Ketika Pria Jawa Berjodoh dengan Wanita Sunda

Sejak beranjak dewasa, Eyang saya sering menyampaikan wejangannya agar jangan menikahi wanita bersuku sunda. Bermacam alasan dituturkan, dari mulai adanya ketidakcocokan kultur hingga mitos pernikahan jawa dan sunda yang seringkali gagal.

Memang kebanyakan keluarga besar hampir semuanya menikah sesama suku jawa, hanya beberapa saja yang menikah beda suku. Pernah ada cerita keluarga eyang yang beristri wanita sunda, namun gagal di tengah jalan. Konon pernikahan mereka banyak diwarnai percekcokan karena perbedaan kebiasaan dan cara pandang. Mungkin ini menjadi alasan sehingga saya diarahkan untuk tidak menikahi wanita sunda.

Selain itu, saya juga pernah membaca jika mitos larangan menikah antara suku jawa dan suku sunda dipengaruhi oleh Perang Bubat jaman dahulu kala, antara Kerajaan Majapahit yang jawa dengan Kerajaan Padjajaran yang sunda. Perang yang memakan banyak korban ini membawa ketegangan hubungan jawa dan sunda hingga beratus-ratus tahun kemudian, bahkan hingga saat ini.

Tapi kemungkinan Eyang saya tidak terpengaruh oleh mitos dendam lama nenek moyang tersebut. Ia lebih percaya soal mitos wanita sunda itu matrealistis, hobi dandan, pemalas, dan suka melawan. Walau saya pikir, kalau ternyata mitos itu benar wanita sunda memiliki sifat demikian, tidak hanya pria jawa saja, hampir kebanyakan pria di dunia termasuk pria sunda sendiri juga seharusnya enggan menikahi wanita yang cuman mau enak-enak seperti itu.

Dulu, saya menganggap larangan menikahi wanita sunda ini cuman angin lalu. Toh, saya juga tidak tahu jodoh saya nantinya bersuku apa. Apakah jawa, batak, bugis, minang, atau dayak. Ada 1.340 suku bangsa di Indonesia (BPS:2010), maka probabilitas untuk menikahi wanita sunda harusnya cuman sepersekian persen.

Hingga akhirnya ternyata takdir berkata lain, saya dipertemukan dengan seorang perempuan bersuku sunda yang (menurut hati waktu itu) terasa seperti jodoh. Maka polemik jawa-sunda menjadi urusan utama yang harus dipikirkan.

Hati-hati saya menyampaikan ke orangtua perihal calon mantu mereka yang bersuku sunda. Walau butuh waktu untuk berpikir, orangtua yang cenderung memiliki pemikiran lebih terbuka dan modern, akhirnya menyetujui untuk saya menikah dengan wanita sunda. Ibu saya hanya menyampaikan beberapa nasihat mengenai posisi pria nantinya dalam pernikahan seperti apa. Harus bisa memimpin, mengayomi, dan mengarahkan istri ke hal-hal yang baik. Pesannya, bukan masalah suku wanitanya, tapi apakah suami dapat mengarahkan atau tidak.

Namun, pekerjaan berikutnya adalah menyakinkan keluarga besar, terutama Eyang. Hal yang ternyata tidak terlalu sulit. Di suatu kesempatan, saya mengenalkan sang calon kepada Eyang yang kemudian berjalan mulus. Semula Eyang tidak tahu jika calon saya ini bersuku sunda. Begitu Eyang sudah bisa “klik”, baru kami memberitahu beliau.

Karena mungkin Eyang sudah terlanjur suka, jadi beliau tidak terlalu keberatan. Untuk anggota keluarga besar pun berhasil dibicarakan dengan baik.

Dan syukurnya, ke keluarga pasangan pun, saya juga tidak terlalu ada permasalahan penikahan beda suku tersebut.

Saya jadi tersadar, menikah beda suku, apalagi jawa-sunda bukanlah persoalan ketakutan mengenai perbedaan kesukuan. Melainkan ketakutan perbedaan karakter dan cara pandang karena dibesarkan dengan lingkungan yang berbeda. Saudara kandung yang dibesarkan dari kedua orangtua yang sama saja bisa jadi berbeda karakter, apalagi yang dibesarkan dengan orangtua dan cara yang berbeda jauh dari segi budaya.

Maka, jika ingin untuk menikah berbeda suku, yang pertama harus dilakukan adalah saling memahami. Paham jika memang ada perbedaan-perbedaan dalam kebiasaan dan memandang sesuatu. Ada do and don’t yang berlaku. Bisa jadi ada sesuatu di keluarga kita yang diperbolehkan, tapi di keluarga lain tidak diperbolehkan.

Juga soal bahasa, misalnya saja, kata “dahar” (artinya makan) di jawa itu sudah cukup halus untuk berbicara ke orang yang lebih tua. Tapi di sunda, kata dahar merupakan bahasa kasar dan tidak cocok dipakai jika berbicara dengan orang yang lebih tua.

Adat istiadat yang berbeda bukanlah halangan dalam hubungan. Harusnya itu yang membuat kita harus saling belajar mengenai karakter masing-masing. Melakukan sesuatu di tempat dan kesempatan yang tepat. Jangan terlalu kritis jika ada hal yang menurut kebiasaan dan pandangan kita tidak tepat, tapi coba pahami dulu apakah memang berbeda rule-nya, jangan salah tangkap.

Jadilah karakter yang diharapkan. Bukan untuk menjadi orang lain, tapi untuk menghormati keluarga pasangan yang memang berbeda kebiasaanya. Misalnya jika ada keluarga yang menganggap jika perempuan yang baik adalah yang tidak tertawa terbahak-bahak, maka cobalah untuk bersikap dan tertawa sewajarnya jika berada di lingkungan keluarga pasangan.

Patahkan juga soal mitos-mitos jelek yang telah terlanjur dianggap. Buktikan jika memang bukan seperti itu kenyataannya. Saat masih pacaran dulu (sampai sekarang juga), istri saya selalu menyempatkan membantu pekerjaan rumah tangga yang sekiranya perlu dilakukan. Minimal merapikan tempat kami mengobrol di ruang tamu. Demi mematahkan anggapan jika wanita sunda itu pemalas.

Menikah beda suku juga mengharuskan kita membuat beberapa kesepakatan di antara banyak perbedaan. Bagaimana hubungan komunikasi kita berdua, apa do dan don’t yang berlaku dengan mempertimbangkan kebiasaan dan karakter masing-masing.

Adat pernikahan apa yang dipakai juga perlu disepakati. Saya dan keluarga sendiri tidak terlalu mempermasalahkan adat pernikahan, karena pernikahan dilangsungkan di keluarga istri, maka kita memakai adat sunda waktu itu. Beberapa teman saya yang menikah beda suku ada yang menge-mix adat pernikahan, ada juga yang melakukan dua kali acara sehingga adat masing-masing dilaksanakan. Tergantung kesepakatan dan dana yang tersedia.

Selain itu, pernikahan beda suku otomatis membuat perbedaan kampung halaman. Sepakati bagaimana aturan pulang kampung saat lebaran. Bisa dalam sekali pulang kampung mengunjungi dua kampung halaman jika memang memungkinkan. Jika tidak, bisa sepakati bergantian, misalnya tahun ini di kampung halaman suami, tahun berikutnya di kampung halaman istri.

Terakhir yang tak kalah penting dari semua itu, jika ingin menikah, tidak hanya menikah berbeda suku, bahkan satu suku pun, jangan lupa untuk berdoa. Terkadang ada beberapa hal sulit bisa terlewati hanya dengan doa. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, sudah selayaknya kita menjemput dengan baik.

 

Tabik.

thumb_csln2854_1024

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Ketika Pria Jawa Berjodoh dengan Wanita Sunda

  1. Saya orang jawa, istri saya org sunda.. alhamdulillah ga ada masalah apa2 sih sama keluarga kalo masalah suku.. yg penting agamanya baik.. tapi point2 di atas emang bener semua sih. bukan hanya untuk beda suku aja. sesama suku jg kayaknya..

  2. Dan yang terpenting adalah harus beda kelamin ya mas ihihiiii…

    wew.. mitos berbau sejarah antara Kerajan Majapahit dan Kerajaan Padjajaran ini asik juga diulas, dan nggak nyangka sampe sekarang masih banyak yang percaya ya mas.

  3. Saya wanita Sunda, suami saya keturunan Jawa, Alhamdulillah hidup sukses karena di awali dengan niat yang baik dan benar, menikah tanpa hutang, tanpa riba, sederhana tapi honeymoon kemana-mana, tfs ya salam kenal!

  4. Saya dulu kepengen banget nikah pake hiasan kepala kayak gitu, berasa cantik lah kayaknya kalau pakai itu, belakangan baru tahu namanya siger sunda, dan ternyata khusus hanya di pakai oleh perempuan sunda ya. hehe

    1. Iya ini juga karena istri saya wanti2 kalau akad pokoknya harus adat sunda, karena mau pake siger sunda. Katanya terserah kalau resepsinya. Yang penting pakai siger akadnya. Haha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s