Ustadzah Yoyoh Yusroh

December 12, 2012 § Leave a comment

Ah, aku tak pernah kenal dekat dengan dirimu Bunda. Tapi, pagi itu, setelah menerima kabar kepergianmu, mataku basah berkaca-kaca. Ku pikir mungkin hanya sekedar basah karena ikut larut dalam euphoria kesedihan ini. Karena aku tak pernah mengenalmu secara dekat, aku hanya sering melihat dirimu saat berorasi dalam aksi-aksi kita. Atau dalam kisah-kisah yang dituliskan dan pembicaraan mengenai dirimu.

**************************************************************************************************

Setelah member tahu kabar duka itu, aku segera pergi ke sekolah, ada wisuda pelepasan kelas tiga hari itu. Acara yang cukup menyedot enerjiku dan baru selesai pukul setengah dua siang. Rasanya tubuh ingin remuk saja. Ingin rasanya segera tidur. Tapi, baru saja ku ingin mengganti bajuku. Ku baca sebuah sms jika Ustadzah Yoyoh akan dimakamkan di daerah Tangerang. Entah saat itu hatiku menggebu untuk bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya. Ku baca alamat itu, entahlah, ini alamat yang baru ku tahu. Ku cari di peta, ternyata alamat ini terletak di dekat airport, cukup jauh dari sini. Belum lagi alamat yang diberikan hanya sebuah alamat tanpa petunjuk untuk ancer-ancernya.

Entah kenapa aku segera berganti baju dan mengambil jaketku. Segera pergi, padahal nenekku di rumah telah menyiapkan makan siang.

Di sms tersebut pukul 10.00 jenazah beliau telah sampai di kalibata, artinya jika segera dibawa ke rumah duka, pukul 14.00 siang ini jenazah beliau telah sampai sebelumnya.

Alhamdulillah, sepertinya Allah mempercepat motorku saat itu, hingga sekitar pukul 14.30 aku telah bertemu seorang teman kepanduan. Beliau menunjukkan jalan menuju rumah Ustadzah Yoyoh, katanya sebentar lagi aku akan sampai. Tapi, ternyata aku salah mengambil jalan dan akhirnya tersesat jauh. Baru ashar aku sampai di rumah beliau. Aku berharap terus untuk sampai sebelum beliau dimakamkan.

Aku baru sampai di sana ashar, banyak kader yang melayat jenazah beliau. Aku melihat dari luar peti mati beliau yang diletakkan di sebuah ruangan sederhana yang bahkan belum dicat. Terlalu sederhana memang untuk pemakaman seorang anggota DPR RI.

Aku sholat ashar di mushalah dekat situ. Mataku kembali basah, hanya basah, tak sampai mengalir.

Beberapa kata sambutan seolah tak didengarkan, masing-masing kader yang hadir mulai menitikkan air matanya. Mataku pun kembali basah.

Sekitar Pukul 17.00, suami beliau, Ustadz Budi datang dengan masih berada di tempat tidur. Beliau juga sempat memberikan sepatah dua patah kata yang membuat masing-masing kader yang hadir saat itu semakin menitikkan air matanya.

Setelah itu, kedua anak lelaki ustadzah Yoyoh segera bersiap di liang lahat untuk memasukkan jenazah beliau. Peti mati pun dibawa diiringi tangisan para kader, dan aku pun ikut larut menangis saat itu, tak lagi hanya sekedar basah.

Pukul 17.30 jenazah beliau telah selesai dimakamkan. Jenazahnya tersenyum, tampak semua bayang-bayang kiprahnya semasa hidup dulu…

**************************************************************************************************

Ah, Bunda, aku tak pernah mengenalmu dengan dekat. Tapi, memang selalu begitulah kematian seorang mujahidah, terlalu memikat untuk tidak mengeluarkan air mata.

Bunga harakah pun telah selesai mekar, menguncup dalam syahdunya panggilan illahi. Aku tak pernah mengenalnya secara dekat, tapi seperti itulah pesona orang-orang mukmin. Terlalu memikat… :’) #Selamat jalan ibunda mujahidah…

Hari Kelabu, 23 Des 2011

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ustadzah Yoyoh Yusroh at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

%d bloggers like this: