December 12, 2012 § Leave a comment

Garis-garis takdir kita telah sampai pada titik temu perjumpaan kita.

 

Di tempat ini, semua bergumul mencari kisah takdirnya sendiri-sendiri. Meninggalkan kampung halaman, kampus lama, dan sahabat-sahabat yang kemudian akan dikenang. Bertemu wajah-wajah baru dengan jiwa mudanya. Belajar sesuatu yang baru, yang terkadang tak pernah muncul di benak sebelumnya. Hitung-hitungan yang berseling dengan hapalan peraturan.

 

Punggawa Keuangan Negara. Frase memikat pertama yang ku temukan di sini. Seolah ia adalah kumpulan kata yang memberikan gelar ksatria. Ksatria dengan berbagai kisah epik perjuangannya walau aku tak tahu persis apa yang akan dilakukan para ksatria ini, para punggawa keuangan negara.

 

Selalu kisah takdir tak mampu ditebak. Kumpulan orang-orang yang dipilih untuk menjalani tempaan menjadi punggawa keuangan negara tak semuanya paham kenapa takdir menggariskan hidupnya melampaui titik ini. Terlalu manis masa-masa lampau untuk dilepas begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan hadir, kenapa menjalani garis takdir adalah sebuah keharusan. Tapi, itu tanda berapa banyak syukur terpatri di hati. Semakin indah syukur, semakin tenggelam pertanyaan-pertanyaan itu.

 

Diploma satu, tak begitu istimewa untuk sebagian orang. Tapi, kemudian ada orang-orang yang arogan berbangga hanya karena masalah jumlah nominal yang akan mereka dapatkan. Ada juga orang-orang yang berkilah mengatakan kesuksesan tak semua merupakan kontribusi sekolah. Tak penting sebenarnya untuk terus mencoba mencari sebuah prestasi diploma satu untuk kemudian dipamer-pamerkan karena sejatinya diploma satu mengajarkan kita untuk selalu sabar dipandang orang atau selalu rendah hati dalam tingkah laku.

 

Takdir yang akan dijalani kemudian memang tak pernah bisa diketahui. Tapi, mencoba merajut cerita takdir selanjutnya tak pernah salah. Ada yang nantinya ingin melepas status pegawai kemudian mencari kehidupan lain. Ada yang hanya ingin menjalani sebaik mungkin dan membiarkan alir takdir membawa kemana pun karena kesenangan mereka bukan ditunjukkan dari pekerjaan. Ada juga yang ingin terus berkarier, menembus batas, menjadi dirjen, bahkan menteri keuangan, tanpa tahu bahwa menteri adalah jabatan politis bukan karier. Sekali lagi, tak penting ingin jadi apa, menjalani kehidupan selanjutnya dengan hati bahagia jauh lebih menentramkan.

 

Hidup menjalani muda dengan penuh tanggung jawab memang terkadang tidak mengenakkan di saat lain menjalani muda dengan penuh kerancuan hidup. Tapi, tanggung jawab lebih dari cukup mengajarkan kita berbagai hal dalam kehidupan dan kebahagiaan.

 

 

^Lima Belas Hari Sebelum Yudisium Program Pajak dan Satu Hari setelah Yudisium Program Bea Cukai^ Good Luck!🙂

 

19 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: