Kepada Dewi

September 9, 2016 § Leave a comment

Aku tidak percaya cinta pandangan pertama
Tapi aku ingat pada pandangan pertama kamu terlihat manis

Sama tak yakinnya aku pada cinta abadi
Tapi aku tahu tujuanku abadi bersamamu

Aku takkan seromantis Romeo menciumi racun padamu
Mungkin aku akan seperti Nuh yang membiarkanmu menentukan pilihan
Tapi aku akan seperti Adam yang akan merindukanmu setiap hari
Dan mencarimu ribuan kilometer

Lalu pada detik yang telah, sedang, dan akan berlangsung, terlantun harap yang penuh suka cita
Serta bait-bait yang takkan pernah aku lupa

images-1

September 13, 2015 § 4 Comments

Konon katanya cinta itu melepaskan, dan biarkan ia datang sendiri di waktu yang tepat. Tapi hingga saat ini, bergantinya tahun2 dalam rindu yang sama, kamu tak pernah datang.

View on Path

September

September 2, 2015 § 3 Comments

Tak terasa sudah bulan ke sembilan di tahun ini. Entah waktu yang terlalu cepat atau saya yang terlalu sibuk sehingga tidak sadar waktu telah berlalu begitu lama. Namun Sepertinya saya yang alay sehingga lupa waktu di dunia yang ‘katanya’ hanya senda gurau.

Selamat datang september ceria, semoga selanjutnya makin ceria. Seperti kata orang-orang dahulu, bulan-bulan yang berakhiran “-ber” akan sering diliputi keberkahan hujan.

Btw, gimana kabar dunia blog? Semua baik-baik saja kan? Kamu baik-baik saja kan?

Aku rindu.

Selamat Hidup Kembali…

October 18, 2014 § 6 Comments

Apa yang menakutkan dari sebuah kehidupan? Ketika ternyata kau sebenarnya tidak hidup…

Sudah lama, mungkin hampir setahun saya tak rutin menulis di Blog ini. Kemana saja? Larut dalam kehidupan. Saking larutnya hingga hampir mati tenggelam. Bangun pagi saat matahari baru terlihat, menembus hiruk pikuk jalanan Jakarta, sambil sedikit lari-larian mengejar finger-print, berdoa semoga jari ter-scan sebelum pukul 07.31.

Siangnya larut dalam berkas-berkas surat sambil sesekali mengobrol di waktu luang atau membuka laman situs berita dan gosip. Kadang ada juga rapat-rapat yang harus diikuti dengan khidmat sambil mengunyah snack agar tidak mengantuk. Terjebak dalam hirarki jabatan atau pangkat struktural sambil sopan santun yang kadang dibuat-buat.

Sorenya berharap-harap cemas bisa pulang tidak terlalu malam, atau di detik-detik kepulangan, atasan memanggil untuk menjebak dengan sebuah pekerjaan yang harus selesai malam itu juga. Di antara kelap-kelip lampu pencakar langit Jakarta, berbicara dengan komputer, seolah-olah mengerti bahasa satu sama lain. Lebih tepatnya bahasa robot, karena telah menjadi robot, yang katanya robot negara.

Konon, di tempat saya bertugas, di bagian regulasi, ada milyaran bahkan triliunan uang yang sedang dipertaruhkan, menjadi milik negara atau tetap menjadi milik orang lain. Tempat dipikirkannya cara-cara halus mengambil uang rakyat dengan tetap memakai prinsip The Four Maxims-nya Adam Smith –yang kadang tak terpenuhi salah satu prinsipnya. Tempat keputusan diambil demi kepentingan negara. Sebuah kontribusi kecil di tempat ini, bisa berarti besar bagi banyak orang.

Tapi itu masalahnya, apakah saya benar-benar merasa hidup untuk orang lain –yang entah orang yang mana- dengan cara mematikan diri perlahan-lahan di dalam kubikel selama lima hari dalam seminggu dan dua hari untuk istirahat demi bekerja lagi seninnya?

Kata orang mungkin sayanya yang tidak ikhlas. Padahal sudah ditugaskan di homebase, yang artinya bisa berkumpul lagi dengan keluarga di malam harinya, dibandingkan dengan rekan-rekan lain yang harus meninggalkan jauh keluarga dan orang-orang yang dicintainya ke tempat tugas yang bahkan mereka baru dengar namanya, baru bertemu jika sudah setahun lamanya. Dan juga, saya lebih beruntung ditugaskan di tempat yang memberikan kontribusi besar, dibandingkan dengan rekan-rekan lain yang ditugaskan di daerah terpencil yang mengumpulkan receh-receh uang negara dan hanya sebagai penggugur kewajiban negara menerapkan prinsip uniformity, kesamaan atas perlakuan para pembayar pajak, termasuk atas mereka pembayar pajak kecil di ujung-ujung pulau.

Tapi jelas, keikhlasan dan kehampaan hati itu berbeda. Mungkin kamu ikhlas, tidak mempertanyakan atas setiap kebijakan langit padamu. Bahwa setiap kerjamu adalah amal baik memang harus diniatkan. Berbeda dengan kehampaan hati, kamu hanya sedang tidak berdaya dimakan rutinitas. Dibuat berbeda dalam hirarki tugas. Hanya itu saja.

Maka itu saya beberapa bulan ini tidak menulis di Blog. Toh apa yang hendak ditulis dan dibagi oleh orang yang mati perasaannya? Karena bagi saya Blog itu tempat menuliskan perasaan. Jika tidak punya perasaan, tidak ada yang pantas ditulis.

Tapi kali ini saya hidup kembali, memiliki sesuatu yang bisa menghidupkan…

Semua berawal ketika saya memutuskan mengambil kuliah lagi. Kuliah kelas karyawan, sabtu-minggu di sebuah kampus swasta di bilangan meruya. Walau kelas karyawan, tapi ternyata isinya karyawan-karyawan muda seumuran. Jadilah saya punya kehidupan yang sebenarnya. Bisa ngerumpi tanpa takut merusak sopan santun hirarki pekerjaan. Bisa menyatakan pendapat di kelas tanpa khawatir atasan tidak setuju. Bisa belajar merangkai harapan-harapan, bukan hanya saja titian karir yang terbatas pada aturan super ketat dari instansi.

Akhirnya saya hidup. Bukan dengan cara hura-hura di Mall malam hari, di tempat perbelanjaan atau tempat karaoke. Bukan pula dengan tidur seharian sabtu-minggu di tempat tidur melepas lelah. Hanya dengan duduk di bangku sekolah mendengar diskusi dosen sambil sesekali ngerumpi dengan teman sebelah.

Bahagia itu sederhana, hidup pun juga sesederhana itu…

Selamat hidup, selamat bertemu dengan harapan dan cita-cita.
Halo Blog🙂
doraemon djp

Kerja Nggak Seasyik Kayak di Film Korea…

June 15, 2014 § 13 Comments

Hufff… Rasanya blog ini sudah berdebu, penuh sarang laba-laba, dan jamur dimana-mana karena sudah lama tidak ditengok. Sama kayak hati… #Uppss😀

Bagaimana kabarnya?

Rasanya kangen loh berkunjung ke Blog. Tapi entah kenapa saya selalu terlalu lelah untuk menyambangi tempat istirahat ini. Waktu yang selama ini, Senin-Jumat dihabiskan kerja dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam. Sementara sisanya, sabtu-minggu dihabiskan untuk hura-hura dengan hang out keluar atau tidur seharian di rumah. Begitu terus rutinitasnya sampai terjebak…

Pernah nggak sih rindu zaman-zaman sekolah dulu, main happy nggak terbebani kerjaan yang setumpuk. Punya teman-teman sebaya yang asyik diajak main atau ngerumpi setiap hari. Bukan terjebak di antara rutinitas kerjaan dan orang-orang dewasa sibuk yang sudah mulai menua di kantor. Bahkan kadang-kadang kita pun larut untuk menjadi tua lebih cepat.

Apakah keadaannya yang memang seperti itu atau saya yang belum mampu menikmati prosesnya?

Entahlah, mungkin waktu membaca dan menulis saya yang terkurangi banyak lah yang membuat kurang bisa mengaktualisasikan diri. Semoga secepatnya dapat beradaptasi…

Selamat malam, selama menentukan capres pilihan kelak… *Loh gak nyambung*😀

 

Madura, tak semanis madu…

January 29, 2014 § 20 Comments

Tak manis, hanya indah…

Sebenarnya agak terlambat sih nulis ini. Soalnya ke Madura nya sudah dari libur natal kemarin. Jadi sudah sekitar sebulan lebih. Tapi tak apa, bukankah tak ada kata terlambat untuk menceritakan keindahan?🙂

Saya ke Madura hanya sehari, kurang sih, Tapi lumayan ada beberapa tempat yang dikunjungi:

a. Jembatan Suramadu

Ini jembatan terpanjang di Indonesia yang menghubungkan kota Surabaya dengan Pulau Madura, makanya disebut Suramadu. Dan jangan lupa, ini juga jembatan mahal, sekali jalan saja untuk mobil pribadi ditarik 30ribu, Padahal panjang jembatan ini hanya 5,5 km. Dan saat saya kemarin sepertinya sudah tidak boleh lagi berhenti di tengah jalan dan foto-foto. Alasannya sih agar tertib dan tidak membahayakan pengguna jalan. Sayang sekali sudah bayar mahal, tapi nggak boleh foto. Dulu pas ke jembatan itu sih pernah foto, cuman fotonya hilang kemana. Akibat lupa diupload ke FB😦

b. Api Abadi

Di Pamekasan, salah satu kota di Madura ada sebuah tempat yang apinya tak kunjung padam. Entah karena tanahnya mengandung gas atau bagaimana, saya juga gak paham. Dan kononnya, api Obor PON diambil dari tempat ini.

Tapi kalau mau ke tempat ini, jangan siang-siang, ntar jadinya kayak foto saya. Apinya tidak terlalu kelihatan. Datang malam hari saja, apinya jelas kelihatan dan cantik.

Oh ya, di tempat ini juga dijual jagung rebus/bakar yang dimasak dengan api abadi tersebut. Kalau sempat silahkan dibeli dan dinikmati🙂

c. Pantai Cemplong Sampang

Walau Sampang sering disebut dengan kerusuhannya, namun di sisi lain kota ini juga menyimpan keindahan pantainya. Kalau ke Sampang jangan lupa mampir ke pantai ini.

d. Alun-alun Kota Sumenep

Nah, di Madura, Sumenep inilah kota terbesarnya. Di pusat kotanya ada alun-alun yang seperti pada umumnya ramai jika sore hari. Dan juga tak lupa alun-alun di kota-kota di Jawa selalu berdekatan dengan Masjid Agungnya. Tepat di depan alun-alun ada Masjid Jami Sumenep yang dibangun tahun 1763 dan termasuk ke dalam golongan masjid tertua di Indonesia.

Lalu, di dekat alun-alun pula ada Kraton Sumenep II yang katanya merupakan kraton terlengkap di Indonesia. Sayangnya karena sudah sore, kratonnya sudah tutup. Jadinya hanya bisa foto di depan kraton.🙂

Yang paling mencengangkan di alun-alun ini, yaitu odong-odongnya yang gede. Entah terinspirasi dari mana orang-orang madura ini membuat odong-odong segede itu. Untung odong-odong di Jakarta gak segede itu. Bisa macet ntar…

Udah lah, itu saja sih, sedang malas menulis banyak-banyak informasi. Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan saja😀
Oh ya, sebagai orang pajak yang cinta pajak namun tidak cinta dirjennya. Saya sempatkan foto juga di salah satu kantor pajak di Madura. Cukup foto saja di sini, jangan sampai ditugaskan di sini. Haha…

 

Cerita Empat Bulan

January 25, 2014 § 35 Comments

Semenjak menginjakkan kaki di kantor baru ini, saya jadi malas menulis di WP. Mungkin karena berbanding lurus dengan malasnya saya membaca.

Entahlah, setiap kali pulang, rasanya hanya ingin memeluk guling dan tidur. Kemudian bangun keesokan paginya dan berangkat lagi ke kantor. Begitu setiap hari senin hingga jumat. Karena terjebak rutinitas itu, setiap ada hari libur saya habiskan main di luar, jalan-jalan ke kota lain atau hanya keliling-keliling ibukota. Kadang pula dihabiskan berorganisasi dan bertemu teman-teman. Habislah waktu saya setiap hari. Tidak sempat nge-WP. Jangankan nulis di WP, baca buku saja mulai jarang.

Gini ya rasanya kalau udah jadi orang dewasa, dihabisi oleh waktu. Saya berasa tua lebih cepat. Haha…

Saya bukan tak menikmati di kantor baru ini yang sudah empat bulan menjadi tempat bernaung saya. Menikmati banget malahan. Hanya saja, kadang saya rindu untuk bisa bebas seperti zaman nganggur dulu. #ehh😀

Tapi mungkin ini tantangan dari Tuhan untuk saya, belajar bagaimana mengatur waktu…

Okelah, saya mulai bertekad harus menyempatkan diri untuk nge-WP. Mulai dari hari ini, mulai menulis kembali.

Sebaiknya dimulai dari menulis hal-hal menarik di kantor selama empat bulan menghilang dari WP ini.🙂

****

Tapi, apa yang menarik ya? Haha…

Pertama, saya baru tahu kalau di kantor ada perpustakaan yang nyamannya minta ampun. Kalau lagi suntuk bisa datang ke sini dan tidur, eh, maksudnya istirahat. Tapi sayang bukunya tidak selengkap yang saya perkirakan. Tapi semoga saja lambat laun ada perbaikan sehingga tidak hanya nyaman, bukunya juga lengkap.

Kedua, ada masjid yang juga sama nyaman dan dinginnya. Jangan sekali-kali sholat di sebelah AC-nya kalau nggak mau menggigil kedinginan. Dan juga di masjid inilah banyak kajian. Lumayanlah menambah ilmu agama di tengah penatnya kehidupan.

Lalu, di kantor juga sering ada acara, entah itu bazar, pameran, seminar, bedah buku, atau bahkan pentas seni.

Pernah suatu saat dipaksa oleh Ibu bos buat ikutan jadi grup vokal direktorat saya. Waktu itu yang berhasil dipaksa hanya tujuh orang. Sudah cuman bertujuh, waktu latihan juga mepet, dan kemampuan yang berbeda-beda, jadilah penampilan direktorat kami seperti apa adanya. Padahal direktorat lain personilnya ramai-ramai bahkan sampai satu direktorat diikutkan. Ada juga yang bahkan mengundang pelatih dari Twilight dan Purwacaraka.

Matilah kita di panggung saat itu yang disaksikan banyak orang dan beberapa direktur. Haha… Tapi, walau tidak menang, setidaknya kami menikmati kebersamaan dan baju batik gratisnya #ehh

Kemudian, berkat kantor pula saya bisa menikmati rafting sungguhan di sungai. Saya pernah sih, naik perahu karet, tapi itu saat banjir dulu. Haha…

Yah, tapi kantor juga yang masih memberi ruang saya untuk menikmati masa muda dengan karokean dan main kartu uno.😀

Memang sih, selain hal-hal menyenangkan, ada juga hal tidak menyenangkannya, tapi kan kita selalu berusaha “love our work and work our love”

Okelah sekian untuk sekarang, mungkin lain kali bisa ditulis hal lain😀

Oh ya, sempat alay juga sih di kantor. Hehe😀