Setulus apakah mencintai ilmu?

Kemarin ada seorang teman saya yang jurusannya akuntansi meminta diajarkan soal-soal koreksi fiskal, salah satu hal yang harusnya menjadi keahlian saya setelah dulu dijejal dengan berbagai pengetahuan mengenai ini.

Untungnya soal-soal yang ditanyakan tidak terlalu susah. Tapi, saya sempat beberapa kali googling mengenai hal yang saya lupa.

Nah, setelah membantu dia ini, saya jadi merenung. Soalnya tidak hanya kali ini saya membantu teman-teman lain menjawab pertanyaan soal pajak atau akuntansi. Dan kenapa selalu saja ada hal-hal yang saya lupakan. Padahal harusnya ini melekat dengan tuntas. Bukan ilmu tambahan, tapi ini ilmu wajib. Selain itu, saya sudah sering mengulang-ulang pelajaran yang dulu diberikan. Namun tetap saja banyak yang hilang.

Ini mengingatkan pada saat dulu saya di kampus. Seorang pejabat eselon II Kemenkeu yang waktu itu menjadi pengisi seminar, tiba-tiba menanyakan beberapa pertanyaan kimia dan fisika dasar yang harusnya sudah kami dapatkan saat SMA dulu. –Sudah menjadi rahasia umum walau kami sekolah akuntansi, tapi sebagian besar dahulunya jurusan IPA sewaktu SMA-nya termasuk saya–.

Telak! Tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau, padahal kami rasa itu mudah, bahkan semua materi pertanyaannya didapat di SMA kelas satu, hanya saja kami lupa atau lebih tepatnya melupakan materi-materi tersebut. Hehe…

Kami mungkin bisa beralasan kalau bidang yang kami geluti sekarang sangat berbeda sehingga boleh saja kami lupa.

Tapi siapa sangka, pejabat yang hampir mau pensiun ini yang telah lama sekali berkutat dengan masalah akuntansi, ekonomi, hukum, bahkan politik ini dan jauh sekali dari bidang sains ini dengan gamblang menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan itu bahkan menjelaskan rinci tentang materi-materi sainsnya.

No Excuse untuk masalah bidang sekarang!

Lanjut pejabat Kemenkeu itu, “Kenapa lagu-lagu atau doa-doa saat kita TK dahulu kebanyakan atau bahkan hampir semua masih kita ingat? Kuncinya satu, waktu itu kita senang mempelajarinya, kita mencintainya. Tak ada keterpaksaan. Sama waktu SMA, saya juga berusaha mencintai pelajaran-pelajaran yang guru saya berikan saat itu. Hingga sampai sekarang masih tersimpan jelas di kepala saya”

Kuncinya senang dan mencintai. Tak ada keterpaksaan.

Ah, mungkin dahulu belum begitu tulus belajar. Masih terpaksa oleh nilai-nilai di atas kertas.

**Kembali me-recovery niat tulus untuk belajar…. πŸ™‚

Bahkan dulu sebelum mulai jam kuliah masih sempat foto2, bukannya belajar.. Hihi….

Advertisements

12 thoughts on “Setulus apakah mencintai ilmu?

  1. Haha.. khusus utk ilmu pajak dan akuntansi, biasanya sih bakal lebih canggih kalo udh ketemu kasus, jadi tenang2 saja, akan ada byk waktu utk mempelajarinya…. πŸ˜€
    Setuju dgn pak eselon 2 itu (kira2 siapa, ya πŸ™‚ ) sesuatu yg kita pelajari dgn senang hati, akan gampil bgt nempelnya….

    1. Nah, belum ketemu kasus aja pelajaran yang masih dasar aja sering lupa… Hehe…
      Karena saya nggak cinta ama bapak eselon dua-nya itu, makanya saya nggak ingat siapa dia, haha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s