My office, my college

March 17, 2013 § 4 Comments

“Kenapa mau saja Drop Out dari sebuah kampus ternama kemudian memilih masuk ke dunia yang lain saat kebanyakan teman seusia masih asyik dengan bangku-bangku kuliahnya?”

Pertanyaan yang seringkali muncul dari orang-orang.

“Apa ingin seperti Steve Jobs atau James Cameron atau Mark Zuckerberg yang keluar dari kampus mereka untuk mengejar impian mereka?”

Pertanyaan lagi.

Hmm… Tidak, terlalu hebat kalau seperti itu.

Aku hanya malas. Ya, hanya malas. Malas menghabiskan waktu-waktu hidup belasan tahun hanya duduk manis dan mendengarkan setiap doktrinasi para guru.

Tidak, aku tak mengatakan itu sesuatu yang buruk dilakukan. Dan aku bukan pula seorang radikal yang membenci sekolahan. Harus diakui, sekolah yang membuat kita tumbuh dewasa dengan berbagai pengetahuan.

Sekali lagi, ini hanya soal bosan. Sama seperti temanku yang sudah jarang sekali makan nasi, hanya karena bosan bertahun-tahun makan nasi.

Pilihan itu juga soal hati, soal pembicaraan di sebuah sujud di suatu malam. Dan itu tak terlalu berhubungan dengan analisis-analisis panjang atau rumit dalam menentukannya. Sekali lagi, hanya soal hati. Bahkan terkadang kita juga bingung untuk memaparkan alasan-alasan menyakinkan kepada orang lain tentang pilihan itu.

Bukan soal penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan penghasilan Junior Auditor di sebuah KAP ternama seperti informasi adikku. Atau yang hanya berbeda beberapa ratus ribu rupiah dengan gaji dan tunjangan ayahku yang merupakan Kasubdit di sebuah lembaga pemerintahan. Tidak, terlalu kerdil jika alasannya demikian.

Bukan pula soal cita-cita dakwah yang sedemikian besar, mendakwahi 31.000 pegawai pajak dan 60.000 pegawai kemenkeu. Terlalu raksasa, walau dakwah memang harus menjadi pekerjaan utama sebelum apa pun. Aku lebih suka berfokus di luar, bukan di institusi.

Berkali-kali ku katakan, ini soal hati. Dan aku hanya paham, aku harus mengikuti arahannya.

Namun, kemudian, aku sadar, kehidupan sebenarnya ada di hiruk-pikuk manusia-manusia yang mencari penghidupan.

Di sini, di sebuah kantor pajak, ada pelajaran sesungguhnya yang di dapat. Walau masih menunggu SK Penempatan, tapi aku diberi kesempatan untuk belajar dahulu.

Di kantor yang kata orang-orang dipenuhi para mafia (walau dari dulu aku selalu percaya, mafia selalu menjadi minoritas), aku menemukan orang-orang yang memberikan banyak pelajaran.

Dari seorang satpam manis berusia dua puluh tahunan yang tidak malu menjalani profesinya sambil berkuliah di salah satu kampus di Tangerang Selatan. Hingga seorang Ibu pimpinan cantik yang selalu mengayomi kami dan mendengar selalu membuka lebar ruangannya untuk kami.

Ada juga kisah saling membantu dalam melaksanakan tugasnya. Sewaktu aku di seksi pemeriksaan, seringkali pemeriksa dibantu teman pemeriksa yang lain dalam melakukan tugas pemeriksaannya. Juga sama halnya saat aku di seksi pelayanan, seringkali petugas TPT yang berhalangan, digantikan oleh staf pelayanan yang lain walau staf tersebut juga memiliki tugas lain yang juga banyak. Meskipun juga ada yang tidak mau masuk dalam sistem gotong royong ini dan asyik dengan tugasnya sendiri.

Jarang sekali ada sikap angkuh, bagiku, kebanyakan ramah. Bahkan tidak jarang beberapa pegawai senior dan pimpinan seperti kepala seksi serta supervisor mengajakku ngobrol. Sampai juga menanyakan keadaan diri dan keluarga.

Beberapa pegawai masih bisa tersenyum jika aku atau teman-temanku, para junior, melakukan kesalahan. Pernah suatu saat kami melakukan kesalahan yang menyebabkan hilangnya puluhan juta rupiah. Namun, kesalahan itu segera dibantu diperbaiki masih dengan senyum ketir pegawai senior itu. Tidak lantas marah-marah. Padahal kami sadar harusnya kami dimarahi saat itu juga.

Seringkali justru para pegawai senior ini yang membawakan berkas-berkas kerjaan ke meja kami. Padahal berkas-berkas itu lumayan berat dan pegawai senior itu juga seorang wanita. Berkas-berkas itu sebenarnya dapat kami ambil sendiri. Namun, para pegawai senior itu tidak mau menyusahkan kami lebih banyak.

Selain itu, ada juga kejadian mendengar cerita, curhat, bahkan hujatan dari para wajib pajak (WP) yang datang ke kantor. Dari WP yang berkeluh kesah tentang pekerjaannya, hingga WP yang marah-marah tentang sistem bahkan mengejek gayus. Juga ada yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan tidak penting, atau tidak berhubungan. Seperti ada yang menanyakan cara mendirikan perusahaan yang harusnya dia tanyakan pada kantor notaris, bukan kantor pajak.

Sekali lagi, aku banyak belajar di sini. Belajar sesungguhnya. Belajar lebih baik. Belajar tentang arti hidup dari orang-orang yang mencari penghidupan.

Tagged: , , ,

§ 4 Responses to My office, my college

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading My office, my college at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: