STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

September 7, 2013 § 357 Comments

Dua hari ini saya banyak dapat pertanyaan dari para Maba-maba yang diterima USM STAN 2013 ini, sehubungan dengan tulisan saya Seburuk Apakah D I STAN

Penerimaan tahun ini yang menembus rekor sejarah, yang biasanya hanya menerima 2000an mahasiswa, bahkan kurang, kini menerima sekitar 5000 mahasiswa dengan komposisi 2/3-nya atau sekitar 3400an diisi oleh Program D-I dan sisanya, sekitar 1600an diisi Program D-III, memberikan rasa bahagia para adik-adik maba, namun tak sedikit juga yang menyimpan kecewa.

Entahlah, bagi saya bahagia atau kecewa itu soal pilihan. Karena tak ada yang bisa memaksa hati seseorang untuk menjadi bahagia atau kecewa.

Saya juga tak menjanjikan jalannya kemudian akan mudah melalui tulisan tersebut, karena saya orang yang tak berhak menjanjikan apapun. Namun, biarlah saya bertutur sedikit soal kampus ini.

STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

“Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Pande penempa cita baja” –Penggalan lagu Mars STAN

Layaknya baja yang ditempa, maka bukan harum wewangi yang tercium, tapi bau busuk menyengat yang akan tercium. Bukan sejuknya taman bunga yang dirasakan, tapi panasnya api ribuan celcius. Karena yang dibicarakan disini tak hanya besi, namun baja kawan! Baja yang pedih!

Daripada kau harus merasakan semua kepedihan itu, pulanglah sesegara mungkin. Secepat yang kau bisa. Karena di sini, setiap hari adalah hari-hari perjuangan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka semenjak pertama kau pun akan merasakan aturan ketat, dari mulai baju kuliah yang ditentukan, rambut yang dirapikan layaknya anak sekolah, hingga aturan lain yang begitu menyesakkan. Tak sebebas kuliah di tempat lain. Tapi, itulah ajarannya, soal disiplin yang akan membantumu nanti dalam banyak hal.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau mungkin akan pergi jauh meninggalkan tempatmu sekarang. Dari jogja ke Makasar, dari Pati ke Palembang, atau bahkan dari Jayapura ke Jakarta. Jauh sekali, dan jangan tanya kenapa kau harus lakukan perjalanan jauh itu demi hanya ilmu yang sedikit itu, perantauan yang bodoh itu. Tapi, mungkin kisah Imam Sa’id bin Al Mussyayyib yang melakukan perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki ke negara lain demi menimba ilmu sebuah hadist juga akan membuatmu menjustifikasi betapa bodohnya imam itu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ada saja yang diterima bukan atas pilihannya. Ada juga yang berpikir jika yang dicetaknya dari kampus ini hanya kacung-kacung keuangan Negara. Prajurit-prajurit pelaksana berpangkat rendah. Memang seperti itu, dan harus diakui, bahkan Menteri Keuangan sendiri pun tak pernah sekalipun asalnya dari kampus Ali Wardhana, Frans Seda, atau BDK lainnya. Tapi, ada Hitler yang mengajarkan kita, ditinggalkan oleh cita-cita pilihan senimannya, menjadi tentara di dinas militer. Tentara yang bukan berpangkat tinggi malah, rendah dan tidak sesuai keinginan bukan merupakan sesuatu yang harus disesali. Pilihan takdir membawanya menjadi tokoh yang dikenang bermasa-masa.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka uang saku yang kau terima akan paling kecil diantara Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya. Tak cukup bagimu mungkin untuk menyambung hidup. Tapi, bukankah di penjuru Indonesia lainnya ada orang-orang yang bahkan hidup dengan uang yang lebih kecil daripada yang kau terima. Mereka mau berdesak-desakan menerima suap pemerintah yang tak seberapa itu. Dan mungkinkah orangtuamu begitu kikir hanya menyuruhmu hidup dengan uang saku itu. Putuskan saja hubunganmu dengannya jika begitu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan merasakan bagaimana sebagian dosen dengan seenaknya mengganti jadwal kuliah atau pihak sekretariat yang bisa menyuruh apa pun kepadamu sesukanya atas nama Drop Out. Tapi, bukankah seperti itu menjadi bawahan, ditindas atasan adalah hal yang harus kau pelajari sebagai bagian dari kehidupan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan diberikan waktu jeda setelah lulus. Diberikan waktu liburan, berbulan-bulan, atau mungkin lebih dari satu tahun. Liburan yang kau rindukan semasa sekolah dahulu. Jeda yang bahkan kata seorang senior, didapatkannya hingga dua tahun. Tapi, itulah liburan yang dimintakan syukur atasnya, bukan depresi yang berlebihan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ia dua tahun ini pun lulusannya tetap dites CPNS. Sama seperti yang lainnya. Tapi, bukankah begitu aturan seharusnya, setiap orang tanpa terkecuali yang ingin menjadi CPNS harus ikut tes. Ada prinsip taat azas yang dijalani.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan mengenal kota-kota bernama Waingapu,  Atambua, Entikon, Batulicin, dan bahkan kepulauan Natuna. Kau bukan anak Jenderal yang bisa memilih dimana nantinya kau akan berpijak. Tapi, dari sana kau mengetahui Indonesia begitu luas dan kaya.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka hal yang bisa kau anggap pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketika hari ini sebuah peraturan berbunyi A, besok bisa saja berbunyi E. Ketika hari ini ada PMK 148/2012 laknat, maka besok bisa saja peraturan itu berubah. Tapi, bukankah hidup itu juga terdiri atas berbagai ketidakpastian. Kalau kau tak bisa menerima ketidakpastian itu, jangan hidup.

Akhirnya, karena STAN tak bertabur bunga, pulanglah! Pulang ke tempatmu, ke pangkuan ibumu. Jangan kau habiskan hidupmu sia-sia tak berarti di sini.

§ 357 Responses to STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

  • Ridho La Anarki says:

    begitu juga dengan pasangan, kalo gak berani tinggal diluar jawa jangan harap punya pasangan alumni STAN
    salam BC 2011 OJT Bengkalis, Riau

  • Arifin says:

    setuju banget tuh, masalah uang dapet kecil tak masalah, yang penting tak sia-sia di sini, lebih baik banyak tindakan daripada banyak omong, dan hanya anak manja saja yang takut akan pergi jauh, karena apa ? karena sebenarnya kita hidup di dunia adalah sendiri. Kita hidup menjadi benar dan baik adalah karena diri kita sendiri

    salam

  • Agung Pramudito says:

    Tidak salah apabila kita menyebutkan bahwa STAN adalah kampus perjuangan. Sebab disanalah kita ditempa dengan keras. Seorang pelaut yang handal tidak akan terlahir dari laut yang tenang, justru badailah yang membuatnya hebat. Seorang Gatotkaca tidak akan menjadi ksatria andalan pandawa, apabila dia tidak dicemplungkan ke kawah candradimuka saat kecil. Semua itu butuh proses pembelajaran masing-masing untuk menjadi hebat.
    Namun, STAN bukanlah segala-galanya, proses pembelajaran tetap harus berlanjut. bagaimana pun caranya dan sulitnya. karena proses pembelajaran di STAN memang mendidik kita menjadi seseorang yang siap kerja (aplikasi), sedangkan proses pembelajaran yang lebih tinggi akan mengajarkan kita untuk menjadi penentu kebijakan (konseptual).
    Dan dengan menjadi penentu kebijakanlah kita bisa merubah beberapa keadaan di atas, dan bisa melakukan sesuatu yg lebih banyak, bagi kampus kita, bagi bangsa, negara, dan masyarakat. Banyak senior2x kita yang menjadi penentu kebijakan, telah melalui proses itu semua. Eselon II alumni STAN bertaburan di BPK, eselon I pun juga ada. Pak Hadi Purnomo pun lulusan IIK. Yang memilih keluar dr PNS pun juga sudah banyak yg menduduki posisi-posisi tertinggi di tempatnya.
    Jadi, perjuangan kita belum selesai kawan, justru baru dimulai ketika kita lulus dari kawah candradimuka itu. saya pun sedang menjalani proses itu, buktikanlah kualitas kita, dan sampai ketemu lagi saat kita sudah menjadi penentu kebijakan. Ganbatte! (Akuntansi Pemerintahan/STAN 2004-2007)

  • toko bunga says:

    sukses selalu stan, semoga menjadi orang yang benar benar berguna demi bangsa

  • Staners 2013 says:

    Salam anak IMAM kak..🙂

  • widiyati says:

    Saya adalah seorang Ibu yang mempunyai anak alumni STAN yang baru di wisuda Tahun 2013 dan saat ini lagi menunggu penempatan rasanya trenyuh membaca tulisanmu, saran dari Ibu syukuri dan nikmati hasil perjuanganmu selama kuliah di STAN, ambil hikmah, di luar sana banyak anak muda yang tak seberuntung dirimu

  • Ari ameliani says:

    Stuju..tp Tdk hny stan..stis jg bgitu.. kampus yg penuh dgn prjuangan..disiplin..dan harus siap pnmpatan jauh. Spt sy..org jkt yg hrus hidup jauh d parepare..sulsel. tnp ada sanak saudara skalipun..
    Tp itulah hidup..ttp harus d syukuri. Malahan dpt jodoh org sini hehe..

  • martini says:

    setuju dech sama tulisannya🙂

  • novifauzie says:

    setuju mas, sama komen yg paling atas… siap ngerantau ikut alumni STAN (suami) hehehehehe demi bakti pada negara dan sekolah kedinasan yg plg saya anggap plg bergengsi ya STAN( ga bs masuk STAN tp dpt suami alumni STAN alhamdulillahh huehehehehehe)

  • Suka sekali dengan tulisan ini,,, kagak tahu kenapa tapi,, setelah baca ini,,, makin bersemangat buat masuk STAN,,, semoga bisa terwujud,, Amin

  • adib says:

    hidup itu adalah berani menuangkan cat diatas kanvas, tak bisa dihapus tapi bisa diperindah. Terimakasih atas tulisan ‘excellent’ ini, dengan gravitasi yg lebih berat nanti kita akan bisa terbang digravitasi yg ringan. Do’akan saya menjadi maba STAN 2014, saya akan berjuang dan membuat perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah! at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: