Bye My Bebeh…

September 13, 2013 § 31 Comments

Ini kisah balada beberapa tahun lalu, saat saya masih baru-baru kuliah di Depok.

“Lam, jangan lupa nanti malam kita rapat ya” kata teman saya yang satu kepanitian dengan saya.

“Lah, gue kok gak dapet jarkoman?” tanya saya waktu itu kesal.

“Tadi dijarkom lewat Broadcast BBM”

Saya hanya meng-ooh-kan saja jawaban teman saya itu. Saya hari itu belum punya BB.

Dalam hati sedikit kesal sih, kenapa jarkoman gak by sms saja.

Tapi kekesalan saya makin berlanjut ketika rapat kepanitian itu ternyata sebagian materi rapat telah dibahas di Grup BB. Jadi saya cukup terbengong-bengong saja di situ dengan beberapa kelompok minoritas yang tidak punya BB.

Entahlah, lama kelamaan tidak punya BB di fakultas saya sangat menyulitkan. Jarkoman, info, hingga gosip pun kebanyakan hanya bisa didapat jika kau punya BB. Materi-materi kuliah pun lebih menyenangkan dishare lewat bluetooth dan dibaca di aplikasi smartphone itu.

Saya akhirnya memutuskan membeli BB walau sebenarnya dari dulu saya tidak terlalu begitu ponsel mahal. Kebanyakan bahkan ponsel saya hanya bisa untuk sms dan telepon. Alasannya, kalau ponsel murah nanti kalau hilang tidak terlalu masalah. Lagian battery-nya lebih awet.

Nah, karena saya terbiasa hidup sederhana dengan ponsel biasa, makanya pas beli BB saya lupa untuk membekali diri untuk mengetahui jenis-jenis BB.

Jadinya, timbullah kejadian begini:

“Mbak, mau beli Blackberry”

“Iya mas, yang mana?” tanya mbak itu dengan tersenyum.

“Hmm…” saya mikir sejenak, jelas otak saya blank soal BB. “Yang paling murah yang mana mbak?” tanya saya balik dengan bodohnya.

Mbaknya agak mengeryitkan dahinya. “Yang Gemini mas”

“Oh, ya udah, yang itu aja. Kalau itu harganya berapa mbak?”

“Emang mau yang 3G atau yang biasa?”

“Yang murah yang mana mbak?”

“Yang biasa” jawabnya datar. Mbaknya mungkin kesel, ini orang nanya yang murah mulu.😀

Akhirnya setelah milih warna dan membayar, sebuah BB pun akhirnya resmi saya miliki.

Sebelum meninggalkan tokonya, saya nanya lagi dengan polosnya, “Eh, tapi BB ini bisa buat BBM kan?”

“Iya bisa mas” jawab mbaknya judes. Haha…

Tapi kemudian, beberapa minggu kemudian saya pindah kuliah ke Bintaro. Dan ternyata di Bintaro jarang yang punya BB. -____-” Gak terlalu kepakai lah BB itu.

Hingga akhirnya BB saya setia menemani saya sampai saat ini. Sampai uzur menjemput. Sampai ia tak bisa diservice lagi.

Selamat istirahat BB, semoga jasa-jasamu terbalas…

Kini saya punya android yang menggantikan tugasmu.

Good bye BB, welcome Android…😀

IMG_20130913_102110

P.S: Oh ya, yang ada rencana mau beli smartphone saran sih beli sekarang sebelum smartphone nanti dikenakan pajak PPnBM, yang membuat harganya jauh lebih mahal🙂

§ 31 Responses to Bye My Bebeh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bye My Bebeh… at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: