Belajar Seni Kematian

December 12, 2012 § Leave a comment

Kematian, kata seorang teman, ibarat pernikahan. Sudah ditentukan kapannya, masing-masing digilirkan.

Kalau pun banyak yang mengatakan kematian begitu memilukan dibandingkan pernikahan, maka bisa jadi tidak. Betapa banyak kematian berakhir bahagia, Happy Ending. Karena sejatinya bagi sebagian orang, terkhusus lagi orang-orang beriman,  kematian adalah awal mula kebahagiaan yang haqiqi.

 

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

 

Tentang kematian, teringat pula salah satu taujih Hasan Al Banna, “Orang yang bijak adalah orang yang mengolah seni kematiannya.”

 

Ya, kematian bisa menjadi seni, tergantung bagaimana kita memahaminya.

 

Seni kematian apa yang akan kita pilih, itu bergantung pada kita. Lebih banyak soal amal-amal kehidupan yang kita lakukan di dunia. Hidup dalam kemaksiatan dan hura-hura, maka seni kematian yang mungkin kita dapatkan tidak jauh dari itu. Sama hal-nya dengan kehidupan yang kita penuhi dengan amal islami dan jihad, seni kematian yang kita dapatkan pun seharusnya tidak jauh dari itu.

 

Hasan Al Banna pun juga telah memilih seni kematiannya, seni kematian yang cantik di antara desingan peluru sniper dalam pengemban amanah dakwahnya.

Lalu, seni kematian apakah yang akan kita pilih nantinya. Sudahkah kehidupan ini menjadi pengukir kematian yang baik nantinya. Atau mungkin sebaliknya.

 

Ah, mungkin masih muda. Masih banyak goresan cita yang ingin diwujudkan. Masih besar harapan kehidupan yang ingin direalisasikan.

 

Namun, siapa yang pernah tahu kapan kematiannya. Mengukur berapa banyak sisa kehidupannya. Bukankah banyak sahabat yang dulu masih sempat berjuang bersama, saling mendoakan, bahkan saling berdebat, akhirnya Allah panggil ke sisi-Nya.

 

Maka, hal ini harus dipikirkan baik-baik. Kembali mengolah kehidupan dalam mengukir seni kematian terbaik. Menghilangkan galau-galau yang menghantui kehidupan. Kembali melantukan doa-doa agar Allah matikan dalam syahid, dalam seni kematian terindah yang pernah ada di muka bumi ini.

 

Ala kulli hal,

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah juga kami kembali.

 

 

*Titip doa malam ini untuk saudara-saudara yang telah Allah panggil. Semoga kembali bertemu dalam indahnya syurga :’)

 

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belajar Seni Kematian at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: