Selamat Hidup Kembali…

October 18, 2014 § 6 Comments

Apa yang menakutkan dari sebuah kehidupan? Ketika ternyata kau sebenarnya tidak hidup…

Sudah lama, mungkin hampir setahun saya tak rutin menulis di Blog ini. Kemana saja? Larut dalam kehidupan. Saking larutnya hingga hampir mati tenggelam. Bangun pagi saat matahari baru terlihat, menembus hiruk pikuk jalanan Jakarta, sambil sedikit lari-larian mengejar finger-print, berdoa semoga jari ter-scan sebelum pukul 07.31.

Siangnya larut dalam berkas-berkas surat sambil sesekali mengobrol di waktu luang atau membuka laman situs berita dan gosip. Kadang ada juga rapat-rapat yang harus diikuti dengan khidmat sambil mengunyah snack agar tidak mengantuk. Terjebak dalam hirarki jabatan atau pangkat struktural sambil sopan santun yang kadang dibuat-buat.

Sorenya berharap-harap cemas bisa pulang tidak terlalu malam, atau di detik-detik kepulangan, atasan memanggil untuk menjebak dengan sebuah pekerjaan yang harus selesai malam itu juga. Di antara kelap-kelip lampu pencakar langit Jakarta, berbicara dengan komputer, seolah-olah mengerti bahasa satu sama lain. Lebih tepatnya bahasa robot, karena telah menjadi robot, yang katanya robot negara.

Konon, di tempat saya bertugas, di bagian regulasi, ada milyaran bahkan triliunan uang yang sedang dipertaruhkan, menjadi milik negara atau tetap menjadi milik orang lain. Tempat dipikirkannya cara-cara halus mengambil uang rakyat dengan tetap memakai prinsip The Four Maxims-nya Adam Smith –yang kadang tak terpenuhi salah satu prinsipnya. Tempat keputusan diambil demi kepentingan negara. Sebuah kontribusi kecil di tempat ini, bisa berarti besar bagi banyak orang.

Tapi itu masalahnya, apakah saya benar-benar merasa hidup untuk orang lain –yang entah orang yang mana- dengan cara mematikan diri perlahan-lahan di dalam kubikel selama lima hari dalam seminggu dan dua hari untuk istirahat demi bekerja lagi seninnya?

Kata orang mungkin sayanya yang tidak ikhlas. Padahal sudah ditugaskan di homebase, yang artinya bisa berkumpul lagi dengan keluarga di malam harinya, dibandingkan dengan rekan-rekan lain yang harus meninggalkan jauh keluarga dan orang-orang yang dicintainya ke tempat tugas yang bahkan mereka baru dengar namanya, baru bertemu jika sudah setahun lamanya. Dan juga, saya lebih beruntung ditugaskan di tempat yang memberikan kontribusi besar, dibandingkan dengan rekan-rekan lain yang ditugaskan di daerah terpencil yang mengumpulkan receh-receh uang negara dan hanya sebagai penggugur kewajiban negara menerapkan prinsip uniformity, kesamaan atas perlakuan para pembayar pajak, termasuk atas mereka pembayar pajak kecil di ujung-ujung pulau.

Tapi jelas, keikhlasan dan kehampaan hati itu berbeda. Mungkin kamu ikhlas, tidak mempertanyakan atas setiap kebijakan langit padamu. Bahwa setiap kerjamu adalah amal baik memang harus diniatkan. Berbeda dengan kehampaan hati, kamu hanya sedang tidak berdaya dimakan rutinitas. Dibuat berbeda dalam hirarki tugas. Hanya itu saja.

Maka itu saya beberapa bulan ini tidak menulis di Blog. Toh apa yang hendak ditulis dan dibagi oleh orang yang mati perasaannya? Karena bagi saya Blog itu tempat menuliskan perasaan. Jika tidak punya perasaan, tidak ada yang pantas ditulis.

Tapi kali ini saya hidup kembali, memiliki sesuatu yang bisa menghidupkan…

Semua berawal ketika saya memutuskan mengambil kuliah lagi. Kuliah kelas karyawan, sabtu-minggu di sebuah kampus swasta di bilangan meruya. Walau kelas karyawan, tapi ternyata isinya karyawan-karyawan muda seumuran. Jadilah saya punya kehidupan yang sebenarnya. Bisa ngerumpi tanpa takut merusak sopan santun hirarki pekerjaan. Bisa menyatakan pendapat di kelas tanpa khawatir atasan tidak setuju. Bisa belajar merangkai harapan-harapan, bukan hanya saja titian karir yang terbatas pada aturan super ketat dari instansi.

Akhirnya saya hidup. Bukan dengan cara hura-hura di Mall malam hari, di tempat perbelanjaan atau tempat karaoke. Bukan pula dengan tidur seharian sabtu-minggu di tempat tidur melepas lelah. Hanya dengan duduk di bangku sekolah mendengar diskusi dosen sambil sesekali ngerumpi dengan teman sebelah.

Bahagia itu sederhana, hidup pun juga sesederhana itu…

Selamat hidup, selamat bertemu dengan harapan dan cita-cita.
Halo Blog🙂
doraemon djp

§ 6 Responses to Selamat Hidup Kembali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Selamat Hidup Kembali… at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: