan suhu atau off secara otomatis ketika ruangan sedang ada sedikit orang atau justru tidak ada orang sehingga kita tidak perlu mendinginkan ruangan yang efeknya tidak akan dirasakan siapa-siapa. Sesuaikan suhu AC dengan luas ruangan dan jumlah orang yang ada. Suhu 20°C untuk luas ruangan sama yang diisi oleh satu orang dengan 5 orang dapat dirasakan berbeda.

Hal yang penting namun seringkali terlupa untuk mematikan alat-alat elektronik yang tidak dipakai saat akan tidur, seperti televisi dan gadget. TV yang masih menyala ketika kita tidak sedang menontonnya jelas selain memboroskan energi, juga membuat tagihan listrik membengkak. Jangan pernah tinggal gadget kita dalam keadaan masih mengisi daya ketika kita memutuskan untuk tidur. Selain boros energi, risiko lain seperti baterai menggelembung hingga bocor mengintai.

  1. Ikut kampanye hemat Energi

Kementerian ESDM memiliki kampanye gerakan hemat energi “Potong 10 Persen” yang merupakan gerakan menghemat 10% pemakaian listrik sehari-hari. Selain itu, ada pula kampanye yang digalang oleh Earth Hour dengan mengajak kita mematikan listrik di jam-jam tertentu yang biasanya merupakan jam penggunaan listrik tertinggi. Dan masih banyak lagi program lainnya.

Kita dapat menjadikan kampanye hemat energi sebagai tren hidup kita sebagai generasi milenial.

Demikian tadi hal-hal yang dapat kita lakukan sebagai generasi milenial dalam kelangsungan energi, agar nantinya di generasi-generasi selanjutnya tidak mengalami apa yang disebut sebagai krisis energi.

Tabik.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Tumbuh-tumbuhan yang Menjadi Minyak Solar

Konon, kebutuhan konsumsi solar di Indonesia setiap tahun terus bertumbuh seiring meningkatnya jumlah penduduk dan perekonomian. Tahun 2016 yang lalu saja konsumsi solar diperkirakan sekitar 37 juta kilo liter, dimana terdapat sekitar 50 persen solar bersubsidi dan 50 persen sisanya solar untuk industri. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, sekitar 50 persen dipenuhi dari produksi domestic dan 50 persen dari impor. Kurang lebih 20 miliar dollar Amerika Serikat setiap tahun dihabiskan untuk mengimpor solar tersebut. Selain itu, akibat konsumsi solar tersebut terdapat kurang lebih 150 juta ton emisi karbon yang terbang mengotori udara bumi Indonesia setiap tahun.

Untuk mengurangi dampak emisi karbon dan menghemat devisa negara, pemerintah mengeluarkan kebijakan mandatori biosolar dengan mewajibkan adanya pencampuran biosolar dalam konsumsi solar dengan target 20 persen. Artinya setiap 10 liter biosolar yang kita isi di SPBU mengandung 2 liter biosolar dan 8 liter solar.

Photo illustration of a fuel nozzle from a bio diesel fuel pump at a filling station in San Diego
Gambar dari sini

Bahan Pembuatan Solar dan Bio Solar

Kita mungkin sering membeli biosolar di SPBU-SPBU untuk mobil bermesin diesel kita. Walau tidak sepenuhnya biosolar yang kita beli seratus persen mengandung biosolar, namun pernahkah kita berpikir berasal dari apakah biosolar itu?

Tentu saja biosolar terbuat dari minyak alami (bahan bakar nabati) bukan minyak bumi seperti minyak solar biasanya.

Biosolar ini sebenarnya terbuat dari berbagai macam minyak yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, bukan dari energi fosil, sehingga tingkat pencemaran atau zat polutannya pun lebih rendah dan cepat terurai di udara.

Biosolar dibuat dari gabungan minyak nabati yang di kombinasikan dengan solar. Pertama harus diolah dulu gabungan minyak nabati yang berasal dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang kemudian diolah dalam proses transesterifikasi.

Proses ini diperlukan untuk menyuling minyak tersebut supaya dapat diperoleh hasil metil ester atau asam lemak murni (FAME) yang nantinya akan dicampurkan kedalam senyawa solar untuk bisa diproduksi sebagai biosolar.

Manfaat-manfaat biosolar:

  • Mengurangi pencemaran hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida, sulfur dan hujan asam.
  • Bahan dasar nya adalah minyak goring bekas, dengan adanya pembuatan biosolar ini dapat menggurangi beban lingkungan karena sampah/limbah.
  • Tidak menambah jumlah gas karbon dioksida, karena minyak berasal dari tumbuhan/nabati.
  • Energi yang dihasilkan mesin diesel lebih sempurna dibandingkan solar hingga yang menggunakan biosolar tidak mengeluarkan asap hitam berupa karbon atau CO2, sedangkan mesin yang menggunakan solar mengeluarkan asap hitam. Biosolar mengeluarkan aroma khas seperti minyak bekas menggoreng makanan.
  • Limbah dari biosolar ini merupakan Glyserin. Glyserin ini merupakan bahan dasar pembuatan sabun, sehingga ramah lingkungan dan mengurangi polusi. Limbahnya pun bisa menjadi berguna.

Maka biosolar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan minyak fosil biasa. Namun, tumbuhan apa saja yang bisa menjadi biosolar?

Berikut adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa menjadi bahan baku biosolar yang sudah umum digunakan:

  1. Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan bahan biosolar yang paling unggul. CPO yang berasal dari kelapa sawit merupakan sumber bahan baku biodiesel yang sudah tersedia, meskipun saat ini CPO tersebut lebih banyak diperuntukkan untuk keperluan non energi seperti minyak goreng dan sabun, namun juga tidak sedikit jumlahnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.

Produksi minyak kelapa sawit sangat besar di Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua setelah Malaysia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar dunia. Luas perkebunan dan produksi selalu meningkat dari tahun ketahun. Kelapa sawit memiliki prospek ekonomi yang sangat baik. Dengan  berjalannya industri kelapa sawit maka roda perekonomian Indonesia dapat  bergerak lebih cepat. Selain itu industri kelapa sawit juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Jumlah yang besar ini membuat biodiesel berbahan baku kelapa sawit cukup potensila untuk digunakan dan dikembangkan.

  1. Tanaman Jarak

Tanaman Jarak Pagar merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Sumber energi yang dihasilkan dari tanaman ini berupa biodiesel yang berguna untuk menggantikan fungsi solar pada mesin diesel. Paat ini pemerintah tengah mencanangkan program penggunaan minyak Jarak Pagar sebagai pengganti minyak solar secara nasional.

Minyak yang dihasilkan dari Biji Jarak Pagar termasuk dalam minyak lemak (fatty oil). Minyak ini berupaerning berwarna kuning dan tidak menjadi keruh meski disimpan dalam waktu yang cukup lama. Minyak Jarak Pagar bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Pertama melalui thermal atau catalytic cracking akan dihasilkan gas, gasoline, kerosin, dan diesel yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Kedua, melalui esterifikasi transesterifikasi akan dihasilkan produk berupa biosolar yang diugnakan untuk pembangkit genset, kendaraan diesel, dan kompor jarak pagar. (Ningrum:2015)

  1. Biji Alpukat

Salah satu sumber bahan baku biodiesel adalah buah alpukat. Bagian dari buah alpukat yang dapat digunakan sebagai biodiesel adalah bijinya, melalui esterifikasi dan/transesterifikasi dengan alkohol serta bantuan katalis. Untuk mengetahui kelayakan minyak biji alpukat sebagai bahan baku biodiesel, maka perlu dilakukan beberapa pengujian untuk mengetahui angka asam, asam lemak bebas, densitas minyak, viskositas, dan yield.

Salah satu alasan mengapa menggunakan biji alpukat dibandingkan dengan tanaman lainnya dikarenakan buah alpukat banyak terdapat di lingkungan masyarakat yang bijinya belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, yang paling penting yaitu kandungan minyak biji alpukat lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman-tanaman seperti kedelai, jarak, biji bunga matahari, dan kacang tanah. Pemilihan biji alpukat sebagai salah satu sumber minyak nabati karena kandungan minyaknya relatif tinggi dibandingkan tanaman lain yaitu sekitar 2638 liter/ha dalam 2217 kg/ha. Sedangkan tanaman seperti jarak adalah 1892 liter/ha dalam 1590 kg/ha dan bunga matahari 925 liter/ha dalam 800 kg/ha. Selain itu, bahan bakar ini lebih ekonomis dan ramah lingkungan karena kadar belerang dalam minyak tersebut kurang dari 15 ppm, sehingga pembakaran berlangsung sempurna dengan dampak emisi CO, CO2 serta polusi udara yang rendah (Sofia 2006).

Selain ketiga tumbuh-tumbuhan tersebut, masih banyak bahan baku biosolar lainnya, bisa berasal dari biji kemiri, biji pepaya, minyak hewan, dan minyak goreng bekas. Bisa juga mungkin beberapa tahun kemudian akan ditemukan sumber-sumber biosolar lainnya.

 

Refrensi:

1. Adhi, Wibisono. 2013. Industri Minyak Sawit Dan Biodiesel Sebagai Upaya Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil, Institut Pertanian Bogor.

2. Ningrum et al, 2015. Biodiesel. Universitas Negeri Malang.

3. https://gapki.id/perluas-mandatori-biodiesel-hemat-devisa-dan-emisi/#more-1742

4. https://id.wikipedia.org/wiki/Biodiesel

5. http://lanjar14.blogspot.co.id/2015/06/artikel-tentang-inovasi-pemanfaatan.html

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Mencuri Listrik itu Dosa Kawan

Electricity TowersSebagai pegawai pajak yang beristrikan pegawai listrik, tentu pembicaraan kami sehari-hari tidak jauh dari seputar pajak dan listrik. Walau kedua hal ini seringkali tidak nyambung-nyambung amat, namun ada beberapa hal yang menurut kami terkadang memiliki kesamaan. Salah satunya, sama-sama sering digelapkan dan terkadang hal tersebut dianggap biasa oleh sebagian besar kita.

Teman saya yang punya usaha tempat makan berupa kafe kecil-kecilan menganggap ia tak perlu membayar dan melaporkan pajaknya karena menurutnya pajak yang akan ia setor tidaklah terlalu banyak jumlahnya dan tak material bagi negara. Padahal ini termasuk penggelapan pajak walau skala kecil-kecilan. Hal ini pula juga terjadi pada kasus listrik. Berapa banyak pedagang kaki lima, seperti tukang martabak, mie ayam, bakso, dan sebagainya yang menerangi tempat usahanya memakai listrik yang disambungkan dengan kabel-kabel ilegal (nyuntik) ke sambungan PLN. Kebanyakan pedagang ini menganggap penyambungan ilegal ini tidak akan berarti banyak karena hanya mengambil “sedikit” listrik untuk sekedar membuat bohlam lampu mereka agar menyala. Padahal hal ini juga tergolong pencurian listrik.

Bayangkan jika ada jutaan usahawan seperti teman saya yang mangkir dari kewajiban perpajakannya, berapa banyak pajak yang loss dari kas negara. Bayangkan juga para pedagang kaki lima di Indonesia yang rata-rata kebanyakan listriknya ilegal, berapa banyak kerugian negara di bidang energi kelistrikan. Dua hal yang sama-sama dianggap biasa dan remeh oleh sebagian besar kita namun sesungguhnya jika dilakukan secara masif memiliki dampak yang luar biasa.

Namun, karena judul tulisan ini mengenai energi listrik, sementara marilah kita fokus pada penggelapan atau pencurian listrik. Pencurian yang selain dilakukan pedagang kaki lima juga dilakukan oleh beberapa pelanggan listrik di perumahan bahkan pelaku industri untuk menghemat tagihan listrik dengan cara-cara ilegal.

Seperti apa pencurian listrik?

Ada beberapa hal yang sering menjadi modus pencurian listrik yang sering terjadi:

Pertama adalah mengganti Miniature Circuit Breaker (MCB) meteran listrik sehingga daya listrik yang digunakan lebih tinggi dari yang seharusnya. Misalnya, pelanggan listrik rumah tangga 450 VA mengganti sendiri MCB meterannya sehingga daya listriknya menjadi naik hingga 1.300 VA.

Modus pencurian listrik kedua adalah dengan mengakali kWh meter (meteran listrik) dengan menurunkan kawat jumper antara terminal 1 dan 3 sehingga pemakaian listrik yang tercatat di meteran menjadi lebih sedikit dibanding pemakaian sebenarnya.

Ketiga adalah gabungan antara pelanggaran jenis pertama dan kedua, yaitu mengubah daya listrik sekaligus mengakali meteran.

Keempat, dilakukan oleh pedagang-pedagang kaki lima dan warung-warung tenda di pinggir jalan, yaitu dengan membuat sambungan listrik dari penerangan jalan umum.

Akibat pencurian listrik ini, seperti dilansir oleh Detik.com, negara dalam hal ini PLN diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun setiap tahun. Tentunya jika tak ada pencurian tersebut, negara dapat berhemat dan uang sebesar itu juga dapat digunakan untuk berbagai pengembangan listrik di daerah-daerah lain yang masih kekurangan.

Pencurian listrik, sama halnya dengan pencurian lainnya adalah perbuatan tercela dan melawan hukum yang tentunya dapat dipidana. Pencurian listrik selain dapat dikenakan Pasal 362 KUHP yang berisi ancaman perbuatan pencurian, secara khusus juga diatur dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan Pasal 51 ayat (3) yakni: “Setiap orang yang menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)”

Selain perbuatan pidana, pencurian listrik bisa digolongkan sebagai perbuatan dosa lho!

Hal ini dikuatkan dengan fatwa MUI nomor 17 Tahun 2016 tentang Pencurian Energi Listrik. Menurut MUI, fatwa ini dikeluarkan sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa pencurian listrik merupakan perbuatan yang dilarang agama. Bahkan fatwa ini juga melarang pencurian listrik untuk musholah, apalagi untuk yang lainnya. Walau kemudian fatwa ini juga dibarengi imbauan agar PLN memperbaiki pelayanan listriknya.

Kenapa MUI sampai perlu mengeluarkan fatwa demikian? Karena mudharat pencurian listrik ini sangat besar. Selain kerugian negar, akibat pencurian listrik yang tidak memakai keamanan sambungan, dapat menyebabkan hubungan arus pendek yang dapat menyebabkan kebakaran.

Pencurian listrik juga bisa membuat kapasitas tenaganya di gardu menjadi overload berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan listrik padam, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Belum lagi pemborosan energi yang pasti terjadi. Listrik yang tak perlu dibayar tentunya menyebabkan para pencuri listrik ini tak perlu terlalu berhemat energi, karena tak ada tagihan atas listrik yang dipakai. Para pedagang kaki lima bisa memakai lampu penerangan yang boros energi atau penjual kaset di pinggir jalan bisa menyalakan listrik sepanjang hari tanpa peduli. Para pelaku industri yang melakukan pencurian listrik juga dapat menyalakan alat-alat elektronik secara sembarangan tanpa perlu memikirkan berapa energi listrik yang telah terpakai. Program penghematan (konservasi) energi yang digalakkan oleh pemerintah pun tampaknya tiada berarti jika masih marak pencurian listrik.

Terkait haramnya pencurian listrik, ini berlaku pula untuk kita yang meng-loss-kan listrik untuk acara-acara keluarga. Saat saya dan istri dahulu akan menikah, kami ditawari pemakaian listrik unlimited untuk acara resepsi oleh suatu oknum, sehingga kami tak perlu memikirkan daya mati dan tagihan yang membengkak. Waktu itu, cukup membayar sebesar dua ratus lima puluh ribu saja ke oknum tersebut untuk listrik yang loss tadi. Beruntung saat itu kami masih memiliki kelebihan dana untuk menyewa genset sehingga tak harus ‘mengakali’ listrik seperti itu.

Kata oknum tersebut, hal ini biasa dilakukan bila ada yang mengadakan hajatan. Hal yang sudah biasa, walaupun pada hakikatnya termasuk pencurian. Apakah ada yang pernah meng-loss-kan listrik seperti itu? Semoga yang bujang nantinya menikah tak melakukan hal tersebut agar pernikahannya berkah. Sementara bagi yang menikah dengan meng-loss-kan listrik, mari bertaubat dengan tak mengulangi lagi dan ditambah dengan tidak memboroskan listrik.

Tabik.

Refrensi:

  1. http://nasional.kompas.com/read/2016/05/31/13020131/mui.resmi.keluarkan.fatwa.haram.pencurian.listrik
  2. https://finance.detik.com/energi/3203857/ini-4-modus-pencurian-listrik-yang-bikin-pln-rugi
  3. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt57e52d74742e7/jerat-pidana-bagi-pencuri-listrik

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Dukungan Pajak Terhadap Energi Terbarukan

 

Semakin lama kebutuhan akan energi terus mengalami peningkatan. Hanya saja selama ini Indonesia lebih banyak mengandalkan energi yang bersumber dari fosil untuk menopang berbagai aktivitas kehidupan, seperti minyak dan batu bara. Akibatnya, cadangan energi fosil yang notabene tidak dapat diperbarui semakin lama semakin berkurang.

Padahal, Indonesia sebenarnya memiliki cadangan energi lain yang cukup besar, yakni potensi energi terbarukan yaitu tenaga air sebesar 75 GW, panas bumi sebesar 27 GW, biomassa sebesar 50 GW, mini/mikrohidro sebesar 500 MW, serta tenaga surya dan angin.

Namun pemanfaatannya dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional masih relatif rendah. Pada tahun 2008, tercatat pemanfaatan energi air lebih kurang  4300 MW (hidro skala kecil dan besar), panas bumi sebesar 1189 MW, biomassa 445 MW, tenaga surya sebesar 14,1 MW, dan tenaga angin sebesar 1,4 MW. Secara total pemanfaatan energi terbarukan tersebut baru memenuhi 5% dari pangsa energi primer di Indonesia.

Jika penerapan energi terbarukan dapat dimaksimalkan penggunaannya, Indonesia bisa menghemat energi cukup besar dan mengurangi polusi seperti yang sudah berhasil efektif dilakukan oleh Brazil, Belanda, dan Jerman.

Untuk itu, pemerintah dalam hal memberikan stimulus perkembangan energi terbarukan di Indonesia, memberikan berbagai dukungan baik segi regulasi, sosialisasi, dan sebagainya. Dari berbagai bentuk dukungan tersebut, saya sebagai pegawai pajak tentunya akan menyoroti dukungan dalam bentuk regulasi pemberian fasilitas perpajakan dan bea masuk untuk energi terbarukan.

solar-panel-installation-e1372104921792
Sumber: Google Images

Pemberian fasilitas ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.011/2010 tanggal 28 Januari 2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan.

Apa saja pemberian fasilitasnya?

Dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan tersebut, ada empat bentuk fasilitas yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut, yaitu:

(1) Fasilitas Pajak Penghasilan;

(2) Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai;

(3) Fasilitas Bea Masuk; dan

(4) Fasilitas Pajak Ditanggung Pemerintah.

Untuk Pajak Penghasilan, fasilitas masih tetap berpedoman kepada ketentuan yang diatur dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008.

Fasilitas-fasilitas tersebut meliputi: (a) pengurangan penghasilan netto sebesar 30% dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6 tahun masing-masing 5% setahun; (b) penyusutan dan amortisasi dipercepat; (c) Pengenaan PPh Pasal 26 atas dividen sebesar 10% atau tarif yang lebih rendah menurut P3B; dan (d) tambahan kompensasi kerugian maksimal 5 tahun.

Apabila pengusaha di bidang pemanfaatan sumber energi terbarukan melakukan impor barang berupa mesin dan peralatan, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang, maka atas impor tersebut dikecualikan dari pungutan PPh Pasal 22 Impor. Menteri Keuangan memang memiliki kewenangan untuk memberikan fasilitas ini atas dasar Pasal 22 Undang-Undang PPh.

Untuk Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai, pengusaha yang mengimpor barang seperti di atas juga dibebaskan dari pengenaan PPN impor. Berdasarkan Pasal 5 peraturan ini, tata cara pembebasan dari pengenaan PPN disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PP Nomor 31 Tahun 2007. Walau PP Nomor 12 Tahun 2001 telah diganti dengan PP 81 Tahun 2015, fasilitas pajaknya disesuaikan dengan PP penggantinya.

Selain itu, dalam Pasal 6 diatur mengenai fasilitas kepabeanan berupa Pembebasan Bea Masuk sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang dan Bahan untuk Pembangunan atau Pengembangan Industri Dalam Rangka Penanaman Modal, beserta perubahannya. Di samping itu, pembebasan bea msuk juga diberikan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.011/2008 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Modal Dalam Rangka Pembangunan dan Pengembangan Industri Pembangkit Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum, beserta perubahannya.

Fasilitas terakhir yang diberikan adalah Fasilitas Pajak Ditanggung Pemerintah. Misalnya atas impor barang tertentu yang tidak dimungkinkan untuk diberikan fasilitas berdasarkan UU Perpajakan, maka atas impor tersebut tetap dipungut pajak, tetapi beban pajak akan menjadi tanggungan pemerintah. Pemerintah membayari beban pengusaha dengan menggunakan anggaran yang ditetapkan dalam APBN. Namun, untuk pembayaran ini tergantung pada pagu anggaran hasil pembahasan APBN di DPR.

For an Active Lifestyle

Lalu apa lagi?

Selain fasilitas-fasilitas yang telah exist di PMK tersebut, dilansir dari antaranews.com (5/6/2017), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini menggodok peraturan menteri (permen) terkait pemberian insentif untuk investor Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) termasuk membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) eksploitasi dan eksplorasi.

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, mengatakan pihaknya saat ini menanti satu Peraturan Menteri (Permen) lagi untuk sampai tahap finalisasi.

Rida mengatakan yang dilelang nantinya bukanlah harga, melainkan program kerja dan komitmen investor, sebab harga jual listriknya sudah ada ketentuan.

Untuk insentif fiskal, beberapa hal ditawarkan pemerintah, antara lain pembebasan bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor, tax allowance untuk pajak penghasilan (PPh) 30% selama enam tahun dari biaya investasi.

Selanjutnya adalah loss carry forward hingga 10 tahun, depresiasi yang dipersingkat, dan pengurangan pajak atas dividen. Hingga akhirnya bebas PPN untuk eksploitasi dan eksplorasi.

Faktor pendukung pemerintah lainnya juga termasuk regulasi yang memberikan kepastian usaha hulu dan hilir, serta memberikan kesempatan kepada badan usaha untuk berpartisipasi dari awal pengembangan panas bumi melalui penugasan survei pendahuluan plus eksplorasi.

Kapasitas terpasang energi panas bumi saat ini di Indonesia baru sebesar 1.698,5 MW. Untuk mengejar target capaian panas bumi sesuai KEN sebesar 7.200 MW pada 2025, sehingga masih perlu tambahan kapasitas sekitar 5.500 MW lagi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintah tentunya tidak bisa sendirian berjuang mengembangkan energi terbarukan ini. Perlu dukungan berbagai pihak. Salah satunya peran dari masyarakat, termasuk kita-kita.

Dengan apa? Tentu saja himbauan dari saya selaku pegawai pajak selalu adalah dengan kita membayar dan melaporkan pajak dengan benar. Agar nantinya uang pajak yang kita bayarkan bisa untuk membiayai pembangunan negeri ini, termasuk membiayai pembangunan dan pengembangan pembangkit-pembangkit listrik energi terbarukan.

Tabik.

 

Refrensi:

1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.011/2010 tanggal 28 Januari 2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan

2. https://prezi.com/yfatjemkazrs/pemberian-fasilitas-perpajakan-dan-kepabeanan-untuk-kegiatan-pemanfaatan-sumber-energi-terbarukan/

3. https://inwdahsyat.wordpress.com/2010/01/29/pemberian-fasilitas-perpajakan-untuk-pemanfaatan-sumber-energi-terbarukan/

4. http://www.antaranews.com/berita/633262/insentif-untuk-investor-pembangkit-panas-bumi-termasuk-bebas-ppn

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

Mereka yang Bertaruh Nyawa untuk Listrik yang Kita Boroskan

Apa yang kita lakukan ketika listrik rumah kita mati? Biasanya kita akan langsung menyalahkan PLN bahkan dengan sumpah serapah akibat ruangan yang terasa panas karena AC rumah yang mati. Belum lagi jika ada besok kita ada ujian tapi tidak bisa belajar akibat lampu yang tak kunjung menyala, barang tentu kita ingin datang ke kantor PLN dan memarahi setiap pegawai yang ada di sana. Mungkin minimal menelepon call center-nya dan memaki petugas penerima teleponnya.

Sah-sah saja ketika kita kesal jika listrik mati. Kita telah membayar mahal biaya listrik tiap bulannya. Kita juga telah membayar pajak yang kemudian sebagian uangnya digunakan untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik. Kita adalah rakyat yang seharusnya dijamin ketersediaan pasokan energi listriknya oleh pemerintah melalui BUMN-nya yang bergerak di bidang perlistrikan.

Kita memang selalu berhak berkeluh kesah jika listrik mati.

Namun, pernahkah terpikir oleh kita tentang pentingnya listrik di saat semua baik-baik saja? Di saat kita masih bisa membiarkan lampu terus menyala walau tidak ada orang di ruangan. Atau saat kita masih bisa membiarkan televisi terus siaran walau ditinggal tidur. Juga saat kita masih bisa membiarkan charger Handphone terus nyolok walau tidak dipakai untuk mengisi daya baterai.

Saya juga dulu tak pernah memikirkan pentingnya listrik jika semua masih menyala dengan baik-baik saja. Listrik di benak saya dan juga mungkin sebagian besar kita hanyalah soal pembangkit-pembangkit listrik yang menghasilkan listrik begitu banyak dan kemudian di alirkan ke rumah-rumah. Dan bagi kita, tak peduli bagaimana prosesnya, PLN-lah yang bertugas menjaga semua pasokan tetap aman dan stabil. Tanpa ada mati sedikit pun. Jika listrik mati. Kita cukup tahu jika PLN tidak becus bekerja. Hanya sesederhana itu.

Namun ternyata terkadang beberapa hal tak sesederhana yang dipikirkan. Pandangan saya mulai berubah ketika akhirnya jodoh saya, yakni istri sekarang bekerja di PLN.

Istri saya sedikit banyak bercerita tentang core business perusahaan tempatnya bekerja, tentang bagaimana listrik dihasilkan, listrik dialirkan ke rumah-rumah, dan cerita rekan-rekan kerjanya yang berusaha menjaga pasokan listrik kita agar tetap menyala. Saya mungkin tidak terlalu mengerti dan tertarik cerita tentang bagaimana listrik dihasilkan dan dialirkan. Namun tentang orang-orang yang bekerja di balik listrik cukup menarik untuk didengarkan.

Orang-orang yang merelakan waktunya bergantian menjaga pasokan listrik tetap aman bahkan sampai waktu lebarannya tetap bersiaga. Menjaga kenyamanan lebaran kita bersama keluarga dan sanak-saudara serta tetangga.

Orang-orang yang tidak hanya mengorbankan waktu saja, namun juga mempertaruhkan nyawa.

Ya. Mempertaruhkan nyawa.

Mereka yang harus memperbaiki sambungan-sambungan listrik dengan risiko kecelakaan kerja berupa tersengat listrik bertegangan tinggi. Menaiki menara-menara dan tiang-tiang listrik yang tinggi dengan peluang jatuh kapan saja. Atau melewati pedalaman demi menyambungkan listrik ke seluruh negeri.

Seorang rekan istri saya yang baru saja diangkat menjadi pegawai beberapa minggu, harus dilarikan ke rumah sakit akibat tersengat listrik bertegangan tinggi saat pemeliharan instalasi. Lelaki muda yang baik itu pun wafat setelah berhari-hari menderita luka bakar di sekujur tubuhnya. Pahlawan-pahlawan dalam sunyi.

CTbnJcNUAAAOHCe

PLN Nyawa750xauto-perjuangan-petugas-pln-benahi-jaringan-listrik-bertaruh-nyawa-160404v

Dan kita pun tak peduli. Hari-hari kita adalah menikmati kenyamanan listrik begitu saja. Bagi kita, selama kita mampu membayar tagihan listrik tiap bulannya. Selama itu pula kita bisa seenaknya memakai listrik bahkan sampai ke hal-hal yang tak perlu.

Kita tak peduli seberapa banyak energi yang terbuang percuma. Seberapa banyak tenaga manusia yang bertaruh nyawa atas listrik itu.

Padahal sesungguhnya masih banyak yang membutuhkan energi-energi yang terbuang tadi. Misalnya saja kita yang terbiasa tidak mencabut kabel charger walau tidak sedang dipakai untuk mengisi daya handphone. Konon jika setiap orang di Jabodetabek tidak mencabut charger handphone-nya, daya yang terbuang tersebut dapat menerangi satu kabupaten di daerah Papua sana.

Maka dari itu, penting sekali dari kita untuk melakukan penghematan (konservasi) energi, karena selain menghargai pengorbanan orang-orang yang menjaga listrik, kita juga mengalihkan energi listrik yang terbuang tadi ke daerah-daerah lain yang masih kekurangan listrik, serta kita juga turut menjaga Bumi dari kerusakan akibat limbah pembangkit-pembangkit yang memakai energi fosil, seperti limbah batu-bara.

Untuk itu, ada sebaiknya kita melakukan hal-hal ini agar tidak terlalu memboroskan energi listrik:

1. Nyalakan Alat yang Menggunakan Listrik Seperlunya Saja

Jangan menyalakan alat-alat yang menggunakan listrik jika tidak digunakan. Misalnya, televisi dinyalakan begitu saja sembari melakukan aktivitas yang lain seperti menelepon atau mengobrol. Tanpa disadari, televisi yang terus menyala ini akan membuat pemakaian listrik Anda menjadi cukup besar.

2. Cabut Kabel dan Peralatan yang Tidak Digunakan Dari Saklar

Tahukah jika memiliki kebiasaan membiarkan charger masih tercolok pada saklar meskipun tidak sedang digunakan arus listrik akan tetap mengalir pada perangkat yang masih terhubung pada saklar, meskipun peralatannya dalam keadaan mati. Akibatnya, listrik akan terbuang sia-sia. Sebaiknya, cabut kabel dan peralatan dari saklar jika tidak digunakan.

3. Matikan Lampu di Jam Tertentu 
Kebiasaan menggunakan lampu pada siang hari merupakan suatu pemborosan. Pasalnya, kita dapat mengandalkan sinar matahari sebagai sumber penerangan di siang hari. Oleh karena itu, nyalakan lampu hanya pada malam hari saja.

4. Gunakan AC Seperlunya

Penggunaan AC secara tepat tentu dapat menghemat daya listrik. Misalnya, kecilkan suhu AC jika di dalam ruangan hanya ada 1-3 orang.  Matikan AC jika sudah tidak digunakan. Gunakan timer agar AC mati secara otomatis saat suhu di dalam ruangan sudah cukup sejuk.

5. Pakai Setrika dengan Pengatur Panas Otomatis

Setrika adalah salah satu peralatan elektronik dalam rumah tangga yang ukurannya sangat kecil. Namun, siapa sangka jika setrika ini membutuhkan daya listrik yang besar, bahkan lebih besar dari televisi dan peralatan elektronik yang lainnya. Nah, salah satu cara menghemat listrik selanjutnya adalah dengan menggunakan setrika yang memiliki pengatur panas otomatis. Setrika jenis ini akan mati dengan sendirinya jika suhu panasnya sudah cukup tinggi. Selain itu, sesuaikan juga panas yang digunakan dengan bahan pakaian yang Anda setrika.

6. Pilih Mesin Cuci Sesuai dengan Kebutuhan

Hindari memilih mesin cuci dengan kapasitas yang terlalu besar, karena semakin besar kapasitas mesin cuci maka semakin besar pula daya listrik yang dibutuhkan. Sesuaikan kapasitas mesin cuci dengan jumlah pakaian sehari-hari.

7. Matikan alat-alat elektronik sebelum tidur

Sebelum tidur, sebaiknya kita mematikan lampu, selain menghemat listrik, ini juga baik untuk kesehatan. Televisi dan Handphone juga sebelum tidur sebaiknya dimatikan.

Memang hal-hal di atas tersebut terkadang sepele dan terlupa untuk dilakukan. Namun, masihkah kita tidak malu pada orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk listrik yang bisa kita nikmati, atau tidakkah kita malu membiarkan saudara-saudara di daerah-daerah kekurangan listrik masih hidup dalam temaram. Ayo berubah!

Refrensi:

  1. https://finance.detik.com/energi/d-3170108/pln-masyarakat-belum-peduli-cabut-kabel-tv-dan-charger-hp
  2. https://bacaterus.com/cara-menghemat-listrik/

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id