Catatan 19 Tahun: Akselerasi Kehidupan

February 20, 2013 § 6 Comments

19 tahun hidup, dan harus banyak yang direnungi. Harus banyak yang disyukuri. Harus banyak yang perlu ditangisi. Karena waktu adalah soal jatah kehidupan. Tak pernah ada yang tahu pasti, di detik berapa ia akan berhenti.

 

Soal syukur, apa yang lebih baik daripada engkau mengenal hal yang disebut ‘Hidayah’. Dari sesorang yang tak peduli kehidupan menjadi yang belajar betapa pentingnya setiap aliran naskah kehidupan yang sedang dijalani. Walau sejatinya hidayah adalah proses untuk terus belajar.

 

Proses belajar ini pula yang harus disyukuri. Karena diberi kesempatan untuk mengakselerasi diri. Seperti diamanahkan menjadi Ketua salah satu ekskul bergengsi di sekolah, Rohis, saat masih kelas Satu SMA, akselerasi, walau tak maksimal dan banyak kesalahan. Tapi, apa yang lebih baik daripada banyak hal yang kau dapat dari kesalahan-kesalahan itu.

 

Lalu, diberi kesempatan untuk bersama teman-teman membangun organisasi antar sekolah saat itu, FORTRIS yang kemudian tumbuh besar, akselerasi. Walau beberapa tahun ini malah mengerdil. Tapi, sekali lagi tak perlu dirisaukan terlalu dalam. Karena setiap tahap ada masanya. Yang penting pengambilan hikmah terus dilakukan.

 

Kemudian, diamanahkan pula menjadi Ketua KAPMI kala itu saat kelas Dua SMA, akselerasi. Belajar tentang pola pikir dan semangat pengorbanan. Mengerti panasnya jalanan, berisiknya mobil sound, pusingnya rapat malam serta hal-hal menarik lainnya yang tak didapat anak SMA biasa.

 

Dan dari sana juga belajar bahwa sejatinya setiap goresan kehidupan telah diatur. Mungkin ada hal yang menyakitkan. Namun, skenario kehidupan telah diatur. Sehingga kelas Tiga SMA bisa fokus menikmati bangku sekolah untuk menghadapi ujian-ujian selanjutnya.

 

Kuliah pun telah dituliskan takdirnya. Menimba ilmu di kampus terbaik di Depok, bahkan di Indonesia. Di Jurusan yang tak dipahami, tapi akhirnya mencintainya. Hanya tiga bulan dan sudah cukup mencintai. Karena yakin tak ada yang lebih baik dari pilihan hati yang telah memilih di sujud-sujud istikharah.

 

Pindah kuliah, lalu melanjutkan dan menyelesaikan kurang lebih hanya sepuluh bulan. Lucu memang, mengenakan toga yang kemudian talinya dipindah dari kiri ke kanan, padahal belum genap setahun menimba ilmu. Tapi sepertinya akselerasi kehidupan terus berjalan.

 

Tak perlu lama-lama belajar di satu fase. Muncul fase berikutnya. Menganggur tiga bulan. Namun amat menikmati dari mulai tiduran di rumah, travelling, hingga aktif di berbagai organisasi. Tanpa beban.

 

Belajar menganggur pun tak perlu lama-lama juga sepertinya. Karena selain tak terlalu penting, susah juga hidup tanpa rutinitas dengan sebelumnya rutinitas membiasakan dari mulai kecil. Ku ajukan Magang untuk mengganti proses belajar yang tanpa PKL di kuliah kemarin.

 

Dan sekarang, sedang menikmati proses belajar Magang ini. Entah akan menjadi akselerasi atau tidak. Namun, berharap ini akselerasi pula. Dan beralih ke fase selanjutnya, Penempatan. Atau yang lebih baik dari itu. Amin…

 

Soal yang harus ditangisi, biarlah hati yang berbicara lebih banyak di berbagai kesempatan seperempat malam.

 

Sembilan Belas Tahun, umur tanggung. Hanya saja kalau di UU Perkawinan, sudah diperkenankan menikah… #Plak!

 

 

Baru sempat ditulis pada Kamis, 22 Februari 2013

00.50

Karang Tengah, Tangerang

 

 

Tagged: ,

§ 6 Responses to Catatan 19 Tahun: Akselerasi Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Catatan 19 Tahun: Akselerasi Kehidupan at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: