Saya di Usia 23 Tahun

Dahulu (yang sepertinya tidak dulu banget), darah muda saya mengalir cepat. Seperti pemuda lainnya, saya bercita-cita tinggi menggapai semuanya, pendidikan, jabatan, dan semacamnya. Saya ingin menjadi ‘orang’ yang lebih bisa mengubah banyak hal.

Saya yang SMA pernah aktif berbagai kegiatan di dalam maupun luar sekolah, membawa saya pada mimpi luar biasa yang mungkin pada waktu itu bisa mengubah dunia.

Beberapa bulan kuliah di UI saya sempat ikut berbagai kepanitian dari mulai donor darah hingga panitia pemilihan raya kampus. Bahkan walaupun saya pindah (karena satu dan lain hal) ke STAN pun saya juga aktif jadi sekretaris angkatan dan berbagai kegiatan lainnya. Demi mempersiapkan hal-hal luar biasa yang akan saya lakukan nantinya.

Berubah

Namun semua pola pikir dan cita-cita tersebut mulai berubah ketika saya menjadi PNS yang menghabiskan waktu pagi hingga sorenya di kubikel dengan sistem yang demikian rumit.

Saya bukanlah siapa-siapa, hanya orang yang terjebak di macetnya jalanan setiap hari senin sampai jumat, lalu kemudian tertidur kelelahan di asyiknya ranjang Sabtu dan Minggu.

Saya PNS Pajak dengan pangkat rendah, dengan kerjaan yang begitu-begitu saja, dan tak kunjung mengerti soal pajak. Saya juga gagal dalam tes melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi.

Saya tersadar jika ternyata dunia tidak sesederhana yang dipikirkan.

Keinginan (atau mungkin yang lebih tepatnya ambisi) saya luluh sedikit demi sedikit. Saya lelah dengan cita-cita di atas awan.

Sampai pada suatu titik kefrustasian tersebut, takdir memperlihatkan saya pada orang-orang yang ternyata masih pontang-panting mencari pekerjaan. Beberapa mendapatkan pekerjaan yang tidak menarik dan lebih membosankan dengan gaji yang tak seberapa.

Saya tersadar masalah selama ini hanya karena lupa bersyukur, takdir membuat saya tak perlu mencari pekerjaan sana-sini. Saya diangkat langsung menjadi PNS di usia muda dengan gaji yang bisa dikatakan lumayan. Saya ditempatkan pada kantor pusat di Jakarta yang tidak jauh dengan keluarga. Saya juga bisa menginjakkan kaki di semua pulau besar di Indonesia dari mulai Sumatera hingga Papua berkat perintah dinas luar dari kantor.

Di usia 22 tahun, di saat yang lain baru mulai menabung untuk biaya perkawinan, saya sudah bisa menikah dengan resepsi yang walaupun sederhana namun masih ‘pantas’. Honeymoon berdua dengan istri ke tempat-tempat luar biasa di Bali, Malang, hingga Labuan Bajo. Mencicil rumah kecil di depok yang harusnya sebelum saya umur 40 sudah lunas.

Hari ini, di usia 23 tahun, saya mungkin harus memperbanyak syukur saja. Menikmati hari-hari yang dilalui. Menikmati mengerjakan pekerjaan yang walau begitu-begitu saja, tapi tidak terlalu menyibukkan. Tidak usah terlalu berambisi macam-macam, toh kesempatan soal takdir, namun menikmati hidup soal kita mau atau tidak.

Saya mungkin ditakdirkan membantu orang-orang lain yang justru lebih memiliki kesempatan untuk berkembang. Istri saya yang lebih pintar dan diandalkan di kantornya, sering membawa tugas kantornya ke rumah, dan saya sebagai suami yang baik membantunya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut sebisanya.

Adit saya yang juga lebih pintar, sering meminjam kartu kredit saya untuk mengurus beasiswa S2-nya di Eropa. Tugas saya membantunya meminjamkan kartu kredit.

Tugas saya memang sepertinya begitu, bukan menjadi orang luar biasa, tapi membantu orang-orang luar biasa di sekitar saya.

Sekarang, cita-cita saya hanya memiliki keluarga yang harmonis, rumah yang cepat selesai KPR-nya, serta menjadi PNS yang menikmati pekerjaannya dan kopi di setiap pagi.

Tabik.