Pukat Pekat Pagi….

Selalu, ada malam-malam dimana mimpi itu datang. Entah mimpi baik atau buruk, bahkan boleh jadi kita tak tahu itu mimpi baik atau buruk.

Tapi, begitulah pesona mimpi, ilusi yang membawa pikiran pergi ke bawah sadar. Mendalami setiap cerita yang terjadi di potong-potongnya.

 

Malam itu aku bermimpi. Tak istimewa mungkin, tapi mengajarkan sesuatu hal. Menanyakan sudah sesiap apakah jika hari itu datang. Walau mungkin angan-anganmu masih lama. Tapi, siapa yang tahu kapan ia akan datang. Bisa jadi mungkin lebih cepat dari apa yang diperkirakan. Tak penting kau tulis di karton impianmu, lima, enam, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Takdir selalu punya hitungan tersendiri.

 

Malam itu, orangtua menanyakan kesiapan dan calon. Lucu memang, mimpi kadang melupakan banyak hal. Termasuk umur kita. Walau masih baru beranjak dewasa dan banyak hal yang harus dipelajari, aku mulai menyeleksi orang-orang yang ada di pikiranku yang mungkin layak. Hanya saja, kemudian pikiran terhenti. Membungkus semua nama. Membuka sebuah buku kenangan. Terlalu banyak hal buruk untuk dilanjutkan. Terlalu tidak siapnya untuk melangkah lebih jauh. Terlalu banyak pilihan untuk dibuang…

 

Terbangun lalu mungkin belajar, bahwa hari-hari kemudian adalah persiapan. Entah kau menginginkannya atau tidak. Entah kau mau pada sampai titik itu atau tidak.

 

^Beberapa minggu sebelum wisuda^

6 September 2012

Akhirnya aku berlabuh di STAN jua ^^

Beberapa hari yang lalu, ada adik kelasku yang memintaku menulis kisahku hingga sampai sekarang ke STAN. Bagiku, nothing special. Tapi, tak apalah ku tulis, walau aku bingung bagaimana menuliskannya, tapi, semoga ada sedikit yang bisa diambil ^^

******************************************************************************

“Tiga satu” jawab ibuku singkat.

Aku terdiam cukup lama, antara percaya dengan tidak. Kemudian, sedikit ku refleksikan semua hal yang telah ku lalui selama kelas dua SMA ini. Memang ku akui terlalu banyak masalah yang harus ku hadapi, dari mulai masalah aktivitasku yang sering mendapat masalah, lalu keluarga, sahabat-sahabat dan yang pada akhirnya ikut merembet pada akademikku. Ku akui pula, banyak pelajaran di kelas dua ini yang belum ku pahami dengan baik.

Tapi, sampai pada peringkat tiga puluh satu dari empat puluh siswa bagiku merupakan sebuah rekor. Aku tak menyangka bahwa kejatuhanku sedemikian rupa. Aku juga tak mampu membayangkan bagaimana perasaan ibuku mengetahui anaknya yang telah naik ke kelas tiga dan kurang dari satu tahun akan menuju bangku kuliah hanya mendapatkan hasil akhir kelas dua yang amat kurang memuaskan.

Setelah pulang dari sekolah, tak banyak yang ibuku bicarakan di rumah. Ia bahkan kembali ke aktivitas biasanya, seolah tidak ada yang terjadi. Mungkin, pada akhirnya ia mendapat pembuktian kalau selama ini apa yang selalu dikatakannya untuk meninggalkan semua kegiatan di luar sekolahku itu benar. Atau mungkin ia tak peduli, toh, ia punya adikku yang cukup cerdas sehingga mendapatkan kelas akselerasi di sekolah yang lebih bagus dariku sehingga akan lulus pada tahun yang sama denganku.

Ada banyak pikiran yang merasukiku tentang diamnya ibuku. Seingatku, ibuku selalu banyak menasihatiku jika nilaiku turun sedikit saja. Tapi, kenapa ia diam saja saat nilai-nilaiku turun sedemikian drastis?

Terlalu banyak berspekulasi juga tidak baik. yang jelas, semua telah terjadi.

****

Sedih merasuk, dan bagiku itu wajar, bagaimana pun juga ada banyak yang perlu ku sedihkan. Selain akademikku yang jatuh sedemikian rupa, ada banyak masalah yang terus menerpaku. Sahabat-sahabat yang semula ku anggap bisa menjadi sandaran pun banyak yang malah menjadi masalah tambahan bagiku. Bahkan aktivitasku pun akhirnya banyak yang terhenti.

Awalnya, ku pikir, seolah semesta berkonspirasi untuk menjatuhkan mentalku sejatuh-jatuhnya. Frustasi awalnya menghinggap. Tapi, Alhamdulillah, semua kekecewaan tak lama. Justru malah semua itu membuatku terpacu untuk segera menyelesaikan SMA untuk meninggalkan seluruh luka yang ada dan pergi ke tempat yang lebih baik di universitas nantinya.

Waktu itu, aku bingung mau masuk jurusan apa nantinya. Tapi, seingatku, semua motivator bilang kalau kita harus pasang target setinggi-tingginya. Maka, dengan bismillah ku tekadkan untuk masuk jurusan “Kedokteran”.

Walau terkesan bodoh, -dengan melihat nilaiku sebelumnya- tapi, justru hal ini lah yang membuatku untuk turut bertekad belajar sekeras-kerasnya. Karena target yang tinggi secara otomatis membutuhkan kerja yang besar.

Tapi, ternyata belajar itu tak sesulit yang ku bayangkan, ditambah lagi banyak konsep yang belum ku kuasai sepenuhnya di kelas dua. Maka, sambil belajar pelajaran kelas tiga, aku kembali mengulang-ngulang pelajaranku di kelas dua.

Sedih, bahkan kadang menangis. Banyak pelajaran yang susah ku pahami dengan baik. Padahal banyak teman yang sudah menguasainya dengan baik.

Berjalannya waktu, Alhamdulillah, akhirnya aku mampu mengejar ketertinggalanku. Walau masih standar, tapi setidaknya semester satu kelas tiga nilaiku meningkat.

****

Semester dua kelas tiga adalah masa-masa yang mendebarkan. Masa dimana yang berarti Ujian Nasional (UN) hampir di depan mata. Kebanyakan orang, termasuk aku semakin menambah porsi belajarnya, mengulang-ulang pelajaran yang sudah dimengerti dan mempelajari dengan serius yang belum dimengerti.

Tapi sayang, ada budaya buruk yang selalu ada di setiap UN. Apalagi kalau bukan “bocoran”. Seluruh kelas di sekolah sibuk masing-masing berkoordinasi untuk bocoran ini, termasuk kelasku.

Satu kelas semua seolah sepakat bahwa ini hal yang lumrah dilakukan. Tapi, tidak denganku, walau ku akui aku juga pernah mencontek beberapa kali, aku tak ingin ujian terakhirku di SMA berakhir dengan sesuatu yang jelek. Bukankah ini yang akan menentukan langkahku beberapa tahun yang akan datang juga.

Saat aku sedang bimbang, tiba-tiba saja satu kelas sepakat menunjukku untuk menjadi salah satu koordinator bocoran ini. Lansung saja spontan ku tolak, dan ku katakan pula aku tak ingin ikut-ikutan dalam bocoran ini. Teman-teman kelasku cukup baik, mereka mengerti. Tak ada yang mencemooh atau sebagainya. Walau mereka tetap melanjutkan “rapat koordinasi” mencontek tersebut.

Setelah itu, aku langsung berlari ke masjid sekolah untuk sholat dhuha. Jujur saja, aku masih ragu untuk menolak bocoran itu, walau sudah ku katakan aku menolaknya dengan tegas. Karena aku masih ragu bisa melewati UN dengan nilai baik. Walau tahunku nilai UN dibantu oleh nilai Ujian sekolah –yang pasti sudah bagus-, tapi tetap saja aku tak ingin nilai UNku pas-pasan. Apalagi dalam matematika, masih banyak pelajaran yang belum ku kuasai dengan baik -terutama trigonometri, mumet-

Selalu ku ulang QS Muhammad ayat 7 berkali-kali. Apalagi semakin dekat UN, tinggal matematika yang belum ku kuasai. Ditambah nilai try out untuk matematika tidak pernah dipublish guru yang bersangkutan, entah karena apa. Kadang sempat terpikirkan untuk memakai bocoran, tapi hanya untuk matematika. Ya, cuman matematika.

Situasi bimbang nan galau ini pun didukung oleh teman-teman yang bahkan bersedia memberikan bocoran gratis padaku. Tapi, ku tegaskan sekali lagi pada mereka –walau dalam kondisi hati bimbang- bahwa masalahnya bukan terletak pada uang, tapi pada momen penting yang harus dijaga.

Dan pada akhirnya, beberapa minggu sebelum UN, Allah telah menancapkan tekad itu padaku. Walau apa pun yang terjadi, aku takkan memakai bocoran itu. Bismillah!

****

Tiba saat yang dinanti-nanti, UN!

Awalnya aku hanya sendiri yang tak menggunakan bocoran. Tapi, Alhamdulillah, beberapa temanku yang semula akan memakai bocoran ternyata mengurungkan niatnya. Tidak hanya dari kelasku saja. Tapi juga dari kelas-kelas lain. Sehingga aku pun tak sendiri J

Semua rangkaian UN Alhamdulillah terjalani dengan baik. Walau matematika aku bisa mengerjakannya. Tapi, tak terlalu yakin bisa menembus angka minimal delapan.

Pada akhirnya, ku pasrahkan semua pada Allah. Biar Allah yang memberikan nilai terbaik.

****

Pengumuman UN, sesuai dugaan, semua dinyatakan lulus. Tapi, aku berdebar-debar menanti nilai dibagikan. Semoga jangan pas-pasan, harapku.

Semua dipanggil oleh wali kelas satu persatu untuk diberitahu nilainya. Hingga tiba giliranku, aku dipanggil dan diberi tahu bahwa rata-rata nilaiku delapan koma. Setelah itu, aku diberitahu rincian nilainya. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat nilai matematikaku, “9,75”

Subhanallah, Allah tak pernah menyia-nyiakan hambanya. Kembali, ku ingat QS Muhammad ayat 7 yang sering kuulang-ulang.

****

Pendaftaran SNMPTN tulis dibuka. Setelah kedua anaknya gagal di SNMPTN undangan, orangtuaku lebih banyak menyarankan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi yang gradenya tidak terlalu tinggi.

Awalnya, aku hanya akan ikut ujian IPA. Tapi, adikku yang mengambil ujian IPC berusaha meyakinkan aku untuk ikut IPC. Katanya sebagai cadangan saja IPSnya. Aku pun mengiyakan dan aku pun memilih akuntansi UIN sebagai jurusan di IPSnya.

Setelah ujian –yang cukup menegangkan bagiku-, hasilnya pun diumumkan sebulan kemudian, dan Alhamdulillah, justru aku lolos di pilihan “cadangan” itu, yakni, Akuntansi UIN.

Kemudian,  Alhamdulillah, di UM Undip dan SIMAK UI pun aku lolos. Di Undip dapat “Menejemen Sumber Daya Perairan” –Entahlah, jurusan apa ini, iseng banget milihnya- dan di UI dapat “Ilmu Hukum”.

Aku yang awalnya galau karena tidak tembus SNMPTN Undangan, sekarang galau lagi karena ada dua pilihan yang harus ku pilih, antara Akuntansi UIN dengan Hukum UI –Lupakan yang Undip-. Bagaimana pun, aku menyukai ekonomi, -walau gak ngerti akuntansinya- dan aku tak terlalu mengerti apa yang akan ku lakukan jika aku mengambil hukum. Ditambah biaya kuliah di UI yang cukup lumayan.

Di masa-masa galau itu, akhirnya ku putuskan untuk mengambil Akuntansi UIN dengan berbagai pertimbangan.

Tapi, di hari terakhir pembayaran uang masuk UI, tiba-tiba pikiranku berubah. Hatiku ingin masuk UI. Aku segera mengatakannya pada orangtuaku. Orangtuaku yang keheranan segera mencairkan uangnya yang memang disimpan untuk masuk kuliah kedua anaknya.

Uang yang cukup lumayan itu segera ku setor ke Bank. Bismillah, semoga ini yang terbaik, doaku dalam hati.

****

Resmilah aku menjadi mahasiswa fakultas hukum UI. Semua ku jalani dengan baik, dari mulai daftar ulang hingga ospeknya.

Walau telah menjadi mahasiswa, aku masih punya satu hutang lagi, yakni ikut USM STAN. Aku sudah bayar dan pemberkasan sejak lama. Dan ibuku dari dulu ingin sekali anaknya masuk STAN. Apalagi setelah aku gagal “mendaftar” di beberap PTK lainnya seperti STIS, STSN dan lain-lain. Ya, gagal mendaftar, bukan gagal di tesnya. Aku sering kelewatan informasi mengenai pendaftaran PTK.

Berbekal dua pensil, satu penghapus dan satu rautan yang baru ku beli paginya di Indomart dan beberapa berkas yang diperlukan, aku ikut tes.

Subhanallah, tesnya yang dilaksanakan di gelora bung karno memang memberikan tekanan mental yang luar biasa. Di situ, aku bisa melihat satu lingkaran gelora yang dipenuhi para peserta ujian yang hampir semua membuka buku-buku soal USM dan lembar-lembar soal diulang dan dibolak-balik.

Aku hanya bisa melongo melihat fenomenana ini. Aku lupa, aku jarang belajar soal USM ini. Bahkan pada saat tes pun, aku lupa membawa buku. Setidaknya untuk belajar sedikit saja sebelum menghadapi tes.

Karena tidak ada kerjaan, aku sibuk meraut pensilku pelan-pelan. Sampai seorang pengawas ujian mengajakku ngobrol. Mungkin dalam hatinya berpikir, “kasihan banget ini anak, gak ada persiapan”

Pada saat tes pun banyak soal yang tak ku bisa. Bahkan soal TPA belum selesai ku baca semuanya.

Dengan mengucap hamdalah, aku memasrahkan semua kepadaNya.

Pulang dari tes, ibuku berkata, “semoga lolos ya” sambil tersenyum.

Ah, ia tak tahu, aku pusing mengerjakan soal yang sedemikian ribetnya itu. Dan menurut perhitunganku, kemungkinan besar aku takkan lolos. Tapi, pikirku, tak apalah, aku sudah kuliah ini.

****

Ibuku selalu menunggu pengumuman itu, bahkan malamnya ia selalu membuka-buka internet, berharap pengumuman itu sudah dipublish.

Paginya, di hari pengumuman, server STANnya rusak. Mungkin terlalu banyak yang mengakses. Dalam hati aku senang, berarti tidak ada pengumuman yang ku pikir pasti akan mengecewakan ibuku.

Pagi itu, aku langsung pamit berangkat ke kampus setelah berkali-kali tidak bisa mengakses web pengumumannya.

Tapi, sampai di kampus, ada satu sms yang masuk ke HPku, dari ibuku, “Alhamdulillah, sesuatu banget, namamu ada di pengumuman”

Hah?! Aku terkejut. Pertama, kenapa ibuku jadi ngikut-ngikut syahrini. Kedua, kenapa aku bisa lolos, padahal kemungkinannya sangat kecil.

****

Aku pun, mengikuti tes lanjutannya, yakni tes kesehatan dan tes wawancara. Dan Alhamdulillah lolos semuanya.

Ada cerita menarik lagi di tes kesehatan yang akhirnya menyisihkan seribu orang dari 2.700 menjadi 1.700 orang yang lolos.

Aku cuman dapat lari mengelilingi lapangan bola sebanyak 4 kali dalam waktu 12 menit. Berbeda sangat jauh dengan teman-teman yang lain, yakni, untuk laki-laki 5-6 kali putaran. Tapi, entahlah, Alhamdulillah, sekali lagi Allah menolong. Aku dinyatakan lolos tes kesehatan.

Tes wawancara pun cuman formalitas, hampir semuanya dinyatakan lolos.

****

Setelah diterima di STAN, aku kembali diharuskan galau. Antara tetap bertahan di UI atau pindah ke STAN. Dengan berbagai pertimbangan, dari segi waktu, biaya, opportunity dan lain-lain, aku memilih meninggalkan UI dan pindah ke STAN.

Banyak teman yang menyayangkan hal tersebut. Apalagi teman-teman di UI yang sudah banyak dekat denganku. Tapi, hidup itu pilihan. Insyaallah istikharahku juga menunjukkan bahwa aku harus pindah ke STAN. Berat memang, tapi, ada hadis yang mengatakan, “takkan rugi orang yang beristikaharah”. Entahlah, istikharah kali ini sepertinya lebih jelas ketimbang saat aku dulu beristikaharah untuk memilih antara akun UIN dan hukum UI.

Di STAN, ternyata memang menyenangkan, ada suasana yang tak ku dapat dulu di UI, yakni, kesederhanaan, kerja keras dan tekad. Ternyata Allah menunjukkan jalan terbaiknya.

*******************************************************

Seindah apa pun kisah itu, hanya pelaku kisahlah yang mampu merasakan betul-betul indahnya kisah tersebut. Banyak hal yang ku dapatkan setelah Allah menjadikanku peringkat tiga puluh satu dari empat puluh siswa hingga menjadikanku sebagai mahasiswa STAN. Dan yakin, bahwa Allah takkan pernah meninggalkan hambanya walau sedetik pun. Kebaikan akan dibalas kebaikan pula. Man Jadda Wajada. Innallah ma’ana ^^