Cerpen

July 30, 2013 § 19 Comments

Oh ya, beberapa hari yang lalu ada ajang unik dari sebuah self publisher, @nulisbuku . Jadi ini lomba bikin cerpen yang akan memilih 200 cerpen yang akan dibukukan secara indie. Lucu aja gitu. Biasanya lomba-lomba memilih 15-40 cerpen saja. Ini milih sampai 200 cerpen. Haha… Saya iseng saja ikut. Walau pun hadiahnya hanya untuk dua orang juara dan saya yakin ini hanya untuk membuat penulis-penulisnya membeli sendiri buku mereka. Tapi, asyik aja keliatannya. Ikut meramaikan.

Dari 800 cerpen yang masuk, cerpen saya masuk masuk ke dalam 200 cerpen terpilih. Bukan juara sih, hanya terpilih dibukukan.😀

Ok, berhubung itu buku kayaknya nggak dijual di toko-toko, cuman beli online, dan pembelinya juga sepertinya nggak ada. Saya share saja lah cerpen saya di sini. Kan mubazir sudah dibuat tapi tidak di-share. Hehe…

Tema lombanya: “Kejutan Sebelum Ramadhan”

Suami Hemat

Aku, gadis biasa yang ditakdirkan bersuamikan seorang lelaki yang hemat. Hemat luar biasa loh! Walau sebenarnya “hemat” ini sebagai kata halus pengganti “pelit”, tapi lelaki ini tampan dan ku terlanjur mencintainya. Termasuk harus terlanjur mencintai sifat pelitnya ini. Hehe…

Baginya, hemat itu adalah bagian manifestasi ideologi kehidupannya. Kehidupan masa kecil hingga kuliah yang pas-pasan dahulu mengharuskannya untuk bersikap hemat. Bahkan walau sudah bekerja dengan gaji yang lumayan pun dia tetap mempertahankan budaya hematnya ini. Pribahasa “Hemat Pangkal Kaya” tertanam jauh di lubuk hatinya, walau sampai sekarang kita berdua tidak kaya-kaya juga.

Saking hematnya, pernah suatu ketika saat aku sakit dan dibawa ke Rumah Sakit, dokter memutuskan agar aku di-opname. Tapi sempat-sempatnya suamiku ini bertanya, “Ruangan yang paling murah yang mana suster?”.

“Ruang kelas tiga Pak” jawab suster itu agak sebal.

“Itu berapa ya?” Tanya suamiku lagi.

Susternya menjawab sekian rupiah.

“Aduh, nggak ada yang lebih murah lagi sus?”

“Ada pak, di ruang tunggu. Gratis, cuman bayar dokter sama obat-obatannya saja” susternya menjawab sudah sangat sebal.

“Oh, ya sudah, istri saya taruh di situ saja” jawab suamiku itu enteng. Entah karena dia tidak terlalu memperhatikan kalimat susternya dan hanya fokus dengan kehematannya saja, atau memang karena dia sudah terlalu cinta dengan hemat sehingga tega meletakkan istrinya di ruang tunggu. Tapi yang jelas suamiku itu segera kusikut, “Ayah gimana sih, masa bunda dirawat di ruang tunggu. Bukannya sembuh malah jadi penunggu rumah sakit ini nanti”.

“Gak apa-apa Bun, siapa tahu dibayar jadi penunggu sini”.

Akhirnya terpaksa suamiku itu pun ku jitak dan kupaksa memasukkanku ke Ruang VIP. Besoknya dia yang di-opname karena tiba-tiba ia jatuh sakit, pusing memikirkan uang yang harus dikeluarkan.

“Saya di-opname-nya sekamar saja dengan istri saya. Biar nggak keluar uang banyak sus”.

“Tidak boleh Pak!”. Susternya sudah kesal setengah mati. Mungkin suamiku itu ingin dikubur hidup-hidup olehnya.Pikirnya kok ada orang seperti ini ya.

“Sudah sus, suami saya dirawat di ruang tunggu saja” kataku melerai pertikaian suamiku dengan suster itu.

“Ide bagus!” kata susternya senang. Sementara suamiku manyun saja dibilangin begitu.

Karena hematnya yang luar biasa, suamiku ini diangkat jadi Manajer Keuangan di perusahaannya. Banyak hal yang dihematnya, seperti penghematan listrik, AC yang dibuatnya selalu pada derajat ideal yang tidak terlalu panas atau dingin, penghematan kertas yang biasanya laporan dua lembar dijadikan bolak-balik sehingga hanya selembar, lebih hemat. Walaupun sepertinya hal kecil, namun ternyata bagi perusahaan suamiku yang besar hal-hal kecil itu cukup memberikan dampak yang cukup banyak.

Pernah juga suamiku usul agar air juga dihemat. Karyawan yang mau menggunakan air sebaiknya menimba dulu dari sumur, sehingga tidak harus mengalirkan air ke toilet-toilet. Selain karena  tidak boros air, juga tidak boros listrik. Jelas ini langsung ditolak oleh Direktur Utama yang ruangannya paling atas. Bisa mati dia harus naik turun nimba air.

Dan malam ini aku akan berjuang, meminta mukena baru kepada suamiku. Bukan karena aku tidak punya uang, tapi kan rasanya lebih enak kalau dibeliin suami tercinta.

“Ayah, sebulan lagi mau Puasa, mukena Bunda sudah harusnya ganti nih” kataku merengek manja pada suamiku yang sedang asyik menonton pertandingan bola di televisi.

“Loh, kenapa mukenanya? Masih bisa dipakai kan? Atau robek? Tambal saja dengan emblem Chelsea atau Persija yang ada di atas lemari itu” katanya santai.

“Ya kali Yah, masa mukena ditambal pakai emblem klub sepakbola sih?” aku mencubit pahanya gemes. Berusaha menahan emosiku yang mulai naik. “Nggak Yah, cuman warnanya sudah agak kuning”.

“Owalah, bagus dong, jadi seperti punya warna yang beda. Warna kuning”

Coba kalau bukan suamiku tercinta, pasti sudah ku tonjok ini orang.

“Ayah gimana sih, nanti pas teraweh Bunda nggak bisa ikut ngerumpi bareng ibu-ibu. Minder mukenanya sudah jelek. Belum lagi kalau Ibu-ibu itu ngegosipin mukena Bunda bagaimana? Hancur reputasi Bunda sebagai Ibu tercantik di komplek”

“Ya ampun Bunda, Teraweh itu bukannya buat ngerumpi apalagi ngegosip”. Wajahnya menatapaku menasehati, kemudian beralih lagi ke layar televisi.

“Ya kan sekalian Yah, mumpung kumpul. Hehe… Iya nggak deh, tapi beliin mukena ya?” rayuku lagi.

“Hmm… Nanti Ayah pertimbangkan lagi” katanya sambil memainkan remote mengganti channel. Acara pertandingan bolanya sedang istirahat.

“Kok dipertimbangkan lagi? Kalau begitu, kita akhiri saja semua ini!” kataku jengkel.

Dia terkejut, matanya menatapku sepenuhnya, “mengakhiri semua apa Bun?” tanyanya hati-hati.

“Mengakhiri semua pembicaraan kita malam ini. Bunda ngantuk. Hehe…”. Aku pun menuju kamar tidur, menyerah dengan penyakit hemat suamiku.

Hingga seminggu sebelum Ramadhan pun aku tak pernah membahas mukena lagi. Tapi, saat suamiku pulang kantor, dia membawa sebuah bingkisan. “Ini untuk Bunda” katanya sambil menyerahkan bingkisan itu.

Aku segera membuka bingkisan itu. Aku terkejut, isinya mukena baru yang bagus lengkap dengan sajadah baru pula. Kelihatan harga keduanya cukup mahal. Tumben dia membelikan barang yang mahal.

“Terima kasih Yah” ucapku penuh senyum. Dia hanya membalas senyumku tanpa berkata apa-apa. Tangannya sedang sibuk mengetik di HP. Lalu meletakkan HP itu di atas meja makan.

Setelah itu dia segera mencari handuk, “Ayah mau mandi dulu”. Aku mengangguk mengiyakan.

Sejenak, mataku tertuju pada HP di meja makan tadi. Iseng-iseng aku membacanya. Ada salah satu sms yang menarikku, dari salah satu kolega suamiku. Keningku berkerut membacanya.

Beberapa saat kemudian suamiku itu keluar dari kamar mandi.

“Ayah, mukena dan sajadah baru itu hadiah teman Ayah ya?” aku bertanya sambil berkacak pinggang.

Dia tersenyum lebar tanpa merasa bersalah mengangguk mantap.

Owalah, ternyata sifat hematnya sudah terlalu akut. Tapi sayang, aku terlanjur mencintainya, yang juga berarti harus mencitai sikap hematnya itu.

****

Jangan di-bully yak😀

§ 19 Responses to Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerpen at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: