Ini soal kontribusi

September 22, 2013 § 26 Comments

“Lah kenapa bapak gak pindah saja?” tanya saya ketika tahu Bapak ditawari menduduki jabatan penting di salah satu BUMN baru pecahan Angkasa Pura.

“Hmm… Kalau Bapak pindah berarti nggak bisa berkontribusi banyak” jawabnya pelan.

Saya pun terdiam waktu itu.  Saya pikir ini soal tidak lagi menjadi PNS dan sebagainya. Tapi ini soal kontribusi. Bukan hanya soal uang. Padahal jabatan yang ditawari itu gajinya jelas berkali-kali lipat daripada gaji yang sekarang diterimanya.

Mungkin tetap ada hal yang dikontribusikan jika pindah ke BUMN tersebut. Tapi berkali-kali lipat tak lebih banyak daripada sekarang.

Ingatan saya pun mundur beberapa tahun yang lalu. Saat Bapak saya yang tiba-tiba memutuskan pindah dari Kementerian Keuangan dan kemudian pindah ke Lembaga Pemerintahan baru yang mengurusi masalah pengadaan pemerintah. Alasan verbalnya agar bisa naik jabatan satu tingkat lebih tinggi.

Namun, jelas yang menyesakkan adalah kenyataan jika gajinya akan menyusut berkali-kali lipat hingga mungkin setara dengan stafnya dahulu di Kemenkeu yang hanya fresh graduate lulusan D-III.

Hal yang menyebabkan Bapak dan Ibu saya sempat bertengkar berhari-hari. Jelaslah, Ibu saya yang manajer keuangan keluarga kami akan pusing harus memenuhi kebutuhan empat anaknya dengan penyusutan gaji yang drastis itu.

Tapi Bapak saya tetap keukeh, dan tetap memutuskan pindah. Kalimat beliau yang pernah saya tangkap, “Kalau di sana, hanya akan menjadi salah satu butiran debu”. Maksudnya mungkin tak bisa melakukan banyak hal.

Bukan hanya keluarga, bahkan rekan-rekannya di Kemenkeu pun banyak menyayangkan. Tapi, keinginan berkontribusi mungkin bagi Bapak lebih besar.

Dan keinginan kontribusi itu pun berbuah, walau gajinya tak seberapa. Ternyata di Lembaga baru inilah Bapak saya berkesempatan menjadi pembicara atau memberikan pelatihan masalah pengadaan. Belum lagi, ternyata di tempat baru itulah Bapak pun bisa menelurkan sampai saat ini sudah sembilan buku mengenai pengadaan. Dan dari sini ternyata janji Allah jika rezeki itu takkan kemana memang terbukti. Hasil menjadi pembicara dan penjualan buku ternyata kalau dihitung-hitung melebihi gaji di Kemenkeu sebelumnya.😀

Kontribusi? Jelas reformasi pengadaan yang berlangsung besar-besar di Indonesia Bapak menjadi salah satu kontributor besarnya. Bapak seringkali menjadi tempat bertanya mengenai pengadaan. Pernah beberapa kali dipanggil Kepolisian dan KPK untuk memberikan keterangan ahli untuk masalah korupsi yang asalnya kebanyakan dari pengadaan. Kemarin saat akan diselenggarakan Islamic Solidarity Games di Palembang yang bermasalah, Bapak sempat debat dengan pihak kejaksaan mengenai masalah pengadaannya.

“Besok, kamu pun kalau bisa pindah juga ke tempat lain” kata Bapak dalam suatu senja.

“Iya, kalau mungkin bisa berkontribusi lebih” jawab saya dalam hati.

Sekali lagi, ini soal kontribusi….

Hadiah ultah saya ke Bapak beberapa bulan yang lalu🙂

 

***Oh ya, masuk instansi pertama aja baru bulan depan Pak, sudah mikir pindah saja. Haha😀

§ 26 Responses to Ini soal kontribusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ini soal kontribusi at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: