Tumbuh-tumbuhan yang Menjadi Minyak Solar

Konon, kebutuhan konsumsi solar di Indonesia setiap tahun terus bertumbuh seiring meningkatnya jumlah penduduk dan perekonomian. Tahun 2016 yang lalu saja konsumsi solar diperkirakan sekitar 37 juta kilo liter, dimana terdapat sekitar 50 persen solar bersubsidi dan 50 persen sisanya solar untuk industri. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, sekitar 50 persen dipenuhi dari produksi domestic dan 50 persen dari impor. Kurang lebih 20 miliar dollar Amerika Serikat setiap tahun dihabiskan untuk mengimpor solar tersebut. Selain itu, akibat konsumsi solar tersebut terdapat kurang lebih 150 juta ton emisi karbon yang terbang mengotori udara bumi Indonesia setiap tahun.

Untuk mengurangi dampak emisi karbon dan menghemat devisa negara, pemerintah mengeluarkan kebijakan mandatori biosolar dengan mewajibkan adanya pencampuran biosolar dalam konsumsi solar dengan target 20 persen. Artinya setiap 10 liter biosolar yang kita isi di SPBU mengandung 2 liter biosolar dan 8 liter solar.

Photo illustration of a fuel nozzle from a bio diesel fuel pump at a filling station in San Diego
Gambar dari sini

Bahan Pembuatan Solar dan Bio Solar

Kita mungkin sering membeli biosolar di SPBU-SPBU untuk mobil bermesin diesel kita. Walau tidak sepenuhnya biosolar yang kita beli seratus persen mengandung biosolar, namun pernahkah kita berpikir berasal dari apakah biosolar itu?

Tentu saja biosolar terbuat dari minyak alami (bahan bakar nabati) bukan minyak bumi seperti minyak solar biasanya.

Biosolar ini sebenarnya terbuat dari berbagai macam minyak yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, bukan dari energi fosil, sehingga tingkat pencemaran atau zat polutannya pun lebih rendah dan cepat terurai di udara.

Biosolar dibuat dari gabungan minyak nabati yang di kombinasikan dengan solar. Pertama harus diolah dulu gabungan minyak nabati yang berasal dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang kemudian diolah dalam proses transesterifikasi.

Proses ini diperlukan untuk menyuling minyak tersebut supaya dapat diperoleh hasil metil ester atau asam lemak murni (FAME) yang nantinya akan dicampurkan kedalam senyawa solar untuk bisa diproduksi sebagai biosolar.

Manfaat-manfaat biosolar:

  • Mengurangi pencemaran hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida, sulfur dan hujan asam.
  • Bahan dasar nya adalah minyak goring bekas, dengan adanya pembuatan biosolar ini dapat menggurangi beban lingkungan karena sampah/limbah.
  • Tidak menambah jumlah gas karbon dioksida, karena minyak berasal dari tumbuhan/nabati.
  • Energi yang dihasilkan mesin diesel lebih sempurna dibandingkan solar hingga yang menggunakan biosolar tidak mengeluarkan asap hitam berupa karbon atau CO2, sedangkan mesin yang menggunakan solar mengeluarkan asap hitam. Biosolar mengeluarkan aroma khas seperti minyak bekas menggoreng makanan.
  • Limbah dari biosolar ini merupakan Glyserin. Glyserin ini merupakan bahan dasar pembuatan sabun, sehingga ramah lingkungan dan mengurangi polusi. Limbahnya pun bisa menjadi berguna.

Maka biosolar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan minyak fosil biasa. Namun, tumbuhan apa saja yang bisa menjadi biosolar?

Berikut adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa menjadi bahan baku biosolar yang sudah umum digunakan:

  1. Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan bahan biosolar yang paling unggul. CPO yang berasal dari kelapa sawit merupakan sumber bahan baku biodiesel yang sudah tersedia, meskipun saat ini CPO tersebut lebih banyak diperuntukkan untuk keperluan non energi seperti minyak goreng dan sabun, namun juga tidak sedikit jumlahnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.

Produksi minyak kelapa sawit sangat besar di Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua setelah Malaysia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar dunia. Luas perkebunan dan produksi selalu meningkat dari tahun ketahun. Kelapa sawit memiliki prospek ekonomi yang sangat baik. Dengan  berjalannya industri kelapa sawit maka roda perekonomian Indonesia dapat  bergerak lebih cepat. Selain itu industri kelapa sawit juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Jumlah yang besar ini membuat biodiesel berbahan baku kelapa sawit cukup potensila untuk digunakan dan dikembangkan.

  1. Tanaman Jarak

Tanaman Jarak Pagar merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Sumber energi yang dihasilkan dari tanaman ini berupa biodiesel yang berguna untuk menggantikan fungsi solar pada mesin diesel. Paat ini pemerintah tengah mencanangkan program penggunaan minyak Jarak Pagar sebagai pengganti minyak solar secara nasional.

Minyak yang dihasilkan dari Biji Jarak Pagar termasuk dalam minyak lemak (fatty oil). Minyak ini berupaerning berwarna kuning dan tidak menjadi keruh meski disimpan dalam waktu yang cukup lama. Minyak Jarak Pagar bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Pertama melalui thermal atau catalytic cracking akan dihasilkan gas, gasoline, kerosin, dan diesel yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Kedua, melalui esterifikasi transesterifikasi akan dihasilkan produk berupa biosolar yang diugnakan untuk pembangkit genset, kendaraan diesel, dan kompor jarak pagar. (Ningrum:2015)

  1. Biji Alpukat

Salah satu sumber bahan baku biodiesel adalah buah alpukat. Bagian dari buah alpukat yang dapat digunakan sebagai biodiesel adalah bijinya, melalui esterifikasi dan/transesterifikasi dengan alkohol serta bantuan katalis. Untuk mengetahui kelayakan minyak biji alpukat sebagai bahan baku biodiesel, maka perlu dilakukan beberapa pengujian untuk mengetahui angka asam, asam lemak bebas, densitas minyak, viskositas, dan yield.

Salah satu alasan mengapa menggunakan biji alpukat dibandingkan dengan tanaman lainnya dikarenakan buah alpukat banyak terdapat di lingkungan masyarakat yang bijinya belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, yang paling penting yaitu kandungan minyak biji alpukat lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman-tanaman seperti kedelai, jarak, biji bunga matahari, dan kacang tanah. Pemilihan biji alpukat sebagai salah satu sumber minyak nabati karena kandungan minyaknya relatif tinggi dibandingkan tanaman lain yaitu sekitar 2638 liter/ha dalam 2217 kg/ha. Sedangkan tanaman seperti jarak adalah 1892 liter/ha dalam 1590 kg/ha dan bunga matahari 925 liter/ha dalam 800 kg/ha. Selain itu, bahan bakar ini lebih ekonomis dan ramah lingkungan karena kadar belerang dalam minyak tersebut kurang dari 15 ppm, sehingga pembakaran berlangsung sempurna dengan dampak emisi CO, CO2 serta polusi udara yang rendah (Sofia 2006).

Selain ketiga tumbuh-tumbuhan tersebut, masih banyak bahan baku biosolar lainnya, bisa berasal dari biji kemiri, biji pepaya, minyak hewan, dan minyak goreng bekas. Bisa juga mungkin beberapa tahun kemudian akan ditemukan sumber-sumber biosolar lainnya.

 

Refrensi:

1. Adhi, Wibisono. 2013. Industri Minyak Sawit Dan Biodiesel Sebagai Upaya Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil, Institut Pertanian Bogor.

2. Ningrum et al, 2015. Biodiesel. Universitas Negeri Malang.

3. https://gapki.id/perluas-mandatori-biodiesel-hemat-devisa-dan-emisi/#more-1742

4. https://id.wikipedia.org/wiki/Biodiesel

5. http://lanjar14.blogspot.co.id/2015/06/artikel-tentang-inovasi-pemanfaatan.html

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Mencuri Listrik itu Dosa Kawan

Electricity TowersSebagai pegawai pajak yang beristrikan pegawai listrik, tentu pembicaraan kami sehari-hari tidak jauh dari seputar pajak dan listrik. Walau kedua hal ini seringkali tidak nyambung-nyambung amat, namun ada beberapa hal yang menurut kami terkadang memiliki kesamaan. Salah satunya, sama-sama sering digelapkan dan terkadang hal tersebut dianggap biasa oleh sebagian besar kita.

Teman saya yang punya usaha tempat makan berupa kafe kecil-kecilan menganggap ia tak perlu membayar dan melaporkan pajaknya karena menurutnya pajak yang akan ia setor tidaklah terlalu banyak jumlahnya dan tak material bagi negara. Padahal ini termasuk penggelapan pajak walau skala kecil-kecilan. Hal ini pula juga terjadi pada kasus listrik. Berapa banyak pedagang kaki lima, seperti tukang martabak, mie ayam, bakso, dan sebagainya yang menerangi tempat usahanya memakai listrik yang disambungkan dengan kabel-kabel ilegal (nyuntik) ke sambungan PLN. Kebanyakan pedagang ini menganggap penyambungan ilegal ini tidak akan berarti banyak karena hanya mengambil “sedikit” listrik untuk sekedar membuat bohlam lampu mereka agar menyala. Padahal hal ini juga tergolong pencurian listrik.

Bayangkan jika ada jutaan usahawan seperti teman saya yang mangkir dari kewajiban perpajakannya, berapa banyak pajak yang loss dari kas negara. Bayangkan juga para pedagang kaki lima di Indonesia yang rata-rata kebanyakan listriknya ilegal, berapa banyak kerugian negara di bidang energi kelistrikan. Dua hal yang sama-sama dianggap biasa dan remeh oleh sebagian besar kita namun sesungguhnya jika dilakukan secara masif memiliki dampak yang luar biasa.

Namun, karena judul tulisan ini mengenai energi listrik, sementara marilah kita fokus pada penggelapan atau pencurian listrik. Pencurian yang selain dilakukan pedagang kaki lima juga dilakukan oleh beberapa pelanggan listrik di perumahan bahkan pelaku industri untuk menghemat tagihan listrik dengan cara-cara ilegal.

Seperti apa pencurian listrik?

Ada beberapa hal yang sering menjadi modus pencurian listrik yang sering terjadi:

Pertama adalah mengganti Miniature Circuit Breaker (MCB) meteran listrik sehingga daya listrik yang digunakan lebih tinggi dari yang seharusnya. Misalnya, pelanggan listrik rumah tangga 450 VA mengganti sendiri MCB meterannya sehingga daya listriknya menjadi naik hingga 1.300 VA.

Modus pencurian listrik kedua adalah dengan mengakali kWh meter (meteran listrik) dengan menurunkan kawat jumper antara terminal 1 dan 3 sehingga pemakaian listrik yang tercatat di meteran menjadi lebih sedikit dibanding pemakaian sebenarnya.

Ketiga adalah gabungan antara pelanggaran jenis pertama dan kedua, yaitu mengubah daya listrik sekaligus mengakali meteran.

Keempat, dilakukan oleh pedagang-pedagang kaki lima dan warung-warung tenda di pinggir jalan, yaitu dengan membuat sambungan listrik dari penerangan jalan umum.

Akibat pencurian listrik ini, seperti dilansir oleh Detik.com, negara dalam hal ini PLN diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun setiap tahun. Tentunya jika tak ada pencurian tersebut, negara dapat berhemat dan uang sebesar itu juga dapat digunakan untuk berbagai pengembangan listrik di daerah-daerah lain yang masih kekurangan.

Pencurian listrik, sama halnya dengan pencurian lainnya adalah perbuatan tercela dan melawan hukum yang tentunya dapat dipidana. Pencurian listrik selain dapat dikenakan Pasal 362 KUHP yang berisi ancaman perbuatan pencurian, secara khusus juga diatur dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan Pasal 51 ayat (3) yakni: “Setiap orang yang menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)”

Selain perbuatan pidana, pencurian listrik bisa digolongkan sebagai perbuatan dosa lho!

Hal ini dikuatkan dengan fatwa MUI nomor 17 Tahun 2016 tentang Pencurian Energi Listrik. Menurut MUI, fatwa ini dikeluarkan sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa pencurian listrik merupakan perbuatan yang dilarang agama. Bahkan fatwa ini juga melarang pencurian listrik untuk musholah, apalagi untuk yang lainnya. Walau kemudian fatwa ini juga dibarengi imbauan agar PLN memperbaiki pelayanan listriknya.

Kenapa MUI sampai perlu mengeluarkan fatwa demikian? Karena mudharat pencurian listrik ini sangat besar. Selain kerugian negar, akibat pencurian listrik yang tidak memakai keamanan sambungan, dapat menyebabkan hubungan arus pendek yang dapat menyebabkan kebakaran.

Pencurian listrik juga bisa membuat kapasitas tenaganya di gardu menjadi overload berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan listrik padam, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Belum lagi pemborosan energi yang pasti terjadi. Listrik yang tak perlu dibayar tentunya menyebabkan para pencuri listrik ini tak perlu terlalu berhemat energi, karena tak ada tagihan atas listrik yang dipakai. Para pedagang kaki lima bisa memakai lampu penerangan yang boros energi atau penjual kaset di pinggir jalan bisa menyalakan listrik sepanjang hari tanpa peduli. Para pelaku industri yang melakukan pencurian listrik juga dapat menyalakan alat-alat elektronik secara sembarangan tanpa perlu memikirkan berapa energi listrik yang telah terpakai. Program penghematan (konservasi) energi yang digalakkan oleh pemerintah pun tampaknya tiada berarti jika masih marak pencurian listrik.

Terkait haramnya pencurian listrik, ini berlaku pula untuk kita yang meng-loss-kan listrik untuk acara-acara keluarga. Saat saya dan istri dahulu akan menikah, kami ditawari pemakaian listrik unlimited untuk acara resepsi oleh suatu oknum, sehingga kami tak perlu memikirkan daya mati dan tagihan yang membengkak. Waktu itu, cukup membayar sebesar dua ratus lima puluh ribu saja ke oknum tersebut untuk listrik yang loss tadi. Beruntung saat itu kami masih memiliki kelebihan dana untuk menyewa genset sehingga tak harus ‘mengakali’ listrik seperti itu.

Kata oknum tersebut, hal ini biasa dilakukan bila ada yang mengadakan hajatan. Hal yang sudah biasa, walaupun pada hakikatnya termasuk pencurian. Apakah ada yang pernah meng-loss-kan listrik seperti itu? Semoga yang bujang nantinya menikah tak melakukan hal tersebut agar pernikahannya berkah. Sementara bagi yang menikah dengan meng-loss-kan listrik, mari bertaubat dengan tak mengulangi lagi dan ditambah dengan tidak memboroskan listrik.

Tabik.

Refrensi:

  1. http://nasional.kompas.com/read/2016/05/31/13020131/mui.resmi.keluarkan.fatwa.haram.pencurian.listrik
  2. https://finance.detik.com/energi/3203857/ini-4-modus-pencurian-listrik-yang-bikin-pln-rugi
  3. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt57e52d74742e7/jerat-pidana-bagi-pencuri-listrik

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Dukungan Pajak Terhadap Energi Terbarukan

 

Semakin lama kebutuhan akan energi terus mengalami peningkatan. Hanya saja selama ini Indonesia lebih banyak mengandalkan energi yang bersumber dari fosil untuk menopang berbagai aktivitas kehidupan, seperti minyak dan batu bara. Akibatnya, cadangan energi fosil yang notabene tidak dapat diperbarui semakin lama semakin berkurang.

Padahal, Indonesia sebenarnya memiliki cadangan energi lain yang cukup besar, yakni potensi energi terbarukan yaitu tenaga air sebesar 75 GW, panas bumi sebesar 27 GW, biomassa sebesar 50 GW, mini/mikrohidro sebesar 500 MW, serta tenaga surya dan angin.

Namun pemanfaatannya dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional masih relatif rendah. Pada tahun 2008, tercatat pemanfaatan energi air lebih kurang  4300 MW (hidro skala kecil dan besar), panas bumi sebesar 1189 MW, biomassa 445 MW, tenaga surya sebesar 14,1 MW, dan tenaga angin sebesar 1,4 MW. Secara total pemanfaatan energi terbarukan tersebut baru memenuhi 5% dari pangsa energi primer di Indonesia.

Jika penerapan energi terbarukan dapat dimaksimalkan penggunaannya, Indonesia bisa menghemat energi cukup besar dan mengurangi polusi seperti yang sudah berhasil efektif dilakukan oleh Brazil, Belanda, dan Jerman.

Untuk itu, pemerintah dalam hal memberikan stimulus perkembangan energi terbarukan di Indonesia, memberikan berbagai dukungan baik segi regulasi, sosialisasi, dan sebagainya. Dari berbagai bentuk dukungan tersebut, saya sebagai pegawai pajak tentunya akan menyoroti dukungan dalam bentuk regulasi pemberian fasilitas perpajakan dan bea masuk untuk energi terbarukan.

solar-panel-installation-e1372104921792
Sumber: Google Images

Pemberian fasilitas ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.011/2010 tanggal 28 Januari 2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan.

Apa saja pemberian fasilitasnya?

Dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan tersebut, ada empat bentuk fasilitas yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut, yaitu:

(1) Fasilitas Pajak Penghasilan;

(2) Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai;

(3) Fasilitas Bea Masuk; dan

(4) Fasilitas Pajak Ditanggung Pemerintah.

Untuk Pajak Penghasilan, fasilitas masih tetap berpedoman kepada ketentuan yang diatur dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008.

Fasilitas-fasilitas tersebut meliputi: (a) pengurangan penghasilan netto sebesar 30% dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6 tahun masing-masing 5% setahun; (b) penyusutan dan amortisasi dipercepat; (c) Pengenaan PPh Pasal 26 atas dividen sebesar 10% atau tarif yang lebih rendah menurut P3B; dan (d) tambahan kompensasi kerugian maksimal 5 tahun.

Apabila pengusaha di bidang pemanfaatan sumber energi terbarukan melakukan impor barang berupa mesin dan peralatan, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang, maka atas impor tersebut dikecualikan dari pungutan PPh Pasal 22 Impor. Menteri Keuangan memang memiliki kewenangan untuk memberikan fasilitas ini atas dasar Pasal 22 Undang-Undang PPh.

Untuk Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai, pengusaha yang mengimpor barang seperti di atas juga dibebaskan dari pengenaan PPN impor. Berdasarkan Pasal 5 peraturan ini, tata cara pembebasan dari pengenaan PPN disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PP Nomor 31 Tahun 2007. Walau PP Nomor 12 Tahun 2001 telah diganti dengan PP 81 Tahun 2015, fasilitas pajaknya disesuaikan dengan PP penggantinya.

Selain itu, dalam Pasal 6 diatur mengenai fasilitas kepabeanan berupa Pembebasan Bea Masuk sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang dan Bahan untuk Pembangunan atau Pengembangan Industri Dalam Rangka Penanaman Modal, beserta perubahannya. Di samping itu, pembebasan bea msuk juga diberikan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.011/2008 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Modal Dalam Rangka Pembangunan dan Pengembangan Industri Pembangkit Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum, beserta perubahannya.

Fasilitas terakhir yang diberikan adalah Fasilitas Pajak Ditanggung Pemerintah. Misalnya atas impor barang tertentu yang tidak dimungkinkan untuk diberikan fasilitas berdasarkan UU Perpajakan, maka atas impor tersebut tetap dipungut pajak, tetapi beban pajak akan menjadi tanggungan pemerintah. Pemerintah membayari beban pengusaha dengan menggunakan anggaran yang ditetapkan dalam APBN. Namun, untuk pembayaran ini tergantung pada pagu anggaran hasil pembahasan APBN di DPR.

For an Active Lifestyle

Lalu apa lagi?

Selain fasilitas-fasilitas yang telah exist di PMK tersebut, dilansir dari antaranews.com (5/6/2017), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini menggodok peraturan menteri (permen) terkait pemberian insentif untuk investor Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) termasuk membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) eksploitasi dan eksplorasi.

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, mengatakan pihaknya saat ini menanti satu Peraturan Menteri (Permen) lagi untuk sampai tahap finalisasi.

Rida mengatakan yang dilelang nantinya bukanlah harga, melainkan program kerja dan komitmen investor, sebab harga jual listriknya sudah ada ketentuan.

Untuk insentif fiskal, beberapa hal ditawarkan pemerintah, antara lain pembebasan bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor, tax allowance untuk pajak penghasilan (PPh) 30% selama enam tahun dari biaya investasi.

Selanjutnya adalah loss carry forward hingga 10 tahun, depresiasi yang dipersingkat, dan pengurangan pajak atas dividen. Hingga akhirnya bebas PPN untuk eksploitasi dan eksplorasi.

Faktor pendukung pemerintah lainnya juga termasuk regulasi yang memberikan kepastian usaha hulu dan hilir, serta memberikan kesempatan kepada badan usaha untuk berpartisipasi dari awal pengembangan panas bumi melalui penugasan survei pendahuluan plus eksplorasi.

Kapasitas terpasang energi panas bumi saat ini di Indonesia baru sebesar 1.698,5 MW. Untuk mengejar target capaian panas bumi sesuai KEN sebesar 7.200 MW pada 2025, sehingga masih perlu tambahan kapasitas sekitar 5.500 MW lagi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintah tentunya tidak bisa sendirian berjuang mengembangkan energi terbarukan ini. Perlu dukungan berbagai pihak. Salah satunya peran dari masyarakat, termasuk kita-kita.

Dengan apa? Tentu saja himbauan dari saya selaku pegawai pajak selalu adalah dengan kita membayar dan melaporkan pajak dengan benar. Agar nantinya uang pajak yang kita bayarkan bisa untuk membiayai pembangunan negeri ini, termasuk membiayai pembangunan dan pengembangan pembangkit-pembangkit listrik energi terbarukan.

Tabik.

 

Refrensi:

1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.011/2010 tanggal 28 Januari 2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan

2. https://prezi.com/yfatjemkazrs/pemberian-fasilitas-perpajakan-dan-kepabeanan-untuk-kegiatan-pemanfaatan-sumber-energi-terbarukan/

3. https://inwdahsyat.wordpress.com/2010/01/29/pemberian-fasilitas-perpajakan-untuk-pemanfaatan-sumber-energi-terbarukan/

4. http://www.antaranews.com/berita/633262/insentif-untuk-investor-pembangkit-panas-bumi-termasuk-bebas-ppn

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

Mereka yang Bertaruh Nyawa untuk Listrik yang Kita Boroskan

Apa yang kita lakukan ketika listrik rumah kita mati? Biasanya kita akan langsung menyalahkan PLN bahkan dengan sumpah serapah akibat ruangan yang terasa panas karena AC rumah yang mati. Belum lagi jika ada besok kita ada ujian tapi tidak bisa belajar akibat lampu yang tak kunjung menyala, barang tentu kita ingin datang ke kantor PLN dan memarahi setiap pegawai yang ada di sana. Mungkin minimal menelepon call center-nya dan memaki petugas penerima teleponnya.

Sah-sah saja ketika kita kesal jika listrik mati. Kita telah membayar mahal biaya listrik tiap bulannya. Kita juga telah membayar pajak yang kemudian sebagian uangnya digunakan untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik. Kita adalah rakyat yang seharusnya dijamin ketersediaan pasokan energi listriknya oleh pemerintah melalui BUMN-nya yang bergerak di bidang perlistrikan.

Kita memang selalu berhak berkeluh kesah jika listrik mati.

Namun, pernahkah terpikir oleh kita tentang pentingnya listrik di saat semua baik-baik saja? Di saat kita masih bisa membiarkan lampu terus menyala walau tidak ada orang di ruangan. Atau saat kita masih bisa membiarkan televisi terus siaran walau ditinggal tidur. Juga saat kita masih bisa membiarkan charger Handphone terus nyolok walau tidak dipakai untuk mengisi daya baterai.

Saya juga dulu tak pernah memikirkan pentingnya listrik jika semua masih menyala dengan baik-baik saja. Listrik di benak saya dan juga mungkin sebagian besar kita hanyalah soal pembangkit-pembangkit listrik yang menghasilkan listrik begitu banyak dan kemudian di alirkan ke rumah-rumah. Dan bagi kita, tak peduli bagaimana prosesnya, PLN-lah yang bertugas menjaga semua pasokan tetap aman dan stabil. Tanpa ada mati sedikit pun. Jika listrik mati. Kita cukup tahu jika PLN tidak becus bekerja. Hanya sesederhana itu.

Namun ternyata terkadang beberapa hal tak sesederhana yang dipikirkan. Pandangan saya mulai berubah ketika akhirnya jodoh saya, yakni istri sekarang bekerja di PLN.

Istri saya sedikit banyak bercerita tentang core business perusahaan tempatnya bekerja, tentang bagaimana listrik dihasilkan, listrik dialirkan ke rumah-rumah, dan cerita rekan-rekan kerjanya yang berusaha menjaga pasokan listrik kita agar tetap menyala. Saya mungkin tidak terlalu mengerti dan tertarik cerita tentang bagaimana listrik dihasilkan dan dialirkan. Namun tentang orang-orang yang bekerja di balik listrik cukup menarik untuk didengarkan.

Orang-orang yang merelakan waktunya bergantian menjaga pasokan listrik tetap aman bahkan sampai waktu lebarannya tetap bersiaga. Menjaga kenyamanan lebaran kita bersama keluarga dan sanak-saudara serta tetangga.

Orang-orang yang tidak hanya mengorbankan waktu saja, namun juga mempertaruhkan nyawa.

Ya. Mempertaruhkan nyawa.

Mereka yang harus memperbaiki sambungan-sambungan listrik dengan risiko kecelakaan kerja berupa tersengat listrik bertegangan tinggi. Menaiki menara-menara dan tiang-tiang listrik yang tinggi dengan peluang jatuh kapan saja. Atau melewati pedalaman demi menyambungkan listrik ke seluruh negeri.

Seorang rekan istri saya yang baru saja diangkat menjadi pegawai beberapa minggu, harus dilarikan ke rumah sakit akibat tersengat listrik bertegangan tinggi saat pemeliharan instalasi. Lelaki muda yang baik itu pun wafat setelah berhari-hari menderita luka bakar di sekujur tubuhnya. Pahlawan-pahlawan dalam sunyi.

CTbnJcNUAAAOHCe

PLN Nyawa750xauto-perjuangan-petugas-pln-benahi-jaringan-listrik-bertaruh-nyawa-160404v

Dan kita pun tak peduli. Hari-hari kita adalah menikmati kenyamanan listrik begitu saja. Bagi kita, selama kita mampu membayar tagihan listrik tiap bulannya. Selama itu pula kita bisa seenaknya memakai listrik bahkan sampai ke hal-hal yang tak perlu.

Kita tak peduli seberapa banyak energi yang terbuang percuma. Seberapa banyak tenaga manusia yang bertaruh nyawa atas listrik itu.

Padahal sesungguhnya masih banyak yang membutuhkan energi-energi yang terbuang tadi. Misalnya saja kita yang terbiasa tidak mencabut kabel charger walau tidak sedang dipakai untuk mengisi daya handphone. Konon jika setiap orang di Jabodetabek tidak mencabut charger handphone-nya, daya yang terbuang tersebut dapat menerangi satu kabupaten di daerah Papua sana.

Maka dari itu, penting sekali dari kita untuk melakukan penghematan (konservasi) energi, karena selain menghargai pengorbanan orang-orang yang menjaga listrik, kita juga mengalihkan energi listrik yang terbuang tadi ke daerah-daerah lain yang masih kekurangan listrik, serta kita juga turut menjaga Bumi dari kerusakan akibat limbah pembangkit-pembangkit yang memakai energi fosil, seperti limbah batu-bara.

Untuk itu, ada sebaiknya kita melakukan hal-hal ini agar tidak terlalu memboroskan energi listrik:

1. Nyalakan Alat yang Menggunakan Listrik Seperlunya Saja

Jangan menyalakan alat-alat yang menggunakan listrik jika tidak digunakan. Misalnya, televisi dinyalakan begitu saja sembari melakukan aktivitas yang lain seperti menelepon atau mengobrol. Tanpa disadari, televisi yang terus menyala ini akan membuat pemakaian listrik Anda menjadi cukup besar.

2. Cabut Kabel dan Peralatan yang Tidak Digunakan Dari Saklar

Tahukah jika memiliki kebiasaan membiarkan charger masih tercolok pada saklar meskipun tidak sedang digunakan arus listrik akan tetap mengalir pada perangkat yang masih terhubung pada saklar, meskipun peralatannya dalam keadaan mati. Akibatnya, listrik akan terbuang sia-sia. Sebaiknya, cabut kabel dan peralatan dari saklar jika tidak digunakan.

3. Matikan Lampu di Jam Tertentu 
Kebiasaan menggunakan lampu pada siang hari merupakan suatu pemborosan. Pasalnya, kita dapat mengandalkan sinar matahari sebagai sumber penerangan di siang hari. Oleh karena itu, nyalakan lampu hanya pada malam hari saja.

4. Gunakan AC Seperlunya

Penggunaan AC secara tepat tentu dapat menghemat daya listrik. Misalnya, kecilkan suhu AC jika di dalam ruangan hanya ada 1-3 orang.  Matikan AC jika sudah tidak digunakan. Gunakan timer agar AC mati secara otomatis saat suhu di dalam ruangan sudah cukup sejuk.

5. Pakai Setrika dengan Pengatur Panas Otomatis

Setrika adalah salah satu peralatan elektronik dalam rumah tangga yang ukurannya sangat kecil. Namun, siapa sangka jika setrika ini membutuhkan daya listrik yang besar, bahkan lebih besar dari televisi dan peralatan elektronik yang lainnya. Nah, salah satu cara menghemat listrik selanjutnya adalah dengan menggunakan setrika yang memiliki pengatur panas otomatis. Setrika jenis ini akan mati dengan sendirinya jika suhu panasnya sudah cukup tinggi. Selain itu, sesuaikan juga panas yang digunakan dengan bahan pakaian yang Anda setrika.

6. Pilih Mesin Cuci Sesuai dengan Kebutuhan

Hindari memilih mesin cuci dengan kapasitas yang terlalu besar, karena semakin besar kapasitas mesin cuci maka semakin besar pula daya listrik yang dibutuhkan. Sesuaikan kapasitas mesin cuci dengan jumlah pakaian sehari-hari.

7. Matikan alat-alat elektronik sebelum tidur

Sebelum tidur, sebaiknya kita mematikan lampu, selain menghemat listrik, ini juga baik untuk kesehatan. Televisi dan Handphone juga sebelum tidur sebaiknya dimatikan.

Memang hal-hal di atas tersebut terkadang sepele dan terlupa untuk dilakukan. Namun, masihkah kita tidak malu pada orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk listrik yang bisa kita nikmati, atau tidakkah kita malu membiarkan saudara-saudara di daerah-daerah kekurangan listrik masih hidup dalam temaram. Ayo berubah!

Refrensi:

  1. https://finance.detik.com/energi/d-3170108/pln-masyarakat-belum-peduli-cabut-kabel-tv-dan-charger-hp
  2. https://bacaterus.com/cara-menghemat-listrik/

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

 

 

 

 

Energi Terbarukan untuk Mencegah Kiamat Datang Lebih Awal

Bumi yang berguncang dengan keras. Tanah yang retak kemudian terbelah. Gunung-gunung yang tiba-tiba melentus serentak menyemburkan lahar panas. Gelombang tsunami raksasa dari lautan yang menyapu semua kehidupan. Planet-planet dan bintang-bintang yang saling bertubrukan.

Kurang lebih seperti itulah gambaran akhir zaman yang ada di sebagian besar benak kita. Kiamat yang disebabkan kehancuran total alam secara tiba-tiba namun masif. Gambaran yang sering kita dapatkan di kitab-kitab suci yang juga muncul di film-film hollywood.

Terlepas dari berbagai gambaran kiamat tersebut, faktanya dunia sedang menghitung mundur terhadap kehancuran total alam dalam bentuk Pemanasan Global (Global Warming) berupa meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Suhu rata-rata bumi yang telah meningkat sebesar 0,85 derajat celcius selama seratus tahun terakhir ini menyebabkan perubahan-perubahan alam yang cukup ekstrim seperti mencairnya gunung-gunung es di kutub utara dan selatan, naiknya permukaan laut, kemarau berkepanjangan, badai ekstrim, coral bleaching, banjir besar, wabah penyakit, serta kepunahan berbagai jenis flora dan fauna.

polar-bear-640x480
Sumber: Google images
Enfrenta-Mexico-problema-severo-de-degradacion-de-suelo
Sumber: Google images

Peningkatan suhu ini tidak lain disebabkan efek rumah kaca (green house effect) yang dihasilkan aktivitas penduduk dunia dalam penggunaan energi yang bersumber dari fosil.

Penggunaan energi fosil menyebabkan limbah gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lain di atmosfer dalam jumlah konsentrasi yang terus meningkat melebihi kemampuan tumbuh-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Energi yang masuk ke bumi sebanyak 25% dipantulkan oleh awan dan 45% diserap permukaan bumi. Energi yang diserap ini kemudian dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi sinar infra merah. Namun sebagian besar infra merah yang dipantulkan bumi tertahan CO2 dan gas-gas lainnya di atmosfer, sehingga kembali lagi ke bumi. Selain gas CO2, gas-gas lain yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida, dan nitrogen dioksida, serta beberapa senyawa organic seperti gas metana dan klorofluorokarbo. Gas-gas tersebut yang berperan penting dalam memperangkap suhu di permukaan bumi.

Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca ini, perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Namun tingginya intensitas konsentrasi efek rumah kaca yang berlebih menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi sehingga berlanjut pada yang kita sebut dengan pemanasan global (Global Warming).

Ramalan para ilmuwan, akibat global warming suhu bumi nantinya akan naik sebesar dua derajat celcius pada tahun 2100. Jika hal ini terjadi, permukaan air laut akan naik dan lebih luas merendam daratan. Kota-kota besar yang kita kenal sekarang, Jakarta, New York, Shanghai, dan sebagainya nantinya akan tinggal sejarah, tenggelam oleh air laut.

Bisa jadi kiamat lebih cepat beberapa tahun dari yang seharusnya jika pemanasan global terus dibiarkan. Kita akan mengalami apa yang disebut para ilmuwan sebagai kiamat iklim.

687474703a2f2f692e6b696e6a612d696d672e636f6d2f6761776b65722d6d656469612f696d6167652f75706c6f61642f732d2d315537374243375f2d2d2f6b796675616f6562783779636d686e70753661642e6a7067

 

Energi Terbarukan, solusi pencegehan kiamat iklim.

Maka dari itu, kini berbagai negara mulai memikirkan solusi energi alternatif untuk mengurangi dampak penggunaan energi fosil. Salah satunya dengan mengembangkan pengganti energi fosil, yakni “Energi Terbarukan”.

Energi Terbarukan mulai dikenal pada 1970-an, sebagai upaya untuk mengimbangi penggunaan energi berbahan bakar fosil dan nuklir. Definisi paling umum Energi terbarukan dalah sumber energi yang dapat dengan cepat dipulihkan kembali secara alami, dan prosesnya “berkelanjutan”.

Energi terbarukan disebut berkelanjutan yang artinya senantiasa tersedia dalam waktu yang relatif panjang sehingga tidak perlu khawatir atau antisipasi akan kehabisan sumbernya.

Saat ini, energi terbarukan memenuhi sedikitnya 30% kebutuhan energi dunia. Angka tersebut banyak meningkat dari kisaran 23,7% pada 2015. Pertumbuhan produksi energi ramah lingkungan yang meningkat ini nantinya akan diimbangi dengan kebijakan PBB yang akan melarang pemerintah dan industrI untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu-bara pasca 2020 nanti dan semua pembangkit yang sudah beroperasi harus dipensiunkan.

Lalu apa sajakah energi terbarukan itu?

Berikut adalah sumber-sumber utama energi terbarukan:

  1. Energi Panas Bumi

Energi panas bumi bersumber dari peluruhan radioaktif di pusat Bumi, yang membuat Bumi secara alami panas dari dalam, serta dari panas matahari yang membuat panas permukaan bumi.

  1. Energi surya

Kebanyakan energi terbarui berasal dari “energi surya” . Istilah ini sedikit membingungkan. Namun yang dimaksud di sini adalah energi yang dikumpulkan secara langsung dari cahaya matahari.

Tentu saja matahari tidak memberikan energi yang konstan untuk setiap titik di bumi, sehingga penggunaannya terbatas. Sel surya sering digunakan untuk mengisi daya baterai, di siang hari dan daya dari baterai tersebut digunakan di malam hari ketika cahaya matahari tidak tersedia.

  1. Tenaga Angin

Perbedaan temperatur di dua tempat yang berbeda menghasilkan tekanan udara yang berbeda, sehingga menghasilkan angin. Angin adalah gerakan materi (udara) dan telah diketahui sejak lama mampu menggerakkan turbin. Turbin angin dimanfaatkan untuk menghasilkan energi kinetik maupun energi listrik. Energi yang tersedia dari angin adalah fungsi dari kecepatan angin; ketika kecepatan angin meningkat, maka energi yang dihasilkan juga meningkat hingga ke batas maksimum energi yang mampu dihasilkan oleh turbin tersebut. Wilayah dengan angin yang lebih kuat dan konstan seperti lepas pantai dan dataran tinggi biasanya lebih memungkinkan untuk dibangun tempat “ladang angin”.

  1. Tenaga air

Energi air digunakan karena memiliki massa dan mampu mengalir. Air memiliki massa jenis 800 kali lebih berat dibandingkan udara. Bahkan gerakan air yang lambat mampu diubah ke dalam bentuk energi lain. Turbin air didesain untuk mendapatkan energi dari berbagai jenis reservoir, yang diperhitungkan dari jumlah massa air, ketinggian, hingga kecepatan air.

  1. Biomassa

Tumbuhan biasanya menggunakan fotosintesis untuk menyimpan tenaga surya, udara, dan karbondioksida. Bahan bakar bio (biofuel) adalah bahan bakar yang diperoleh dari biomassa organisme atau produk dari metabolisme hewan, seperti kotoran sapi, kerbau, dan sebagainya. Ini juga merupakan salah satu sumber energi terbarui. Biasanya biomassa dibakar untuk melepas energi kimia yang tersimpan di dalamnya, pengecualian ketika biofuel digunakan untuk bahan bakar fuel cell (misal direct methanol fuel cell dan direct ethanol fuel cell).

Screen Shot 2017-08-17 at 8.34.27 PM

Menjaga Bumi Suatu Keharusan!

Energi-energi terbarukan tersebut bukan hanya karena pasokan energi fosil yang semakin menipis tiap harinya, namun juga menjaga keseimbangan alam karena rata-rata energi terbarukan lebih rendah emisi dibandingkan energi fosil. Dengan energi terbarukan, kita dapat menjaga kelangsungan hidup umat manusia di bumi ini.

Mungkin, sebagai negara berkembang, Indonesia tidak semasif negara maju dalam penggunaan energi terbarukan. Indonesia masih banyak menggunakan energi fosil seperti minyak dan batu bara, walau juga sudah mulai beralih sebagian juga telah menggunakan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air. Namun demikian, dalam proses tahap peralihan ini, kita dapat mengurangi emisi energi fosil dengan menghemat energi dan membatasi penggunaan energi yang tidak begitu perlu.

 

Refrensi:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Energi_terbarukan
  2. https://titialfakhairia.com/2017/07/31/stop-global-warming-the-clean-energy-revolution-is-a-must/
  3. http://www.nationalgeographic.com/environment/climate-change/

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

Saya di Usia 23 Tahun

Dahulu (yang sepertinya tidak dulu banget), darah muda saya mengalir cepat. Seperti pemuda lainnya, saya bercita-cita tinggi menggapai semuanya, pendidikan, jabatan, dan semacamnya. Saya ingin menjadi ‘orang’ yang lebih bisa mengubah banyak hal.

Saya yang SMA pernah aktif berbagai kegiatan di dalam maupun luar sekolah, membawa saya pada mimpi luar biasa yang mungkin pada waktu itu bisa mengubah dunia.

Beberapa bulan kuliah di UI saya sempat ikut berbagai kepanitian dari mulai donor darah hingga panitia pemilihan raya kampus. Bahkan walaupun saya pindah (karena satu dan lain hal) ke STAN pun saya juga aktif jadi sekretaris angkatan dan berbagai kegiatan lainnya. Demi mempersiapkan hal-hal luar biasa yang akan saya lakukan nantinya.

Berubah

Namun semua pola pikir dan cita-cita tersebut mulai berubah ketika saya menjadi PNS yang menghabiskan waktu pagi hingga sorenya di kubikel dengan sistem yang demikian rumit.

Saya bukanlah siapa-siapa, hanya orang yang terjebak di macetnya jalanan setiap hari senin sampai jumat, lalu kemudian tertidur kelelahan di asyiknya ranjang Sabtu dan Minggu.

Saya PNS Pajak dengan pangkat rendah, dengan kerjaan yang begitu-begitu saja, dan tak kunjung mengerti soal pajak. Saya juga gagal dalam tes melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi.

Saya tersadar jika ternyata dunia tidak sesederhana yang dipikirkan.

Keinginan (atau mungkin yang lebih tepatnya ambisi) saya luluh sedikit demi sedikit. Saya lelah dengan cita-cita di atas awan.

Sampai pada suatu titik kefrustasian tersebut, takdir memperlihatkan saya pada orang-orang yang ternyata masih pontang-panting mencari pekerjaan. Beberapa mendapatkan pekerjaan yang tidak menarik dan lebih membosankan dengan gaji yang tak seberapa.

Saya tersadar masalah selama ini hanya karena lupa bersyukur, takdir membuat saya tak perlu mencari pekerjaan sana-sini. Saya diangkat langsung menjadi PNS di usia muda dengan gaji yang bisa dikatakan lumayan. Saya ditempatkan pada kantor pusat di Jakarta yang tidak jauh dengan keluarga. Saya juga bisa menginjakkan kaki di semua pulau besar di Indonesia dari mulai Sumatera hingga Papua berkat perintah dinas luar dari kantor.

Di usia 22 tahun, di saat yang lain baru mulai menabung untuk biaya perkawinan, saya sudah bisa menikah dengan resepsi yang walaupun sederhana namun masih ‘pantas’. Honeymoon berdua dengan istri ke tempat-tempat luar biasa di Bali, Malang, hingga Labuan Bajo. Mencicil rumah kecil di depok yang harusnya sebelum saya umur 40 sudah lunas.

Hari ini, di usia 23 tahun, saya mungkin harus memperbanyak syukur saja. Menikmati hari-hari yang dilalui. Menikmati mengerjakan pekerjaan yang walau begitu-begitu saja, tapi tidak terlalu menyibukkan. Tidak usah terlalu berambisi macam-macam, toh kesempatan soal takdir, namun menikmati hidup soal kita mau atau tidak.

Saya mungkin ditakdirkan membantu orang-orang lain yang justru lebih memiliki kesempatan untuk berkembang. Istri saya yang lebih pintar dan diandalkan di kantornya, sering membawa tugas kantornya ke rumah, dan saya sebagai suami yang baik membantunya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut sebisanya.

Adit saya yang juga lebih pintar, sering meminjam kartu kredit saya untuk mengurus beasiswa S2-nya di Eropa. Tugas saya membantunya meminjamkan kartu kredit.

Tugas saya memang sepertinya begitu, bukan menjadi orang luar biasa, tapi membantu orang-orang luar biasa di sekitar saya.

Sekarang, cita-cita saya hanya memiliki keluarga yang harmonis, rumah yang cepat selesai KPR-nya, serta menjadi PNS yang menikmati pekerjaannya dan kopi di setiap pagi.

Tabik.

 

 

Ketika Pria Jawa Berjodoh dengan Wanita Sunda

Sejak beranjak dewasa, Eyang saya sering menyampaikan wejangannya agar jangan menikahi wanita bersuku sunda. Bermacam alasan dituturkan, dari mulai adanya ketidakcocokan kultur hingga mitos pernikahan jawa dan sunda yang seringkali gagal.

Memang kebanyakan keluarga besar hampir semuanya menikah sesama suku jawa, hanya beberapa saja yang menikah beda suku. Pernah ada cerita keluarga eyang yang beristri wanita sunda, namun gagal di tengah jalan. Konon pernikahan mereka banyak diwarnai percekcokan karena perbedaan kebiasaan dan cara pandang. Mungkin ini menjadi alasan sehingga saya diarahkan untuk tidak menikahi wanita sunda.

Selain itu, saya juga pernah membaca jika mitos larangan menikah antara suku jawa dan suku sunda dipengaruhi oleh Perang Bubat jaman dahulu kala, antara Kerajaan Majapahit yang jawa dengan Kerajaan Padjajaran yang sunda. Perang yang memakan banyak korban ini membawa ketegangan hubungan jawa dan sunda hingga beratus-ratus tahun kemudian, bahkan hingga saat ini.

Tapi kemungkinan Eyang saya tidak terpengaruh oleh mitos dendam lama nenek moyang tersebut. Ia lebih percaya soal mitos wanita sunda itu matrealistis, hobi dandan, pemalas, dan suka melawan. Walau saya pikir, kalau ternyata mitos itu benar wanita sunda memiliki sifat demikian, tidak hanya pria jawa saja, hampir kebanyakan pria di dunia termasuk pria sunda sendiri juga seharusnya enggan menikahi wanita yang cuman mau enak-enak seperti itu.

Dulu, saya menganggap larangan menikahi wanita sunda ini cuman angin lalu. Toh, saya juga tidak tahu jodoh saya nantinya bersuku apa. Apakah jawa, batak, bugis, minang, atau dayak. Ada 1.340 suku bangsa di Indonesia (BPS:2010), maka probabilitas untuk menikahi wanita sunda harusnya cuman sepersekian persen.

Hingga akhirnya ternyata takdir berkata lain, saya dipertemukan dengan seorang perempuan bersuku sunda yang (menurut hati waktu itu) terasa seperti jodoh. Maka polemik jawa-sunda menjadi urusan utama yang harus dipikirkan.

Hati-hati saya menyampaikan ke orangtua perihal calon mantu mereka yang bersuku sunda. Walau butuh waktu untuk berpikir, orangtua yang cenderung memiliki pemikiran lebih terbuka dan modern, akhirnya menyetujui untuk saya menikah dengan wanita sunda. Ibu saya hanya menyampaikan beberapa nasihat mengenai posisi pria nantinya dalam pernikahan seperti apa. Harus bisa memimpin, mengayomi, dan mengarahkan istri ke hal-hal yang baik. Pesannya, bukan masalah suku wanitanya, tapi apakah suami dapat mengarahkan atau tidak.

Namun, pekerjaan berikutnya adalah menyakinkan keluarga besar, terutama Eyang. Hal yang ternyata tidak terlalu sulit. Di suatu kesempatan, saya mengenalkan sang calon kepada Eyang yang kemudian berjalan mulus. Semula Eyang tidak tahu jika calon saya ini bersuku sunda. Begitu Eyang sudah bisa “klik”, baru kami memberitahu beliau.

Karena mungkin Eyang sudah terlanjur suka, jadi beliau tidak terlalu keberatan. Untuk anggota keluarga besar pun berhasil dibicarakan dengan baik.

Dan syukurnya, ke keluarga pasangan pun, saya juga tidak terlalu ada permasalahan penikahan beda suku tersebut.

Saya jadi tersadar, menikah beda suku, apalagi jawa-sunda bukanlah persoalan ketakutan mengenai perbedaan kesukuan. Melainkan ketakutan perbedaan karakter dan cara pandang karena dibesarkan dengan lingkungan yang berbeda. Saudara kandung yang dibesarkan dari kedua orangtua yang sama saja bisa jadi berbeda karakter, apalagi yang dibesarkan dengan orangtua dan cara yang berbeda jauh dari segi budaya.

Maka, jika ingin untuk menikah berbeda suku, yang pertama harus dilakukan adalah saling memahami. Paham jika memang ada perbedaan-perbedaan dalam kebiasaan dan memandang sesuatu. Ada do and don’t yang berlaku. Bisa jadi ada sesuatu di keluarga kita yang diperbolehkan, tapi di keluarga lain tidak diperbolehkan.

Juga soal bahasa, misalnya saja, kata “dahar” (artinya makan) di jawa itu sudah cukup halus untuk berbicara ke orang yang lebih tua. Tapi di sunda, kata dahar merupakan bahasa kasar dan tidak cocok dipakai jika berbicara dengan orang yang lebih tua.

Adat istiadat yang berbeda bukanlah halangan dalam hubungan. Harusnya itu yang membuat kita harus saling belajar mengenai karakter masing-masing. Melakukan sesuatu di tempat dan kesempatan yang tepat. Jangan terlalu kritis jika ada hal yang menurut kebiasaan dan pandangan kita tidak tepat, tapi coba pahami dulu apakah memang berbeda rule-nya, jangan salah tangkap.

Jadilah karakter yang diharapkan. Bukan untuk menjadi orang lain, tapi untuk menghormati keluarga pasangan yang memang berbeda kebiasaanya. Misalnya jika ada keluarga yang menganggap jika perempuan yang baik adalah yang tidak tertawa terbahak-bahak, maka cobalah untuk bersikap dan tertawa sewajarnya jika berada di lingkungan keluarga pasangan.

Patahkan juga soal mitos-mitos jelek yang telah terlanjur dianggap. Buktikan jika memang bukan seperti itu kenyataannya. Saat masih pacaran dulu (sampai sekarang juga), istri saya selalu menyempatkan membantu pekerjaan rumah tangga yang sekiranya perlu dilakukan. Minimal merapikan tempat kami mengobrol di ruang tamu. Demi mematahkan anggapan jika wanita sunda itu pemalas.

Menikah beda suku juga mengharuskan kita membuat beberapa kesepakatan di antara banyak perbedaan. Bagaimana hubungan komunikasi kita berdua, apa do dan don’t yang berlaku dengan mempertimbangkan kebiasaan dan karakter masing-masing.

Adat pernikahan apa yang dipakai juga perlu disepakati. Saya dan keluarga sendiri tidak terlalu mempermasalahkan adat pernikahan, karena pernikahan dilangsungkan di keluarga istri, maka kita memakai adat sunda waktu itu. Beberapa teman saya yang menikah beda suku ada yang menge-mix adat pernikahan, ada juga yang melakukan dua kali acara sehingga adat masing-masing dilaksanakan. Tergantung kesepakatan dan dana yang tersedia.

Selain itu, pernikahan beda suku otomatis membuat perbedaan kampung halaman. Sepakati bagaimana aturan pulang kampung saat lebaran. Bisa dalam sekali pulang kampung mengunjungi dua kampung halaman jika memang memungkinkan. Jika tidak, bisa sepakati bergantian, misalnya tahun ini di kampung halaman suami, tahun berikutnya di kampung halaman istri.

Terakhir yang tak kalah penting dari semua itu, jika ingin menikah, tidak hanya menikah berbeda suku, bahkan satu suku pun, jangan lupa untuk berdoa. Terkadang ada beberapa hal sulit bisa terlewati hanya dengan doa. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, sudah selayaknya kita menjemput dengan baik.

 

Tabik.

thumb_csln2854_1024