Lelaki yang Menjadi Suami Buncit

Dua hari sebelum menikah, saya menimbang demi membuktikan mitos jika setelah menikah, berat badan dipastikan akan melonjak naik. Saya mencatat dengan seksama berapa berat badan pada saat itu.

Hingga dua bulan setelah menikah, setelah baju mulai sesak, saya baru menimbang kembali. Ternyata mitos tersebut benar adanya. Saya sudah naik 6 kilo selama dua bulan! Jadi setelah menikah, tiap bulan rata-rata saya naik 3 kilo! Pantas saja baju-baju kantor slim fit yang dahulu memperlihatkan lekuk tubuh, berganti menjadi memperlihatkan timbunan lemak.

Kata orang-orang ini pertanda bahagia?

Bisa jadi iya. Dibandingkan saat bujang yang tidak terlalu peduli kapan waktu untuk makan, setelah menikah saya jadi lebih disiplin soal makan sehari tiga kali. Walau tidak setiap waktu makan selalu disiapkan, minimal ada yang mengingatkan untuk makan. Ada yang menunggui di rumah untuk makan malam. Selain itu, makan yang dahulu sendiri, kini ada yang menemani, berbagi cerita sembari makan, hingga tahu-tahu sudah habis banyak. 😀

Namun, bahagia sama seperti hal lainnya di dunia ini, harusnya tidak boleh terlalu berlebih. Apalagi bahagia dalam wujud perut buncit yang bisa jadi menimbulkan banyak penyakit sudah selayaknya untuk segera dihentikan.

Bukankah sehat bersama lebih baik daripada buncit bersama. Maka sebagai awal resolusi 2017 ini, marilah kita menyehatkan badan, mengakhiri segala penjajahan kemalasan untuk berolahraga.

 

Kwitang, 12 Januari 2017

Ditulis samba ngopi dan ngemil

 

C360_2017-01-12-19-44-48-068.jpg

Menikah Tak Segampang dan Sesulit Itu

Setelah melalui persetujuan kedua keluarga masing-masing, dipilihlah tanggal 1 Oktober 2016 sebagai hari pernikahan kami.

Tanggal yang kemudian membuat kami hanya memiliki waktu tiga bulan saja untuk mempersiapkan segalanya. Kami pikir tiga bulan adalah waktu yang cukup, tapi ternyata pemikiran kami tidak sepenuhnya benar. Tiga bulan yang terpotong liburan lebaran itu harus dilalui dengan pontang-panting ke sana-kemari, bergulat dengan berbagai proses yang melelahkan. Menghabiskan weekend tanpa istirahat, bahkan sesekali pulang pergi Jakarta-Tasikmalaya. Belum lagi terkadang pulang kantor pun harus rela berlelah-lelah demi persiapan pernikahan.

Kami memang tidak menargetkan pernikahan yang sempurna lagi mewah. Hanya saja, kami menyakini bahwa pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup dan merupakan pertemuan berbagai keluarga, sahabat, dan handai taulan yang telah merelakan waktunya untuk melakukan perjalanan jauh menuju tempat resepsi, sehingga harus dihargai dengan persiapan sebaiknya-baiknya.

Untuk biaya pernikahan pun sedari awal sudah kami anggarkan serendah mungkin dengan bertanya sana-sini. Pada prinsipnya acara menyesuaikan anggaran, bukan sebaliknya. Undangan kami cetak di pasar tebet yang memang terkenal murah. Souvenir kami beli di pasar jatinegara setelah tawaf seharian mengelilingi pasar tersebut mencari souvenir yang cocok di hati dan kantong. Cincin kawin kami beli di Tasikmalaya, sedangkan mas kawin berupa gelang kami beli di Cikini yang memang pusatnya emas perhiasan.

Sementara untuk Wedding Organizer, kami mencari yang direkomendasikan beberapa teman yang menikah di Tasikmalaya. Wedding Organizer ini pun bukan yang biasanya bersifat all-in satu paket, mereka bertugas saat acara saja dan hanya mencarikan serta menghubungkan vendor-vendor pernikahan seperti dekorasi gedung, sewa gaun pernikahan, dokumentasi, dan sebagainya. Sehingga kita bisa dengan leluasa mengatur vendor mana saja yang kita pakai sesuai keinginan dan anggaran yang tersedia. Misalnya saja, saya dan istri ingin ada kembang api di pernikahan, Wedding Organizer inilah yang bertugas mencarikan.

Selain itu, di tiga bulan itu, kami juga melakukan foto prewedding dengan searching di internet. Dan akhirnya kami menemukan suatu tempat foto di bilangan kota Tangerang yang cukup murah dibandingkan yang lain karena sedang diskon lumayan. Hasilnya pun juga memuaskan.

Oh ya, di tiga bulan yang sempit itu, dua minggu sebelum pernikahan, kami juga mengadakan acara lamaran yang menghadirkan dua keluarga,. Jadi sebenarnya tanggal pernikahan ditentukan sebelum lamaran. Walau sebelumnya saya telah melamar secara informal ke keluarga istri, namun untuk formalnya kami mengadakan acara lamaran sederhana. Jadi betapa sempitnya persiapan pernikahan ditambah dengan persiapan lamaran.

Namun, di akhir semua kelelahan selama tiga bulan tersebut, prewedding, lamaran, dan persiapan resepsi, semua kemudian terbayar manis di meja penghulu. Di saat ijab kabul yang mendebar-debarkan terucap lancar diringi suasana syahdu pernikahan.

Pelajaran

Di balik proses persiapan menikah tiga bulan itu kami banyak belajar, ternyata menikah itu tidak segampang yang dijargonkan para motivator di media sosial selama ini. Menikah selain butuh kemapanan harta (karena seringkali ada biaya tidak terduga dari budget yang dianggarkan) dan fisik (karena prosesnya yang melelahkan), juga butuh kesiapan mental. Konon, semakin mendekati hari pernikahan, syaitan akan semakin menyelusup dalam rupa keragu-raguan akan pilihan kita. Betapa sering ada berita pernikahan yang dibatalkan begitu saja saat mendekat hari H. Mungkin ini disebabkan karena memang tekanan saat persiapan pernikahan sangat besar. Persiapan pernikahan yang melelahkan kadang kala membuat komunikasi hubungan jadi renggang,  juga pertengkaran karena perbedaan pendapat di balik pemikiran dua kepala (bahkan dua keluarga) juga sering kali muncul saat menentukan konsep pernikahan, sehingga mencari jalan tengah untuk keduanya adalah salah satu pekerjaan yang terunyam dalam mempersiapkan pernikahan.

Namun, menikah juga tidak sesulit yang dibayangkan para single tuna asmara. Di balik kesulitan anggaran pernikahan yang kadang kala membengkak, di situ sering kali ada kemudahan rezeki, entah itu berupa bonus kantor atau sebagainya.

Juga walau kadang ada ragu menyelisik saat persiapan pernikahan (dan itu wajar), tapi yang harus dipahami adalah bahwa setiap orang memiliki kekurangan, dan telah dijodohkan seseorang yang terbaik untuk kita dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya dan kita pribadi.

Kami juga belajar, menikah itu pada intinya memurnikan niat untuk ibadah untuk menjalankan perintah-Nya. Tentu di balik setiap ibadah yang dilakukan, ada ujian-ujian yang menyertainya. Namun, di setiap ujian ibadah, tentu selalu dijanjikan adanya kemudahan di dalamnya. Yakinlah!

Salam.thumb_CSLN3060_1024.jpg

Selamat Setahun

Tepat setahun lalu, kita bertemu.

Di tengah hujan rintik-rintik penada bulan penghujan Desember, kita membawa kisah petualangan masing-masing. Bercerita kemana saja, dengan siapa, bagaimana prosesnya, apa hasilnya, hingga akhirnya setelah tiga setengah tahun lamanya bisa kembali duduk bertatapan satu meja. Saling memandang, saling mengagumi, lalu mengulang saling jatuh cinta.

Kita mungkin tak perlu pertemuan seperti Rangga dan Cinta yang tiba-tiba bertemu di kota lain secara kebetulan, atau pertemuan tabrakan tidak sengaja di jalan ala-ala sinetron FTV tengah malam. Pertemuan kita sederhana, direncanakan kita berdua, namun dirancang tindak lanjutnya oleh semesta.

Semesta yang kemudian bekerja mempersatukan dalam takdir yang telah tertulis jauh-jauh hari dalam kitab-Nya dalam rentang waktu yang tidak lama. Dengan segala kesungguhan kita akhirnya menikah. Tanpa banyak kata, tanpa banyak alasan, tanpa banyak drama, namun penuh kegembiraan.

Hingga kemudian, kita mengikat diri dalam suci, dalam ucapan yang tak lebih dari satu menit dengan perjanjian berat yang membahagiakan. Menyelesaikan kisah yang bertahun-tahun dulu mengambang dengan segudang tanya yang kini telah terjawab semua.

Kemudian memulai lembaran baru, dari halaman satu yang katamu tidak boleh terlipat. Kalaupun ingin dijeda harus dengan pembatas yang bagus agar tetap rapi. Dan aku pun juga ingin menyelesaikannya dengan rapi pula denganmu. Tanpa lipatan apalagi sobekan. Menyelesaikan dengan alasan yang memang telah habis lembarnya.

Kwitang, 13 Desember 2016

Tepat setahun yang lalu kami bertemu kembali.

 

img_20161010_155429-1

Kepada Dewi

Aku tidak percaya cinta pandangan pertama
Tapi aku ingat pada pandangan pertama kamu terlihat manis

Sama tak yakinnya aku pada cinta abadi
Tapi aku tahu tujuanku abadi bersamamu

Aku takkan seromantis Romeo menciumi racun padamu
Mungkin aku akan seperti Nuh yang membiarkanmu menentukan pilihan
Tapi aku akan seperti Adam yang akan merindukanmu setiap hari
Dan mencarimu ribuan kilometer

Lalu pada detik yang telah, sedang, dan akan berlangsung, terlantun harap yang penuh suka cita
Serta bait-bait yang takkan pernah aku lupa

images-1

September

Tak terasa sudah bulan ke sembilan di tahun ini. Entah waktu yang terlalu cepat atau saya yang terlalu sibuk sehingga tidak sadar waktu telah berlalu begitu lama. Namun Sepertinya saya yang alay sehingga lupa waktu di dunia yang ‘katanya’ hanya senda gurau.

Selamat datang september ceria, semoga selanjutnya makin ceria. Seperti kata orang-orang dahulu, bulan-bulan yang berakhiran “-ber” akan sering diliputi keberkahan hujan.

Btw, gimana kabar dunia blog? Semua baik-baik saja kan? Kamu baik-baik saja kan?

Aku rindu.

Cerita Empat Bulan

Semenjak menginjakkan kaki di kantor baru ini, saya jadi malas menulis di WP. Mungkin karena berbanding lurus dengan malasnya saya membaca.

Entahlah, setiap kali pulang, rasanya hanya ingin memeluk guling dan tidur. Kemudian bangun keesokan paginya dan berangkat lagi ke kantor. Begitu setiap hari senin hingga jumat. Karena terjebak rutinitas itu, setiap ada hari libur saya habiskan main di luar, jalan-jalan ke kota lain atau hanya keliling-keliling ibukota. Kadang pula dihabiskan berorganisasi dan bertemu teman-teman. Habislah waktu saya setiap hari. Tidak sempat nge-WP. Jangankan nulis di WP, baca buku saja mulai jarang.

Gini ya rasanya kalau udah jadi orang dewasa, dihabisi oleh waktu. Saya berasa tua lebih cepat. Haha…

Saya bukan tak menikmati di kantor baru ini yang sudah empat bulan menjadi tempat bernaung saya. Menikmati banget malahan. Hanya saja, kadang saya rindu untuk bisa bebas seperti zaman nganggur dulu. #ehh 😀

Tapi mungkin ini tantangan dari Tuhan untuk saya, belajar bagaimana mengatur waktu…

Okelah, saya mulai bertekad harus menyempatkan diri untuk nge-WP. Mulai dari hari ini, mulai menulis kembali.

Sebaiknya dimulai dari menulis hal-hal menarik di kantor selama empat bulan menghilang dari WP ini. 🙂

****

Tapi, apa yang menarik ya? Haha…

Pertama, saya baru tahu kalau di kantor ada perpustakaan yang nyamannya minta ampun. Kalau lagi suntuk bisa datang ke sini dan tidur, eh, maksudnya istirahat. Tapi sayang bukunya tidak selengkap yang saya perkirakan. Tapi semoga saja lambat laun ada perbaikan sehingga tidak hanya nyaman, bukunya juga lengkap.

Kedua, ada masjid yang juga sama nyaman dan dinginnya. Jangan sekali-kali sholat di sebelah AC-nya kalau nggak mau menggigil kedinginan. Dan juga di masjid inilah banyak kajian. Lumayanlah menambah ilmu agama di tengah penatnya kehidupan.

Lalu, di kantor juga sering ada acara, entah itu bazar, pameran, seminar, bedah buku, atau bahkan pentas seni.

Pernah suatu saat dipaksa oleh Ibu bos buat ikutan jadi grup vokal direktorat saya. Waktu itu yang berhasil dipaksa hanya tujuh orang. Sudah cuman bertujuh, waktu latihan juga mepet, dan kemampuan yang berbeda-beda, jadilah penampilan direktorat kami seperti apa adanya. Padahal direktorat lain personilnya ramai-ramai bahkan sampai satu direktorat diikutkan. Ada juga yang bahkan mengundang pelatih dari Twilight dan Purwacaraka.

Matilah kita di panggung saat itu yang disaksikan banyak orang dan beberapa direktur. Haha… Tapi, walau tidak menang, setidaknya kami menikmati kebersamaan dan baju batik gratisnya #ehh

Kemudian, berkat kantor pula saya bisa menikmati rafting sungguhan di sungai. Saya pernah sih, naik perahu karet, tapi itu saat banjir dulu. Haha…

Yah, tapi kantor juga yang masih memberi ruang saya untuk menikmati masa muda dengan karokean dan main kartu uno. 😀

Memang sih, selain hal-hal menyenangkan, ada juga hal tidak menyenangkannya, tapi kan kita selalu berusaha “love our work and work our love”

Okelah sekian untuk sekarang, mungkin lain kali bisa ditulis hal lain 😀

Oh ya, sempat alay juga sih di kantor. Hehe 😀