Majalah Bobo dan Kenangan Membaca

Kenapa saya sangat suka membaca. Bahkan mungkin sudah jatuh cinta dan selalu konsisten menuliskan membaca sebagai hobi saya.

Ya Majalah Bobo ini yang menjadi salah satu penyebabnya. Sewaktu kecil dahulu orangtua saya selalu membelikan majalah ini tiap pekan. Dan dari situlah semua bermula, dari hanya baca-baca cerita bergambarnya, lalu beranjak ke cerita-cerita pendek, dan seterusnya. Hingga akhirnya saya benar-benar meninggalkan majalah itu dan beralih ke bacaan-bacaan lain yang lebih tebal dan lebih dewasa. Konsistensi belajar mencintai itu yang penting. Dan akhirnya benar-benar jatuh cinta…

Bersyukur sekali waktu itu orangtua masih bisa menyempatkan untuk membeli majalah Bobo yang waktu itu termasuk mahal. Apalagi tempat tinggal yang berada di ujung sulawesi. Jadinya biaya ongkos kirim juga ada. Sementara orangtua saat itu Ayah hanya bekerja jadi PNS biasa dan Ibu yang hanya jadi tukang jahit. Makan bakso aja tergolong mewah saat itu. Hehe…

Dari Majalah Bobo pula saat itu saya belajar pelajaran sekolah dari Rubrik Soalnya. Walau hanya sedikit tapi cukup membantu. 😀

Setelah sekian lama, iseng-iseng beli lagi Majalah ini. Ternyata harganya sudah naik berkali-kali lipat dan usianya sudah mencapai kepala empat. Wah… Rindu juga terkadang… 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Antara Pajak dan Bea Cukai…

Pas dulu tes wawancara, sempat ditanyai oleh pewawancaranya, “Mau di Pajak atau Bea Cukai dek?”

Waktu itu saya dengan sigap menjawab, “Pilihan utama saya di pajak pak”

“Kenapa?’ tanyanya.

“Mata saya agak minus pak, takut mengganggu tugas nantinya kalau di Bea Cukai”

Pewawancaranya langsung meng-ooh-kan.

Sebenarnya, selain mata minus, banyak hal yang membuat saya berdoa habis-habisan agar tidak masuk Bea Cukai, dari mulai bayangan saya yang militerisme sampai pada seragam. Saya termasuk yang paling malas pakai seragam. Wong pas sekolah saja saya sering ditegur guru soal seragam. Hehe…

Lalu, sebelumnya saya juga sudah pernah ke Pusdiklat Bea Cukai di Rawamangun sana. Kelihatan sekali di sana militerismenya, seperti hormat pada senior atau atasan, baris-berbaris, pelatihan fisiknya, dan lain-lain. Ditambah lagi, para peserta didiknya yang menggunakan baju seragam coklat, kayak IPDN.

Imajinasi saya akan dididik seperti di IPDN, akan ada banyak kekerasan fisik.

Fix! Saya memilih pajak. Dan ternyata dikabulkan oleh pewawancara tersebut. Saya diterima di pilihan tersebut.

Namun, lama-kelamaan, entah kenapa, kayaknya agak menyesal juga sih waktu itu. Bukan karena menyesal dengan pilihan sekarang. Soalnya, insyaalloh saya menikmatinya sekarang. Menyesalnya itu kenapa sebelumnya tidak menggali dulu.

Saya kira nantinya lulusan Bea Cukai itu nantinya akan mirip-mirip dengan lulusan Perguruan Tinggi Kedinasan lain yang lulus nanti akan jadi birokrat dengan seragamnya, Eh, ternyata mereka akan jadi Birokrat yang juga bertugas menjaga keamanan fiskal negeri ini. Jadi, mereka juga dilengkapi berbagai peralatan pengamanan seperti senjata api, anjing pelacak, perahu patroli, dan macam-macam. Mirip-mirip polisi lah…

Lalu, kata teman saya yang di Bea Cukai, mereka juga ada intelejennya, dan betul-betul terjun ke lapangan mengawasi seperti intel betulan. Bahkan teman saya itu juga dapat materi ke-intel-an.

Saya yang suka film action jelas menyanyangkan kenapa dulu saya tidak masuk Bea Cukai. Apalagi saya termasuk orang lapangan. Lebih cocok bekerja di lapangan ketimbang harus di kantor berjam-jam.

Dan pendidikan kemiliterannya pun tidak sampai kekerasan fisik. Paling parah kata teman saya hanya disuruh merayap-rayap di aspal, jalan jongkok, atau pernah malam-malam disuruh sendirian di kuburan. Itu pun juga hanya sekali-kali. Tidak ada sampai pukul-pukulan.

Paling malas paling ada apel tiap pagi, Tapi saya pun yang pendidikannya pajak juga ada apel pagi, hanya saja tiap sepekan sekali, tidak sampai tiap hari. Dan beberapa bulan sekali apelnya dipimpin kopassus. itu pun biasanya setelah apel pagi bareng kopassus ada snack-nya untuk sarapan. Hehe…

Untuk mata saya yang minus pun ternyata itu harusnya bukan jadi masalah. Karena banyak teman saya di Bea Cukai yang mata minusnya lebih parah. Para pegawai Bea Cukai juga banyak yang berkacamata. Setahu saya, memegang senjata juga sepertinya diperbolehkan memegang senjata asal ikut diklatnya (koreksi jika salah).

Saya yang juga waktu itu menganggap bahwa fisik saya standar saja juga salah. Banyak teman saya di Bea Cukai sewaktu ospek bersama masih kalah fisiknya dengan saya. Mungkin karena waktu itu mereka belum dilatih di Bea Cukainya. Dan mungkin saya juga bisa berfisik lebih kuat jika kemudian masuk dalam pelatihan mereka.

Pokoknya kalau mau jadi pasukan bersenjata dengan militerisme yang lebih soft, Bea Cukai mungkin bisa menjadi pilihannya.

Entah kenapa juga, kebanyakan kenalan saya yang di Bea Cukai, entah itu teman atau senior terasa lebih ramah. Tapi kalau tegas juga berwibawa. Bukan tegas yang dibuat-buat. Sepertinya mampu menempatkan kapan harus tegas dan kapan harus ramah.

Beberapa pejabat yang saya kenal disiplin juga ada beberapa yang dulunya dari Bea Cukai. Misalnya kepala BPPK (Badan Pelatihan dan Pendidikan Keuangan) sebelumnya, atau juga Ketua Pimpinan Hakim Pengadilan Pajak sekarang.

Soal mutasi, kata senior saya, level staff Bea Cukai juga lebih sering dimutasi daripada yang lain. Jadi tidak mengendap di satu tempat untuk waktu yang lama. Tidak seperti staff pajak yang bisa lumutan di suatu daerah untuk waktu yang cukup lama. Walau mutasi Bea Cukai kadang bisa di pelosok-pelosok perbatasan.

Senior yang saya kenal dulu pernah ditempatkan di perbatasan papua. Ada juga yang dulu pernah ditempatkan di Entikong, perbatasan dengan Malaysia. Mungkin terasa mengenaskan, namun asyiknya bisa ke negara orang sesekali.

Bahkan Bea Cukai itu juga ada kantor perwakilannya di luar negeri. Setahu saya itu ada di Belgia, Singapura, Hongkong, dan Jepang. Jadi bisa saja suatu saat ditempatkan di luar negeri.

Selain itu, saya pikir dulu hanya ada konsultan pajak, tidak ada konsultan Bea Cukai. Baru kemudian saya tahu ternyata ada. Dan ternyata itu cukup jarang di Indonesia. Karena sekolah bea cukai hanya ada satu di Indonesia yang langsung dikelola pemerintah. Beda dengan pajak yang berjibun sekolah perpajakannya, dari yang mulai pajak formal murni atau juga akuntansi yang konsentrasinya perpajakan.

Sekolah Bea Cukai pun juga hanya ada beberapa hitungan jari di dunia. Sementara itu, kondisi perekonomian dunia yang sekarang lebih cenderung dengan pasar bebasnya (WTO) tentu lebih membutuhkan pengamanan dan pengawasan yang ekstra. Sehingga prospek Bea Cukai ke depannya lebih dibutuhkan untuk menangani banyak kasus penyelundupan atau kasus-kasus lain terkait kepabeanan dan cukai.

Satu lagi terakhir yang membuat saya terkagum dengan Bea Cukai. Selain mengurusi masalah sosial seperti keuangan. Bea Cukai ternyata juga berhubungan dengan sains dan teknologi seperti pengenalan barang-barang kimia yang keluar-masuk dan teknologinya. Ditambah Bea Cukai sendiri juga memiliki beberapa laboratorium.

Mungkin kalau saya masuk Bea Cukai. Saya mungkin bisa berkesempatan kembali ke ranah eksak setelah sebelumnya “murtad” selepas lulus SMA ke ranah sosial. Hehe…

 

 

Ok, sekali lagi ini bukan bentuk penyesalan saya atas pilihan yang sekarang. Dan saya Insyaalloh sangat menikmati pilihan yang sekarang. Namun, lebih ke arah penyesalah kenapa saya tidak menggali masing-masing pilihan lebih dalam. Waktu itu saya hanya melihat pajak lebih terkenal dari bea cukai, apalagi Gayus sedang terkenal-kenalnya saat itu. Saya hanya tahu Bea Cukai pakai seragam dan berbagai hal awam lainnya.

Semoga kelak ini tak terulang lagi, harus menggali setiap pilihan dengan benar-benar. Baru kemudian menentukan.

 

Hakuna Matata!

Hakuna Matata!

Yap, yang pernah nonton film ‘Lion King’ pasti sering mendengar frase ini. Frase yang seringkali jadi penyemangat saya. Awalnya sih tidak begitu tahu artinya apa, seru aja kedengarannya.

Tapi, malam ini iseng mencari artinya di Wikipedia

Hakuna Matata!

Merupakan perkataan yang kata om Wikipedia berasal dari Bahasa Swahili (Bahasa bantu di Afrika) yang artinya “Jangan Khawatir”

Hakuna Matata!

Jangan Khawatir!

Oh, ternyata ini artinya. Tidak terlalu spesial mungkin. Namun, ada makna mendalam dalam pelafalannya. Jangan Khawatir dalam irama semangat dan riang. Menyuruh jangan khawatir dan tetap semangat dan riang.

Ok sip!

Setiap Hari harus Hakuna Matata dan tetap semangat serta riang gembira. Positive Thinking…

**Tulisannya agak absurd sih, tapi tidak apa=apa, Hakuna Matata! Pesannya pasti tersampaikan… 😀

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

 

Tentang Maskot Ditjen Pajak

Ada yang tahu maskot ditjen pajak? Pasti banyak yang tidak tahu. Saya juga yang termasuk baru tahu setelah masuk sekolah perpajakan dulu. Hehe…

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSTZJz39DRIeU4OdDfY98fYkycn-CpGWDPZ7Wokb0Ob57wpIFff

Namanya Kojib, kepanjangan dari Kontribusi Wajib Pajak. Lahir pada tahun 2008 sebagai bentuk sosialisasi dari pada sunset policy waktu itu (Kalau nggak ngerti sunset policy, gak apa-apa kok). Namun, setelah dipertimbangkan, akhirnya Kojib menjadi maskot resmi Ditjen Pajak untuk selanjutnya.

Agak mirip-mirip dengan alfamart sih. Tapi bedanya, kalau alfamart itu lebah, sedangkan Ditjen Pajak itu tawon, (tahu beda lebah dan tawon kan?).

Kenapa harus Tawon? Ada jutaan hewan lain kenapa harus tawon?
Sebagai sebuah maskot, tentu harus bisa mewakli institusi yang dimaskoti (bahasanya agak maksa). Nah, tawon itu dirasa mewakili Institusi Ditjen Pajak. Karena tawon itu mengambil sedikit saripati bunga tanpa membuat bunga itu rusak, bahkan malah membantu bunga itu berkembang biak. Sama halnya dengan Ditjen Pajak yang juga mengambil sedikit dana dari masyarakat dengan berusaha tanpa merusak masyarakat dan kemudian mengembalikannya ke masyarakat baik berupa pelayanan, pembangungan, dan lain-lain sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat.
Diharapkan juga dengan maskot yang lucu ini (walau gak lucu2 amat sih), Pajak terlihat lebih humanis di mata masyarakat…

Seburuk apakah D-I STAN?

What?! Hanya D-I? Ada ribuan lulusan S-1 menjadi pekerja rendahan atau bekerja dibawah UMR atau bahkan menganggur. Dan apa yang diharapkan dari seorang lulusan D-I?
Boleh di STAN, tapi CUMAN D-I kawan! Itu buruk kawan, mau kerja apa kau nantinya? Mau dapat penghasilan berapa kau? Paling penting, mau jadi apa kau nantinya?

Saya dan teman-teman yang menjadi lulusan D-I seringkali mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan kami sudah berbusa-busa menjelaskan. Emblem-emblem STAN pun tak cukup membuat orang lain mengerti selama masih ada D-I nya. Hanya 1 tahun belajar -bahkan angkatan saya hanya 10 bulan- emangnya dapat ilmu apa? Belum gengsinya. Sudahlah, D-I itu pokoknya buruk. Bahkan teman saya pernah dikatakan, bahwa D-I itu tidak berguna, hanya jadi “kacung” di kantor. Sekali lagi, itu buruk!

Saya yang termasuk lulusan D-I STAN tahun 2011, yang dimana pada tahun 2011 itu tidak dibuka pendaftaran selain D-I Spesialisasi Bea Cukai dan Spesialisasi Pajak, akan mencoba menjelaskan seburuk apakah D-I itu berdasarkan pengalaman saya dan beberapa sumber internet.

Lama Belajar
Buruknya, D-I itu lama belajarnya paling lama hanya 1 tahun. Ya, buruk, karena kita tidak bisa belajar lama-lama atau pun mengerjakan tugas kuliah selama bertahun-tahun. Selain itu kita juga tidak bisa merepotkan orangtua lama-lama karena kita kecepatan lulusnya. Bahkan satu tahun kita sudah bisa ikut pakai baju toga dan diwisuda. Lucu sekali, saat masih unyu-unyu kita sudah siap bekerja dan menghasilkan duit setelah itu sebagai CPNS di Kementrian Keuangan. Buruk itu kawan!

Biaya Kuliah
Buruknya, STAN itu dari dulu tidak pernah mungut uang dari mahasiswanya. Kita yang ingin bayar kuliah malah bingung karena gratis. Belum lagi kebingungan kita bertambah karena selama satu tahun di D-I kita diberi uang saku per bulannya. Juga kadang dikasih buku-buku tulis dari STAN, padahal kita sudah punya buku binder biasanya untuk mencatat kuliah. Bingung sekali mau diapakan buku-buku tulis tersebut. Takut mubazir, dosa. Itu buruk kawan!

Pendidikan
Buruknya, karena D-I dipersiapkan untuk bekerja, Kita harus mengeyam pendidikan 50 sks selama satu tahun atau 25 sks satu semester. Bandingkan dengan kampus lain, sepintar apa pun mahasiswanya, satu semester hanya diperkenankan mengambil 24 sks. Belum lagi, UTS kita yang full lima hari dengan sehari dua mata kuliah. Jadi total ada sepuluh mata kuliah. Padat sekali. Mengurangi waktu tidur. Itu buruk kawan!
Prospek Kerja
Buruknya, kalau D-I itu kebanyakan tidak bisa pindah kerjaan ke bagian lain. Harus sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus. Misalnya, kalau D-I nya pajak, maka hampir pasti dia kerjanya akan ditempatkan di Ditjen Pajak. Kalau D-I nya Bea Cukai, maka hampir pasti dia kerjanya akan ditempatkan di Bea Cukai. Beda dengan D-III yang entah atas pertimbangan apa kadang kerjanya beda dengan apa yang dipelajari di kampus. Misalnya, ada lulusan D-III Penilai yang kerjanya malah ditempatkan di Bapennas, tidak ada hubungannya secuil pun. Sama juga ada yang lulusan D-III Pajak ada yang kerjanya ditempatkan di Bapepam-LK. Atau D-III Bea Cukai malah nyasar ditempatkan di BPKP. D-I tidak bisa merasakan bingungnya kerja di tempat yang tidak dipelajari dahulu di perkuliahan. Itu buruk kawan!

Kelanjutan Pendidikan
Buruknya, ada beberapa kepala kantor maupun direktur yang dulunya masuk kemenkeu cuman ijazah D-I atau SMA. Bagaimana bisa begitu? Ya salah satunya karena mereka terus melanjutkan pendidikan. Nah, untuk D-I itu baru bisa lanjut pendidikannya ke D-III khusus yang ada di STAN setelah dua tahun bekerja. Jadi, kalau sudah bosan bekerja selama dua tahun itu, kita bisa kabur melanjutkan kuliah dengan digaji. Katanya sih tugas belajar, tapi kalau dipikir-pikir agak gabut karena tidak kerja masih terima gaji. Itu buruk kawan!

Tes Masuk STAN
Buruknya, karena hanya D-I dan USM STAN 2011 yang telat kemarin. Peserta D-I STAN hanya berjumlah 57.000 peserta yang sebelum-sebelumnya lebih dari itu. Ditambah lagi dengan tes yang empat kali penyaringan sehingga hanya menyisakan 1.600 peserta lolos seleksi. Sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang lebih dari 2.000 mahasiswa. Itu buruk kawan!

Buruk yang sebenarnya
Oh ya, buruk yang sebenarnya itu adalah saat menunggu penempatan. Lamanya minta ampun. Itu sangat-sangat buruk kawan! Sekian.

Referensi:

http://www.prodip-stan.com/2011/10/d1-stan-seburuk-itu-kah-atau-justru-itu.html

http://www.stan.ac.id/
http://situs-snmptn.blogspot.com/2012/07/review-jurusan-d1-stan.html