Sejenak…

September 4, 2013 § Leave a comment

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” -Pramoedya Ananta Toer

Jauh melintasi waktu, mendengar setiap kata yang terucap, merangkai kehidupan yang tak pernah terhabisi. Lalu pernahkah hati melupakanmu walau sejenak, walau pernah mencoba mengganti rasa dengan rasa lain.

Aku masih terperangkap dalam nostalgia ribuan kata-kata yang kau tuliskan. Ribuan hari pun tak pernah pantas untuk mengganti satu per satu kata itu.

Bahkan semakin lama ia semakin menjadi tempat peristirahatan. Shelter peristirahatan prajurit yang menunggu kematiannya. Bagai arak yang menenangkan namun merusak.

Aku masih jadi pembaca setia lamanmu yang senyap itu, yang entah dengan siapa kau bercerita. Tapi biarkan aku menganggapmu bercerita kepadaku. Karena aku membacanya.

Biarkan rintik hujan tahu kalau aku pun masih mengingat setiap detiknya, Mengingat betapa asyiknya dirimu menjadi teman diskusi, teman berbagi cerita. Sampai saat ini, kau pun masih menjadi teman terbaik dalam membahas buku-buku. Dan aku pun masih ingat bagaimana aku harus mengembalikan setumpuk buku yang kupinjam darimu di akhir perpisahan kita.

Kita telah memutuskan untuk hidup dengan masing-masing jalan lebih dari empat tahun yang lalu. Namun, biarkan hati menostalgiakan kembali rinduku padaku.

Comments are closed.

What’s this?

You are currently reading Sejenak… at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: