Menikah Tak Segampang dan Sesulit Itu

Setelah melalui persetujuan kedua keluarga masing-masing, dipilihlah tanggal 1 Oktober 2016 sebagai hari pernikahan kami.

Tanggal yang kemudian membuat kami hanya memiliki waktu tiga bulan saja untuk mempersiapkan segalanya. Kami pikir tiga bulan adalah waktu yang cukup, tapi ternyata pemikiran kami tidak sepenuhnya benar. Tiga bulan yang terpotong liburan lebaran itu harus dilalui dengan pontang-panting ke sana-kemari, bergulat dengan berbagai proses yang melelahkan. Menghabiskan weekend tanpa istirahat, bahkan sesekali pulang pergi Jakarta-Tasikmalaya. Belum lagi terkadang pulang kantor pun harus rela berlelah-lelah demi persiapan pernikahan.

Kami memang tidak menargetkan pernikahan yang sempurna lagi mewah. Hanya saja, kami menyakini bahwa pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup dan merupakan pertemuan berbagai keluarga, sahabat, dan handai taulan yang telah merelakan waktunya untuk melakukan perjalanan jauh menuju tempat resepsi, sehingga harus dihargai dengan persiapan sebaiknya-baiknya.

Untuk biaya pernikahan pun sedari awal sudah kami anggarkan serendah mungkin dengan bertanya sana-sini. Pada prinsipnya acara menyesuaikan anggaran, bukan sebaliknya. Undangan kami cetak di pasar tebet yang memang terkenal murah. Souvenir kami beli di pasar jatinegara setelah tawaf seharian mengelilingi pasar tersebut mencari souvenir yang cocok di hati dan kantong. Cincin kawin kami beli di Tasikmalaya, sedangkan mas kawin berupa gelang kami beli di Cikini yang memang pusatnya emas perhiasan.

Sementara untuk Wedding Organizer, kami mencari yang direkomendasikan beberapa teman yang menikah di Tasikmalaya. Wedding Organizer ini pun bukan yang biasanya bersifat all-in satu paket, mereka bertugas saat acara saja dan hanya mencarikan serta menghubungkan vendor-vendor pernikahan seperti dekorasi gedung, sewa gaun pernikahan, dokumentasi, dan sebagainya. Sehingga kita bisa dengan leluasa mengatur vendor mana saja yang kita pakai sesuai keinginan dan anggaran yang tersedia. Misalnya saja, saya dan istri ingin ada kembang api di pernikahan, Wedding Organizer inilah yang bertugas mencarikan.

Selain itu, di tiga bulan itu, kami juga melakukan foto prewedding dengan searching di internet. Dan akhirnya kami menemukan suatu tempat foto di bilangan kota Tangerang yang cukup murah dibandingkan yang lain karena sedang diskon lumayan. Hasilnya pun juga memuaskan.

Oh ya, di tiga bulan yang sempit itu, dua minggu sebelum pernikahan, kami juga mengadakan acara lamaran yang menghadirkan dua keluarga,. Jadi sebenarnya tanggal pernikahan ditentukan sebelum lamaran. Walau sebelumnya saya telah melamar secara informal ke keluarga istri, namun untuk formalnya kami mengadakan acara lamaran sederhana. Jadi betapa sempitnya persiapan pernikahan ditambah dengan persiapan lamaran.

Namun, di akhir semua kelelahan selama tiga bulan tersebut, prewedding, lamaran, dan persiapan resepsi, semua kemudian terbayar manis di meja penghulu. Di saat ijab kabul yang mendebar-debarkan terucap lancar diringi suasana syahdu pernikahan.

Pelajaran

Di balik proses persiapan menikah tiga bulan itu kami banyak belajar, ternyata menikah itu tidak segampang yang dijargonkan para motivator di media sosial selama ini. Menikah selain butuh kemapanan harta (karena seringkali ada biaya tidak terduga dari budget yang dianggarkan) dan fisik (karena prosesnya yang melelahkan), juga butuh kesiapan mental. Konon, semakin mendekati hari pernikahan, syaitan akan semakin menyelusup dalam rupa keragu-raguan akan pilihan kita. Betapa sering ada berita pernikahan yang dibatalkan begitu saja saat mendekat hari H. Mungkin ini disebabkan karena memang tekanan saat persiapan pernikahan sangat besar. Persiapan pernikahan yang melelahkan kadang kala membuat komunikasi hubungan jadi renggang,  juga pertengkaran karena perbedaan pendapat di balik pemikiran dua kepala (bahkan dua keluarga) juga sering kali muncul saat menentukan konsep pernikahan, sehingga mencari jalan tengah untuk keduanya adalah salah satu pekerjaan yang terunyam dalam mempersiapkan pernikahan.

Namun, menikah juga tidak sesulit yang dibayangkan para single tuna asmara. Di balik kesulitan anggaran pernikahan yang kadang kala membengkak, di situ sering kali ada kemudahan rezeki, entah itu berupa bonus kantor atau sebagainya.

Juga walau kadang ada ragu menyelisik saat persiapan pernikahan (dan itu wajar), tapi yang harus dipahami adalah bahwa setiap orang memiliki kekurangan, dan telah dijodohkan seseorang yang terbaik untuk kita dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya dan kita pribadi.

Kami juga belajar, menikah itu pada intinya memurnikan niat untuk ibadah untuk menjalankan perintah-Nya. Tentu di balik setiap ibadah yang dilakukan, ada ujian-ujian yang menyertainya. Namun, di setiap ujian ibadah, tentu selalu dijanjikan adanya kemudahan di dalamnya. Yakinlah!

Salam.thumb_CSLN3060_1024.jpg

Advertisements

23 thoughts on “Menikah Tak Segampang dan Sesulit Itu

  1. Selamat menempuh hidup baru, Elam dan istri. Semoga selalu diberikan kemudahan dan keberkahan dalam perjalanannya. Menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dan bahagia selalu sampai akhir hayat ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s