Tes Kesehatan dan Wawancara USM STAN

August 18, 2013 § 111 Comments

Nah, karena sampai sekarang tulisan saya yang paling laku dan di-search orang itu mengenai pengalaman saya di STAN. Khususnya pengalaman apes yang USM-nya sampai tiga tahap; tulis, kesehatan, dan wawancara. Belum lagi banyak pertanyaan-pertanyaan sama di FB, Twitter, dsb-nya yang sama soal USM ini. Maka dari itu, saya akan menuliskan pengalaman bagaimana heroiknya melalui dua tes baru ini, kesehatan dan wawancara…

Tes Kesehatan

Saya kebetulan dapat tempat tes kesehatan di Pusdiklat Bea Cukai di Rawamangun, Dan berangkat lumayan pagi-pagi sekali, karena diantar Bapak yang waktu itu sekalian kerja. Walau pagi-pagi sekali datangnya, tetap saja antrian registrasinya sudah panjang sekali.

Tapi, walau harus mengantri panjang, sebaiknya manfaatkan waktu mengantri dengan baik, seperti berdoa atau memperhatikan mbak-mbak manis yang jagain registrasi-nya.

Setelah registrasi, nanti kita akan di-tes tinggi dan berat badan. Entahlah, saya tidak terlalu tahu ini mempengaruhi atau tidak, toh banyak teman saya yang tingginya rendah atau badannya kurus ceking diterima. Jadi santai aja.

Habis tes tinggi dan berat badan, lalu saya tes mata. Sebelumnya ditanyain minusnya berapa. Saya sih lupa berapa minus saya, jadi jawab saja asal, yang penting dibawah 2. Lalu ke tempat lain untuk diuji dengan menggunakan tempelan huruf-huruf yang mengecek mata minus (apa itu namanya?). Tapi yo mosok tes-nya pakai kacamata, nggak ngefek dong tesnya.

Setelah tes minus mata, saya diperiksa kesehatannya oleh dokter. Awalnya periksa buta warna, (sebaiknya sebelum tes, coba-coba dulu di internet). Kemudian diperiksa nadi dan sebagainya. Terus disuruh buka baju (baju doang loh!). Awalnya saya ragu, apakah saya salah dengar instruksi atau tidak (dan ternyata ini terjadi di banyak teman saya yang ikut tes) soalnya dokternya waktu itu cewek, jadi kann…😀

Terakhir, tes kebugaran, tes mengelilingi lapangan sepakbola Pusdiklat Bea Cukai yang dipantau langsung oleh Kopassus. Kata Bapak Kopassus-nya, “Minimal kalian enam kali puteran selama 12 menit”.

Eh, sialnya saya larinya sekelompok dengan orang-orang gendut dan lemah. Bahkan di tengah lari, sebelah saya tiba-tiba perutnya keram. Waktu itu sih, mau niat menyudahi lari dan bantuin dia. Tapi, nanti malah tes-nya gagal, jadi biarin saja lah, toh ada panitia-nya. Ya sudah, saya lanjutin lari. Entahlah, saya tidak tahu nasib anak malang itu kemudian.

Nah, banyaknya orang gendut dan lemah di kelompok saya ini jadinya menurunkan standar lari saya. Saya juara pertama lari di kelompok itu, tapi ya cuman dapat 4 putaran. Padahal kelompok lain dapat 5-6 putaran. Teman saya yang cewek saja dapat 4 putaran -___-“

Yang terakhir banget, tes lari angka delapan. Tidakterlalu ngerti sih, yang penting waktu itu saya lari saja angka delapan. Tidak ingat dapat berapa kali lap.

Entahlah, tes kesehatan ini formalitas atau tidak. Toh saya yang fisiknya abal-abal ini lolos. Tapi, dari data, sekitar 1000an peserta gugur di tes ini.

Tes Wawancara

Kalau tes wawancara ini, cuman sedikit yang gugur, hanya 100an. Toh, isinya cuman ngobrol-ngobrol saja kalau menurut saya. Cuman ditanyain hobi, kesenangan, dan sebagainya.

Jawab saja apa adanya, misal ada pertanyaan, “Apa dulu prestasi kamu di sekolah?”. Saya yang tidak punya prestasi di sekolah dulu, ya jawab nggak ada. Haha…

Paling pertanyaan pentingnya, tentang pilihan spesialisasi. Angkatan saya waktu itu cuman buka dua spes, Pajak dan Beacukai, jadi pertanyaannya mana yang lebih diprioritaskan untuk dimasuki.

“Kamu pilih pajak atau beacukai?”

“Pilihan pertama saya pajak. baru kedua beacukai”

“Kenapa pajak?”

“Mata saya minus pak, nanti kalau di beacukai menganggu” (jawaban bodoh sih, hehe)

“Tapi kalau ternyata kamu dimasukkan beacukai siap?”

“Siap Pak” (sambil senyum bohong)

“Terus, siap ditempatkan di seluruh indonesia?”

“Siap juga pak” (senyumnya tambah bohong)

“Ditempatin di papua siap?”

“siap pak” (senyumnya paling lebar dan paling bohong)😀

Tapi toh, pewawancara nya tertawa saja, dia tahu lubuk hati terdalam manusia kok. Haha…

Yang penting saat tes wawancara jawabannya relevan dan tidak muluk-muluk. Misalnya, teman saya cerita, kalau temannya ada yang gagal. Jadi, pas temannya teman saya (ribet ya?) ini ditanya, “hobinya apa?”.

Beliau ini jawab, “Billyard”.

“Kenapa?”

“Karena mahal”

Kalau menurut teman saya, jawaban mahal ini lah yang menyebabkan beliau gagal. Soalnya mahal ini mencerminkan konsumerisme yang tinggi, hedonisme, dan sebagainya.

Jadi, jawab dengan sederhana saja.

 

Ok, goodluck untuk USM 2013 yang tes kesehatan dan wawancaranya minggu depan. Semoga bermanfaat. Kalau ada pertanyaan sila di komentar…

 

Tagged:

§ 111 Responses to Tes Kesehatan dan Wawancara USM STAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tes Kesehatan dan Wawancara USM STAN at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: