Selamat Bertugas…

Akhirnya setelah penantian panjang, besok saya resmi bertugas di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Gedung Utama Lantai 9 (Katanya sih lantai 9, tapi belum tahu juga. Besok nanya satpam aja, hehe…) di Direktorat Peraturan Perpajakan I.

Setidaknya 5 hari dalam seminggu, dan 9-10 jam hidup saya (atau mungkin lebih) akan dihabiskan di tempat itu. Katakan selamat tinggal pada tidur siang, selamat tinggal pula pada acara korea sore Indosiar. Aku akan merindukan kalian. Sungguh!

Besok juga saya akan mulai secara rutin tergabung pada pasukan yang melawan macet setiap harinya.

Tapi, dari semua itu, bukankah hal yang paling baik adalah mulai melakukan aktivitas. Mulai melakukan hal yang berguna…

Selamat malam! Semoga besok adalah hari indah. Selamat bertugas pula untuk semua rekan-rekan saya di seluruh Indonesia, dari aceh hingga timika. Selamat!

 

Bandung, menghabiskan masa muda…

“Ayolah ke Dufan, kapan lagi pada bisa main bareng?”

“Gue gak bisa ikut, gue mau ke Bandung”

“Hmm…” diam sejenak. “Ya sudah, kalau gitu kita mainnya ke Bandung saja”

 

Haha… Akhirnya ujung-ujungnya kemarin kita main ke Bandung. Padahal 5 minggu sebelumnya saya sudah ke Bandung sewaktu BSMI Pusat rapat dengan BSMI Jawa Barat. Hanya saja karena agendanya memang dinas organisasi dan dibiayai oleh organisasi. Jadinya sehari semalam itu pun dihabiskan dengan rapat-rapat saja tanpa bisa main-main.

Nah, kali ini baru benar agendanya jalan-jalan. Kami berempat, saya, dua orang teman “se-ciledug, dan seorang teman dari aceh pun memutuskan untuk menghabiskan sisa-sisa hari pengangguran kami ke Bandung.

Awalnya sih mau naik travel saja, tapi salah seorang teman saya ngomong kalau naik Bus Primajasa cuman 25ribu, kami pun tergiur dan memutuskan naik bus saja.

Ehh, ternyata sesampainya di terminal Lebak Bulus nggak 25ribu, harga tiketnya 60ribu. Teman saya yang rekomendasikan naik Bus itu pun berkilah kalau harganya mungkin naik gara-gara kenaikan BBM. Tapi 25ribu sama 60ribu kan beda banyak ya -____-“

Ya sudahlah, tapi tetap saja lebih murah naik Travel Cipaganti 90ribu.

Perjalanan sekitar tiga jam yang kemudian kami pun sampai di Universitas Telkom, tempat kami akan menumpang menginap.

Iya dong, kami gak mau rugi, jadi cari tempat numpang nginap yang gratisan di kossan teman saya yang dulu pernah kuliah di Telkom sebelum pindah kuliah ke Bintaro.

Ternyata cerita-cerita kalau di Bandung nge-koss banyak yang campur itu benar ya. -___-“

Mungkin di Bandung biasa aja, tapi saya yang dulu di Depok atau Bintaro jarang liat koss campur kan agak kaget. Di depok itu kalau pun ada nge-koss campur itu bentuknya rumah petak, jadi cukup terpisah. Jarang sekali ada yang satu gedung isinya cowok-cewek. Apalagi kalau pas di Bintaro, jangankan campur, cari kos cewek aja susah. Cowok semua, haha… 😀

Saya sih untungnya berdua dengan teman saya yang cowok nginap di Kontrakan teman yang isinya cowok semua. Sementara dua teman saya yang cewek nginap di kossan teman cewek juga yang nggak jauh dari situ.

Karena agenda awalnya mau ke Dufan, maka agenda subtitusinya ya Ke Trans Studio Bandung dong. 😀

Katanya ada promo program Kartu Tanda Mahasiswa. Kalau yang punya KTM bisa hemat 30ribu. Walau KTM kami sudah kadaluarsa, tapi tetap nekad aja ikut promo KTM itu. Eh, mosok gak bisa, padahal sebelumnya kami ke monas ngaku mahasiswa pakai KTM kadaluarsa itu bisa loh… 😦

Ya sudah, akhirnya kami harus bayar seperti biasanya.

Sebagai permulaan, tentunya jangan main-main wahana yang ekstrim dulu. Pilih yang santai. Dan wahana pertama yang kami pilih wahana “Si Bolang”. Kayaknya gak terlalu ekstrim.

“Mas, ini apa?” tanya saya ke petugas.

“Mainan anak-anak sih ini”

“Oh, jadi kita gak bisa naik ya?”

“Bisa aja kalau mau” kata petugasnya sambil ngeluarin senyum kampret.

“Ya udah, kita mau naik kok”

Entahlah, saya gak tau arti senyum kampret itu. Tapi ternyata emang wahana ini anak-anak beth -_-” Cuman naik kereta sambil liat baju-baju daerah di Indonesia.

Ok sip, habis gak jelas di Bolang, kami ke wahana yang agak ekstrim, “Rumah Hantu”. Dan ini mengecewakan saudara-saudara, hantunya nggak ada yang serem. Padahal dari awal saya sudah siap-siap ketakutan. -___-“

Karena sudah kecewa dengan dua wahana ecek-ecek tersebut. Kami langsung saja ke wahana-wahana ekstrim.

Oh ya, roller coaster nya walau nggak ada puteran 360 derajat, tetap aja mengerikan. Soalnya jalannya ada mundurnya. Tapi walau begitu ya tetap aja ketagihan. Sampai nyoba dua kali.

Ada juga panjat tebing. Nah, kalau ini saran saya pilih yang angka 5, walau lebih jauh, tapi lebih gampang. Buktinya saya sampai duluan 🙂

Ada juga yang kayak 4D di gelanggang samudra, kursi kita digoyang-goyang kemudian disemprot-semprot air.

Haha… Ini yang paling lucu, jadinya kita nanti dishoot dengan latar program-program trans tv. 😀

****

Pulang dari Trans Studio, malah diajakin main lagi dengan anak-anak telkom yang kami tumpangi tempat tinggalnya. Katanya besok mereka nggak kuliah, jadi malemnya bisa main.

Kan capek ya dari Trans Studio malamnya main lagi. Tapi demi sopan santun selaku penumpang kossan. Kami pun ikut main ke salah satu rumah makan di dekat lembang. Jauh dan ngantuk.

Tapi seneng aja sih bisa main Uno malam-malam lagi rame-rame :’)

Selepas kenyang makan, langsung main lagi ke Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika. Jam 12 malem. Ngantuk sodara-sodara.

Besok paginya pulang dah.

Tapi thanks untuk teman-teman Bandung -yang namanya belum semua saya hafal- atas segala kebaikannya di Bandung. Senang bertemu dan berkenalan dengan kalian semua 😀

My Lil Sista Birthday…

Kemarin adik saya yang terakhir berulang tahun ke-4. Si bungsu yang berbeda dengan ketiga kakaknya, dirayakan ulangtahun di masa kecilnya. Sementara kakak-kakaknya tidak pernah merayakan ulangtahunnya. Berhubung sewaktu kecil hidup kami pas-pasan, jadinya kami tak pernah diajarkan bahwa ulangtahun itu harus dirayakan. Paling kalaupun dirayakan hanya makan sekeluarga di luar dan sebagainya. Hal-hal yang biasa. Bahkan saking biasanya, saya sampai lupa sweet seventeen saya dirayakan atau tidak. Hehe…

Berhubung sekarang Alhamdulillah keluarga kami sudah berkecukupan, adik saya mendapat kesempatan merasakan nikmatnya berbagi kue ulangtahun dan mendapat berbagai kado. Beruntungnya karena hadir di dunia di saat-saat yang tepat. 😀

Kalau kata Ust Fauzil Adhim, Ulang tahun itu hanya memilihkan satu hari spesial bagi kita untuk anak. Anak jadi memiliki hari spesialnya sendiri. Dan hari spesial ini lah yang ditunggu adik saya selama berminggu-minggu lamanya.

Hari spesial yang dirayakan dengan meriah di TK-nya. Lucu liat tuyul-tuyul anak-anak itu berkumpul dan senang satu sama lain. Terus dengan tangan kecilnya saling memberi kado. Sayang masa kecil saya tak begini. Hihi…

Tapi, sudah capek-capek foto pas ultahnya pakai tablet. Eh malah tabletnya besoknya ke-reset. Adakah yang tahu bagaimana mengembalikan foto-foto di tablet yang ke-reset? 😦

Hanya foto ini yang berhasil terselamatkan 😦

http://latansaide.files.wordpress.com/2013/09/wpid-img1378547811719.jpg

STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

Dua hari ini saya banyak dapat pertanyaan dari para Maba-maba yang diterima USM STAN 2013 ini, sehubungan dengan tulisan saya Seburuk Apakah D I STAN

Penerimaan tahun ini yang menembus rekor sejarah, yang biasanya hanya menerima 2000an mahasiswa, bahkan kurang, kini menerima sekitar 5000 mahasiswa dengan komposisi 2/3-nya atau sekitar 3400an diisi oleh Program D-I dan sisanya, sekitar 1600an diisi Program D-III, memberikan rasa bahagia para adik-adik maba, namun tak sedikit juga yang menyimpan kecewa.

Entahlah, bagi saya bahagia atau kecewa itu soal pilihan. Karena tak ada yang bisa memaksa hati seseorang untuk menjadi bahagia atau kecewa.

Saya juga tak menjanjikan jalannya kemudian akan mudah melalui tulisan tersebut, karena saya orang yang tak berhak menjanjikan apapun. Namun, biarlah saya bertutur sedikit soal kampus ini.

STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

“Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Pande penempa cita baja” –Penggalan lagu Mars STAN

Layaknya baja yang ditempa, maka bukan harum wewangi yang tercium, tapi bau busuk menyengat yang akan tercium. Bukan sejuknya taman bunga yang dirasakan, tapi panasnya api ribuan celcius. Karena yang dibicarakan disini tak hanya besi, namun baja kawan! Baja yang pedih!

Daripada kau harus merasakan semua kepedihan itu, pulanglah sesegara mungkin. Secepat yang kau bisa. Karena di sini, setiap hari adalah hari-hari perjuangan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka semenjak pertama kau pun akan merasakan aturan ketat, dari mulai baju kuliah yang ditentukan, rambut yang dirapikan layaknya anak sekolah, hingga aturan lain yang begitu menyesakkan. Tak sebebas kuliah di tempat lain. Tapi, itulah ajarannya, soal disiplin yang akan membantumu nanti dalam banyak hal.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau mungkin akan pergi jauh meninggalkan tempatmu sekarang. Dari jogja ke Makasar, dari Pati ke Palembang, atau bahkan dari Jayapura ke Jakarta. Jauh sekali, dan jangan tanya kenapa kau harus lakukan perjalanan jauh itu demi hanya ilmu yang sedikit itu, perantauan yang bodoh itu. Tapi, mungkin kisah Imam Sa’id bin Al Mussyayyib yang melakukan perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki ke negara lain demi menimba ilmu sebuah hadist juga akan membuatmu menjustifikasi betapa bodohnya imam itu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ada saja yang diterima bukan atas pilihannya. Ada juga yang berpikir jika yang dicetaknya dari kampus ini hanya kacung-kacung keuangan Negara. Prajurit-prajurit pelaksana berpangkat rendah. Memang seperti itu, dan harus diakui, bahkan Menteri Keuangan sendiri pun tak pernah sekalipun asalnya dari kampus Ali Wardhana, Frans Seda, atau BDK lainnya. Tapi, ada Hitler yang mengajarkan kita, ditinggalkan oleh cita-cita pilihan senimannya, menjadi tentara di dinas militer. Tentara yang bukan berpangkat tinggi malah, rendah dan tidak sesuai keinginan bukan merupakan sesuatu yang harus disesali. Pilihan takdir membawanya menjadi tokoh yang dikenang bermasa-masa.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka uang saku yang kau terima akan paling kecil diantara Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya. Tak cukup bagimu mungkin untuk menyambung hidup. Tapi, bukankah di penjuru Indonesia lainnya ada orang-orang yang bahkan hidup dengan uang yang lebih kecil daripada yang kau terima. Mereka mau berdesak-desakan menerima suap pemerintah yang tak seberapa itu. Dan mungkinkah orangtuamu begitu kikir hanya menyuruhmu hidup dengan uang saku itu. Putuskan saja hubunganmu dengannya jika begitu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan merasakan bagaimana sebagian dosen dengan seenaknya mengganti jadwal kuliah atau pihak sekretariat yang bisa menyuruh apa pun kepadamu sesukanya atas nama Drop Out. Tapi, bukankah seperti itu menjadi bawahan, ditindas atasan adalah hal yang harus kau pelajari sebagai bagian dari kehidupan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan diberikan waktu jeda setelah lulus. Diberikan waktu liburan, berbulan-bulan, atau mungkin lebih dari satu tahun. Liburan yang kau rindukan semasa sekolah dahulu. Jeda yang bahkan kata seorang senior, didapatkannya hingga dua tahun. Tapi, itulah liburan yang dimintakan syukur atasnya, bukan depresi yang berlebihan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ia dua tahun ini pun lulusannya tetap dites CPNS. Sama seperti yang lainnya. Tapi, bukankah begitu aturan seharusnya, setiap orang tanpa terkecuali yang ingin menjadi CPNS harus ikut tes. Ada prinsip taat azas yang dijalani.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan mengenal kota-kota bernama Waingapu,  Atambua, Entikon, Batulicin, dan bahkan kepulauan Natuna. Kau bukan anak Jenderal yang bisa memilih dimana nantinya kau akan berpijak. Tapi, dari sana kau mengetahui Indonesia begitu luas dan kaya.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka hal yang bisa kau anggap pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketika hari ini sebuah peraturan berbunyi A, besok bisa saja berbunyi E. Ketika hari ini ada PMK 148/2012 laknat, maka besok bisa saja peraturan itu berubah. Tapi, bukankah hidup itu juga terdiri atas berbagai ketidakpastian. Kalau kau tak bisa menerima ketidakpastian itu, jangan hidup.

Akhirnya, karena STAN tak bertabur bunga, pulanglah! Pulang ke tempatmu, ke pangkuan ibumu. Jangan kau habiskan hidupmu sia-sia tak berarti di sini.