Konsistensi Cinta dalam Kerepotan

December 12, 2012 § Leave a comment

Badan kurus itu meringkuk dalam lesunya hidup, di pembaringan menanti keajaiban untuk sembuh.

“Hanya menunggu Mukjizat Allah saja” katanya dalam lemah.

 

Ah, kasihan benar orangtua itu, harus menikmati masa tuanya di pembaringan tak berdaya. Tak bisa makan karena pencernaannya bermasalah. Setiap kali makan, maka makanannya akan termuntahkan begitu saja.

 

Di rumah kontrakan -yang sudah menunggak tiga bulan- itu, aku datang bersama seorang temanku, mendapat tugas dari BSMI untuk mensurvey kondisinya. Ada adik dan putrinya yang menyambut kami. Dari cerita mereka berdualah kami tahu betapa repotnya mengurus Bapak ini, dari mulai mengurus makanannya yang tidak bisa masuk hingga pengobatannya yang harus ke sana kemari, berhubungan dengan berbagai macam proses administrasi demi mendapatkan pengobatan yang murah bahkan gratis.

 

Repot…

Karena harus berjibaku dengan kesibukan lain seperti pekerjaan dan keluarga.

Adiknya yang selama ini merawatnya pun cerita jika ia juga hampir lelah merawatnya. Putri satu-satunya belum bisa merawat sendiri bapaknya, suami putrinya tersebut  hanya bekerja sebagai Cleaning Service, dan hari kedatangan kami itu adalah hari pertama suaminya bekerja.

 

Kisah lain kerepotan itu pun ku dapati saat BSMI sedang Baksos kesehatan di Ciamis. Seorang pemuda tanggung menggendong kakeknya menuju tempat baksos. Kakeknya yang sudah berumur 80an tahun itu sudah tak mampu berdiri, kakinya bengkak, sedangkan lututnya sudah tua dan rusak.

 

Dari cerita cucu kakek tersebutlah kami mendapati bahwa selama ini yang merawat kakek tersebut adalah dia. Ia harus repot ke sana- sini untuk mengurus pengobatan kakeknya ini, apalagi dia orang yang tak mampu. Sedangkan anaknya sudah tak mau mengurusi lagi, mungkin karena kerepotan tadi.

 

Repot

Tapi dari situlah belajar arti pembuktian konsistensi cinta, ada orang-orang yang mau menyempatkan diri di antara kerepotannya untuk menambah kerepotannya.

 

Ah, jadi ingat, terkadang saat-saat dimana orangtua merepotkan, dan ku menggerutu atas itu. Padahal ada orang-orang lain yang bersedia merepotkan diri jauh lebih berat.

 

Hingga pada suatu malam, mama bertanya, “Kalau mama nanti tua, kamu mau merawat mama kan?”Pertanyaan yang hanya kujawab dengan senyum menggantung…

 

Hari-hari ini saja aku masih menggerutu akan kerepotan yang kau berikan, bagaimana nantinya. Semoga nanti mampu ku jawab dengan perbuatan, dan sekarang ku belajar untuk mengikhlaskan kerepotan darimu🙂

 

Seorang kakek digendong cucunya

Survei gakin

 

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Konsistensi Cinta dalam Kerepotan at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: