#15HariCeritaEnergi: Sebuah Prolog Sadar Energi

Setelah 14 hari berusaha konsisten menulis mengenai Energi Terbarukan dan Konversi Energi, akhirnya tibalah kita di saat yang berbahagia, yakni hari terakhir kompetisi ini. Hari-hari penuh pembelajaran yang diiringi sosialisasi tentang energi ditambah kejaran deadline menulis setiap malamnya akan menemui ujungnya. Walaupun pada kenyataan, sesungguhnya pembelajaran dan membagi informasi energi takkan pernah berujung. Selalu ada ruang untuk belajar dan berbagi di mana dan kapan pun.

Awal saya mencoba mengikuti kompetisi ini sesungguhnya saya diliputi keraguan. Pasalnya tema energi terbarukan dan konservasi energi yang harus diangkat bukan merupakan ranah saya. Sebagai seorang petugas pajak yang tentu saja tidak memiliki latar belakang pengetahuan energi tentu saja membawa kesulitan tersendiri.

Hanya saja, ketika saya mempelajari tema tersebut, ada banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari riset tentang energi tersebut, misalnya kenapa kita harus berhemat energi dan mulai beralih kepada energi terbarukan. Hal ini ternyata sangat berkaitan dengan kehidupan kita dan anak cucu nantinya yang hidup di bumi ini. Dan juga beberapa hal lainnya seperti energi-energi terbarukan, seperti apa saja yang mampu mengganti energi fosil, bagaimana cara menghemat energi, serta regulasi pemerintah, khususnya regulasi pajak untuk energi terbarukan cukup mengasyikkan untuk dipelajari.

Tentunya selain bermanfaat untuk diri sendiri, dengan menulis #15HariCeritaEnergi di blog dan membagikannya di media sosial, banyak orang lain yang kemudian bisa membaca dan diharapkan minimal aware akan isu-isu terkini mengenai energi, khususnya energi terbarukan dan konversi energi.

Jika semakin banyak masyarakat aware, tentu ini sedikit banyak akan mendukung pemerintah dalam membangun optimisme target-target energi yang diharapkan.

Optimisme Target Energi Terbarukan

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah membuat target ambisius penambahan pembangkit energi terbarukan hingga 23 persen tercapai pada 2023 yang memerlukan banyak dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat.

Lalu ditambahkan pula oleh Rida Mulyana, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam situs website Kementerian ESDM yang mengatakan target itu bukan merupakan pilihan, tapi merupakan keharusan. “Agar target ini tercapai, maka semua pihak harus ikut turut serta dalam mengembangkan EBT,” tegasnya. Target yang harus tercapai dalam 8 tahun ini diyakini tidak akan terpengaruh kendati ada pemotongan anggaran di direktoratnya.

Target ini pun telah dituangkan dalam Rancangan Usaha Penyedia Ketenagalistrikan (RUPTL) 2017-2026 yang memberikan porsi EBT dalam bauran energi nasional ditargetkan sebesar 22,5 persen pada 2025 yang telah mendekati target yang tercantum dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yaitu dengan porsi 23 persen. Hal tersebut meningkat dari sebelumnya yang hanya sebesar 19,6 persen.

Dalam RUPTL 2017-2026 tersebut, penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada pembangkit listrik terus turun hingga 0,5 persen karena digantikan dengan pembangkit listrik energi lainnya.

Sekitar 45.000 Megawatt (MW) listrik dari energi terbarukan diperkirakan Pemerintah dibutuhkan untuk memenuhi target nasional tersebut yang sebesar 23 persen pada 2025. Hal ini nantinya akan diwujudkan dengan listrik yang ditargetkan berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 6.400 MW, kemudian pembangkit listrik berbasis angin (PLT Bayu) 1.800 MW, listrik energi laut 3.100 MW, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 7.200 MW serta pembangkit listrik berbasis bioenergi dengan kapasitas 5.500 MW.

Optimisme Target Hemat Energi 

Selain peralihan ke energi terbarukan, pemerintah juga mencanangkan program-program hemat energi sebagai upaya dalam mewujudkan energi berkeadilan serta sejalan dengan paradigma pengelolaan energi global. Sebagaimana dilansir oleh Republika Online, selama 10 tahun terakhir, konsumsi energi naik sebesar tujuh persen per tahun, di mana 94 persen dari kebutuhan energi nasional bergantung pada sumber energi fosil. Maka, penghematan energi adalah langkah tepat dalam memanfaatkan energi yang bertanggung jawab.

Salah satu program hemat energi yang dicanangkan pemerintah adalah Gerakan Potong 10 Persen, yakni dengan menghemat energi di rumah atau perusahaan sampai dengan 10 persen. Kampanye gerakan ini akan terus digaungkan dengan berbagai kegiatan antara lain melalui pemberian label efisiensi energi, membentuk manajer dan auditor energi, penggunaan lampu hemat energi, mengoptimalkan peran perusahaan jasa energi, menggerakan Penggerak Energi Tanah Air (PETA) ke seluruh wilayah tanah air, dan mendorong efisiensi energi ke dalam kurikulum pendidikan dasar.

Seperti yang dijelaskan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi kepada Republika Online, “Sangat mudah untuk menghemat 1 watt dibandingkan harus membangun 1 watt. Untuk menciptakan 1 MW jauh lebih sulit dibandingkan kita harus menghemat 1 MW. Dimulai dari yang langkah sederhana dengan mematikan laptop, TV yang tidak digunakan. Bayangkan kalau dilakukan di seluruh indonesia”.

Ayo dukung!

Tentunya, target-target pemerintah tersebut tidak bisa dicapai tanpa dukungan berbagai pihak. Dengan berbagai kegiatan-kegiatan sosialisasi, seperti kompetisi ini (#15HariCeritaEnergi), diharapkan mampu mendatangkan kesadaran tentang energi terbarukan dan konservasi energi.

Maka program #15HariCeritaEnergi ini perlu diapresiasi sebagai bentuk upaya pemerintah dalam menyadarkan khalayak luas mengenai pentingnya energi terbarukan dan konservasi energi. Dan #15HariCeritaEnergi pun adalah awal dari semangat dari kita yang telah sadar pentingnya pengembangan energi terbarukan dan penghematan energi untuk mendukung pemerintah dalam mencapai target-target tersebut.

Dukungan tersebut bisa berupa terus menyosialisasikan energi terbarukan di kanal-kanal internet, melalui aksi nyata untuk menghemat energi, dan tentu saja membayar pajak agar uangnya dapat digunakan dalam membangun serta mengembangkan energi terbarukan. Sekecil apapun kontribusi tentu sangat berarti bagi mendukung masa depan yang lebih baik.

Karena nantinya hal yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang di masa depan adalah mereka bisa memenuhi kebutuhan energi terutama dengan menggunakan sumber-sumber energi terbarukan.

Tabik.

Refrensi:

http://ebtke.esdm.go.id/post/2016/08/21/1322/pemerintah.optimis.target.energi.terbarukan.tercapai

http://ebtke.esdm.go.id/post/2016/05/15/1234/pemerintah.ajak.masyarakat.hemat.energi

http://nusantara.rmol.co/read/2017/05/21/292199/Pemerintah-Ingatkan-Warga-Hemat-Energi-

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

Menjajal Motor Listrik, Mau?

Sore tadi saya mengeluh pada istri. Pasalnya, di hari-hari terakhir lomba #15HariCeritaEnergi ini saya mulai kehabisan inspirasi ide tulisan. Rasanya sudah banyak tema Energi Terbarukan dan Konservasi Energi yang saya angkat pada tulisan di blog.

Untuk menghibur gundah gulana saya, istri mengajak ke kantornya. Mencoba sesuatu yang baru, yakni Motor Listrik!

Di tulisan saya sebelumnya memang pernah mengangkat motor listrik sebagai sebuah transportasi masa depan yang akan menggantikan motor-motor berbahan bakar fosil yang semakin tipis cadangan energinya serta ditambah gas buangannya yang menimbulkan efek rumah kaca yang merusak bumi. Namun motor listrik masih menjadi bayang-bayang saat saya menulis tulisan tersebut. Saya secara pasti belum tahu pasti dari motor listrik itu seperti apa bentuknya selain dari foto-foto di internet.

Maka selepas maghrib tadi, kami berdua menuju kantor istri saya, PLN Jakarta Raya, tempat dimana beberapa motor listrik terpajang.

Sesampainya di sana, motor yang pertama saya jajal adalah Motor Listrik Viar berwarna putih. Motor yang dibandrol 16 jutaan ini menurut saya sangat nyaman digunakan. Motor ini seperti motor matic pada umumnya yang tidak memerlukan pergantian gigi. Bahkan motor ini pun tak perlu distarter. Cukup kunci diputar ke arah ‘on’ maka motor sudah menyala dan siap digas untuk dibawa ke mana saja. Kecepatannya cukup lumayan untuk motor matic. Saat membawanya, saya hampir tidak bisa membedakan sedang membawa motor bertenaga listrik atau berbahan bakar minyak kecuali dari suara mesinnya. Motor listrik hampir sunyi mesinnya. Kecepatan normalnya 60 km perjam. Secara keseluruhan motor ini sangat bagus, apalagi desainnya yang nyaman dan bobotnya yang ringan.

IMG_2223

Hanya saja mungkin jika memakai motor ini kita harus ekstra hati-hati. Karena senyapnya suara mesin, keberadaan motor di jalanan bisa tidak diketahui pengendara lain. Mungkin kita harus sering menyalakan klakson di jalanan untuk memberitahu pengendara lain.

Sementara untuk mengisi penuh satu motor listrik dibutuhkan kira-kira 500 watt, atau 3 kWh. Artinya, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 5.000 untuk sekali charge, untuk jarak tempuh sampai 80 km. Bisa dibilang ini sangat murah jika dibandingkan dengan harga BBM misalnya premium, yaitu Rp 5.150 per liter dan mengisi penuh motor dengan premium bisa sampai 3-4 liter, atau totalnya bisa mencapai Rp 20 ribu.

Karena memakai energi listrik, motor ini tidak membutuhkan perawatan khusus sebab tidak butuh oli, rantai, dan knalpot seperti motor pada umumnya. Hanya baterai saja yang perlu diperhatikan.

Seperti dikutip dari liputan6.com, baterai Viar yang disuplai oleh pabrikan komponen otomotif Bosch punya siklus 600-sampai 800 kali isi ulang. Jika motor dipakai setiap hari dalam satu tahun penuh, maka kira-kira baterai tersebut harus diganti dalam dua tahun.

Selain itu, masih dibutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 jam untuk mengisi baterai. Cukup lama jika kita membutuhkan untuk memakai motor segera. Teknologi fast charger yang seperti saat ini banyak dipakai di handphone masih dalam pengembangan.

Motor Listrik Viar ini merupakan hasil kerja sama PLN dan Viar Motor Indonesia yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Bosch dan Universitas Gadjah Mada. Bentuk motor yang kurang lebih seperti skuter listrik ini katanya telah memiliki legalitas untuk dipasarkan di Indonesia, sehingga pengurusan surat-suratnya seperti BPKB dan STNK sudah bisa dilakukan. Konsumen pun bisa aman mengendarainya di jalan-jalan.

Setelah mencoba viar, saya mencoba motor listrik lain yang berbentuk sporty, dari mulai lekukan body-nya, handle penumpang, hingga desain kaca depan. Terpasang juga plat kendaraan di depannya dengan tulisan, “Uji Coba Motor Listrik PLN Disjaya”.

IMG_2242

Motor yang sehari-hari telah banyak dipakai sebagai motor operasional pelayanan teknik PLN ini memang tidak sepenuhnya memakai energi listrik. Motor ini merupakan motor hybrid yang masih bisa menggunakan bensin sebagai bahan bakar penggeraknya. Mungkin disesuaikan dengan ketersediaan energi yang ada.

IMG_2238

Mengisi Energi Listrik

Lalu bagaimana cara mengisi motor-motor tersebut? Tidak mungkin ketika sedang di jalanan mengendarai motor tiba-tiba listriknya mau habis kita menumpang ke rumah orang untuk mengisi daya baterai. Untuk itulah, PLN kini telah membuat Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU).

SPLU awalnya dimanfaatkan untuk infrastruktur melayani kebutuhan listrik masyarakat di tempat umum, seperti untuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pedagang kaki lima (PKL). Seiring dengan berkembangnya teknologi, SPLU pun dapat digunakan untuk mengisi ulang energi kendaraan listrik.

IMG_2252
SPLU

Sama seperti SPBU yang kita kenal selama ini, SPLU terletak pada pinggir-pinggir jalanan dan digunakan untuk mengisi daya baterai motor listrik. PLN mengklaim sudah membangun 542 titik SPLU di Jakarta, dan total 875 SPLU yang tersebar di sejumlah kota Indonesia.

Dilansir sindonews.com, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka mengungkapkan, SPLU yang dikembangkan PLN sejak 2015 ini, antara lain dapat dijumpai di Jakarta, Bandung, Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau, Muara Bungo, Bengkulu, Lampung, Manado, Gorontalo, Palu, Kotamobagu, Yogyakarta, Bali, Makassar, dan masih banyak lagi. Bahkan di pulau Lombok pun dibangun dua SPLU di Taman Udayana dan Taman Sangkareang untuk meningkatkan penggunaan motor listrik untuk tujuan pariwisata.

Seiring berjalannya waktu, saya yakin cita-cita kendaraan dengan energi ramah lingkungan dan hemat energi ini akan semakin berkembang. Kendaraan bertenaga listrik adalah keniscayaan masa depan. Bukan tidak mungkin nantinya kita akan menemui juga ojek online yang memakai motor listrik.

Namun hal yang selalu perlu ditekankan adalah bagaimana listrik yang dipakai sebaiknya juga berasal dari pembangkit-pembangkit ramah lingkungan yang terbarukan, seperti PLTA dan PLTS. Kita perlu menjaga kelestarian bumi dengan penggunaan energi yang ramah lingkungan sejak dari hulu ke hilir.

Tabik.

 

Refrensi:

http://otomotif.liputan6.com/read/2987249/baterai-motor-listrik-viar-q1-masih-mahal-tapi-bisa-dikredit

https://ekbis.sindonews.com/read/1234249/34/pln-sediakan-875-splu-di-sejumlah-kota-indonesia-1503822268

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Potensi Energi Laut, Jalesveva Jayamahe

1313074191755735760

Indonesia merupakan Negara Kelautan terbesar di dunia yang memiliki bentang laut luas dengan ribuan pulau besar dan kecil. Jumlah pulaunya lebih dari 13.500 buah dan mencakup wilayah sepanjang 3.000 mil laut dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia juga merupakan negara dengan pantai terpanjang kedua di dunia yang terletak pada posisi geografis sangat strategis, di antara persilangan dua benua dan dua samudera, serta memiliki wilayah laut yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.

Luas wilayah laut Indonesia mencapai ¾ dari seluruh wilayah Indonesia. Selat Malaka dan jalur ALKI secara umum merupakan jalur perdagangan strategis yang dilalui kapal-kapal perdagangan dunia dengan volume perdagangan mencapai 45 persen dari total nilai seluruh dunia. Sampai saat ini, Laut Indonesia berpotensi meningkat di masa-masa datang, mengingat prospek perkembangan perekonomian di wilayah Asia masih menjanjikan.

Untuk itulah pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak awal telah mencanangkan target ambisius untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Hal ini pun semakin dipertegas dengan Pidato Presiden pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, Presiden Jokowi menegaskan konsep Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sehingga agenda pembangunan akan difokuskan pada 5 (lima) pilar utama, yaitu:

  • 
Membangun kembali budaya maritim Indonesia.
  • 
Menjaga sumber daya laut dan menciptakan kedaulatan pangan laut dengan menempatkan nelayan pada pilar utama.
  • 
Memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim.
  • 
Menerapkan diplomasi maritim, melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan bukan memisahkan.
  • Membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.

Cita-cita poros maritim itu pun diewajantahkan dengan serangkaian program yang mendukung kemakmuran laut. Pemerintahan era Presiden Jokowi dalam tempo kurang dari dua tahun telah membangun lebih dari 150 pelabuhan kecil dan sedang. Beberapa di antaranya ada di Indonesia timur. Pemerintah juga telah membangun belasan pelabuhan udara di Indonesia timur dengan biaya setengah dari pemerintahan era sebelum sebelumnya. Selain itu, Presiden Jokowi juga membuat program Tol Laut sebagai upaya penyediaan jaringan angkutan laut secara  tetap  dan  teratur  melalui penyelenggaraan pelayanan angkutan laut dan peningkatan fasilitas pelabuhan.

Ada pula capaian-capaian lain untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan pengurangan dwelling time dan biaya logistik di pelabuhan, nilai tambah pemanfaatan sumberdaya alam, serta pencapaian program pariwisata melalui penetapan Kawasan Strategis Prioritas Nasional (KSPN).

Kalau kita perhatikan, sebagian besar program-program poros maritim masih berkutat pada kegiatan keekonomian di laut dengan menambah infrastruktur dan mengurangi biaya transportasi. Masih belum memanfaatkan potensi kekayaan laut dengan maksimal. Salah satu kekayaan laut yang belum dimanfaatkan (selain kandungan ikan-ikan laut dan sumber daya hayati lain tentunya) adalah potensi energi terbarukan yang berasal dari laut.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) secara teoritis, total sumber daya energi laut yang dimiliki Indonesia sangat melimpah, meliputi energi dari jenis panas laut, gelombang laut dan arus laut, yaitu mencapai 727.000 MW. Tetapi, potensi energi laut yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi sekarang dan secara praktis memungkinkan untuk dikembangkan, berkisar antara 49.000 MW. Di antara potensi sedemikian besar tersebut, industri energi laut yang paling siap adalah industri berbasis teknologi gelombang dan teknologi arus pasang surut, dengan potensi praktis sebesar 6.000 MW. Arus pasang surut ditemukan di selat-selat sempit yang banyak terdapat di sela-sela kepulauan di wilayah timur Indonesia. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengukur potensi energi dari arus pasang surut itu. Beberapa arus pasang surut yang kuat, di antaranya Selat Ceningan di antara Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Dari penelitian yang pernah dilakukan, kecepatan arus pasang surut laut Indonesia di beberapa lokasi, bisa mencapai lebih dari lima meter per detik.

Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, didapat bahwa banyak daerah pantai Indonesia yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga gelombang laut. Lokasinya tersebar di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di Irian Jaya bagian utara, dan sebelah barat Pulau Sumatera yang sangat sesuai untuk menyuplai energi listrik. Namun, potensi tersebut kenyataannya belum dimanfaatkan secara optimal. Jika dimanfaatkan secara optimal, energi laut bisa memenuhi kebutuhan energi seperti listrik untuk beberapa daerah yang berada di pulau-pulau dan daerah perbatasan.

Walau memiliki potensi yang besar untuk melistriki, negara-negara yang sudah memanfaatkan energi dari air laut ini, di antaranya negara-negara yang berada di Eropa, belum ada yang bisa dikembangkan untuk usaha komersil.

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konsevasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana kepada DetikFinance, “Eropa (yang sudah kembangkan energi dari air laut), di Eropa kalau nggak salah ada EMEC (European Marine Energy Centre) gabungan beberapa negara biasanya pusatnya di Skotlandia mereka terus kembangkan, tapi belum ada yang benar-benar komersial selama ini, jadi kita juga mereka saja yang melakukan hari ini masih wait and see jadi kita cari yang mature dulu saja, yang teknologinya sudah ada”.

Mungkin energi laut masih jauh panggang dari api, tapi bukan berarti kita tidak bisa terus berinovasi membuat energi terbarukan yang berasal dari laut agar semakin feasible. Sebagai negara maritim yang sebagian besar wilayahnya adalah laut, tentu adalah cita-cita yang luhur bisa menjadikan laut sebagai sumber energi dan kehidupan. Sebagaimana semboyan TNI AL yakni, Jalesveva Jayamahe, di lautan kita berjaya, maka sudah selayaknya kita kembali merebut kejayaan di laut termasuk di sektor energi terbarukan.

Tabik.

 

 

Referensi:

http://www.presidenri.go.id/berita-aktual/indonesia-sebagai-poros-maritim-dunia.html

http://www.kompasiana.com/kssps/pltgl-pembangkit-listrik-tenaga-gelombang-laut_591fa6adbf22bd3608e5aad9

https://finance.detik.com/energi/3214760/

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

Kita Menggunakan Energi Terbarukan Demi Janji Paris

 

Eiffel tower at nightSejak tanggal 30 November hingga 12 Desember 2015 di Le Bourget, Paris, Perancis, sebanyak 195 negara berunding dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB atau (Conference of Parties/COP) ke-21.

Perancis dijadikan sebagai negara teladan bagi para delegasi yang menghadiri COP21 karena merupakan salah satu dari sedikit negara maju di dunia yang melakukan dekarbonisasi emisi pembangkit listrik dan energi dari bahan bakar fosil, namun tetap dapat menerapkan standar kehidupan yang tinggi. Pada tahun 2012, Perancis menghasilkan lebih dari 90% listriknya dari sumber non-karbon, antara lain nuklir, hidroelektrik, dan angin.

Hingga pada akhir pertemuan KTT tersebut, disimpulkan Kesepakatan Paris (Paris Agreement). Kesepakatan Paris merupakan kesepakatan internasional sebagai komitmen bersama dunia untuk memerangi perubahan iklim.

Seperti dikutip dari nationalgeographic.co.id Kesepakatan Paris tercatat sebagai perjanjian pertama yang melibatkan semua negara untuk mengurangi emisi karbon.

Usaha serupa gagal diwujudkan dalam konferensi di Kopenghagen tahun 2009. Menurut para pengamat, alasan utama konferensi gagal pada waktu itu adalah upaya untuk menetapkan sasaran pengurangan emisi pada masing-masing negara.

Ketika itu, banyak negara seperti Cina, India dan Afrika Selatan tidak bersedia menerima syarat yang dianggap akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Dilansir dari Kompas.com, secara garis besar ada lima poin penting dalam Kesepakatan Paris yakni:

Pertama, perlu dilakukan upaya mitigasi dengan mengurangi emisi karbon dengan cepat, untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 C.

Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi harus dilakukan secara transparan.

Ketiga, upaya adaptasi harus dilakukan dengan memperkuat kemampuan-kemampuan negara-negara di dunia untuk mengatasi dampak perubahan iklim.

Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim, dari kerusakan.

Kelima bantuan, termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Berdasarkan persetujuan yang disepakati secara bulat itu, semua negara setuju untuk mengurangi buangan gas rumah kaca secepat mungkin. Selain itu, disepakati pula bahwa negara-negara di dunia berkomitmen untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat celcius.

Negara-negara kaya juga sepakat menyediakan dana US$100 miliar per tahun sebelum 2020 untuk membantu negara-negara berkembang guna mengubah perekonomian mereka.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius yang bertindak sebagai pemimpin sidang akhir menyerukan kepada delegasi dari hampir 200 negara untuk mengadopsi perjanjian.

Persetujuan ini akan mengikat secara hukum jika setidaknya ada 55 negara yang mewakili 55 persen emisi gas rumah kaca global tahunan meratifikasi Persetujuan Paris atau mendaftarkan diri di New York dari 22 April 2016 hingga 21 April 2017. Diharapkan persetujuan ini dapat berlaku efektif 2020. Harapan utama dari COP21 adalah membatasi pemanasan global hingga maksimum 2 derajat Celcius hingga tahun 2100 meskipun dalam piagam persetujuan Paris tertulis target utamanya adalah maksimum 1.5 derajat Celcius. Berdasarkan analisis pakar, target 1.5 derajat Celcius dapat dicapai jika antara tahun 2030 hingga 2050 tidak ada emisi gas rumah kaca.

Selain itu, Kesepakatan Paris menjadi ajang untuk promosi untuk mengalihkan energi fosil yang banyak mengeluarkan emisi gas buang menjadi energi efisien terbarukan.

Peran indonesia

Indonesia juga tidak mau ketinggalan untuk mempromosikan energi terbarukan dan konservasi energi sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi gas buang. Hal ini terlihat dari pidato Presiden Joko Widodo di konferensi tersebut yang berisi komitmen Indonesia untuk Pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif, peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen dari konsumsi energi nasional tahun 2025 dan komitmen pengolahan sampah menjadi sumber energi.

Senada dengan Presiden, seperti dikutip oleh antaranews.com Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengatakan bahwa Indonesia juga berkomitmen mengembangkan energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025.

Ia mengatakan bahwa Indonesia masih bergantung pada energi fosil meski sumber emisi tertinggi bukan berasal dari energi, namun pembukaan hutan dan lahan. Meningkatkan penggunaan energi terbarukan menurut dia akan membantu mengurangi terlepasnya emisi karbon ke bumi, sekaligus menahan peningkatan suhu bumi.

Memang selama ini Indonesia sangat bergantung pada PLTU yang berbahan bakar batu bara, sementara energi terbarukan masih dalam pengembangan. Tapi dengan adanya Kesepakatan Paris yang telah diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) bisa menjadi trigger Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan dalam rangka mengurangi efek rumah kaca akibat dampak emisi gas buang dari sektor energi fosil.

Kesepakatan Paris adalah janji semua negara-negara yang telah setuju mengurangi emisi gas buang, yang termasuk salah satunya adalah Indonesia. Tentu ini menjadi janji Indonesia yang salah satunya adalah untuk terus mengembangkan energi yang semakin zero pollution.

Namun, sudah pasti ini bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah semata. Karena untuk mewujudkan amanat kesepakatan tersebut, perlu peran seluruh elemen bangsa, minimal dalam penghematan energi yang efisien sehingga bisa linier terhadap pengurangan emisi gas buang agar pemanasan global mampu ditekan. Tanggung jawab menepati Janji Paris itu juga berada di pundak kita masing-masing, generasi sekarang yang akan mewariskan bumi kepada generasi mendatang. Tentunya kita tidak ingin mewariskan bumi yang rusak bukan?

Tabik.

Refrensi:

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/12/inilah-5-poin-penting-hasil-konferensi-perubahan-iklim

http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/12/151212_dunia_iklim_perjanjian

http://sains.kompas.com/read/2015/12/13/09090031/Beberapa.Kesepakatan.Konferensi.Perubahan.Iklim.Paris

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

Mengubah Sampah Menjadi Emas dan Energi

Bertahun-tahun yang lalu saat masih SMA, saya berangkat dan pulang sekolah sering menggunakan angkutan umum. Berbeda dengan teman-teman lain yang seringkali memakai motor sendiri ke sekolah. Selain belum memiliki SIM dan takut ditilang oleh polisi, orangtua saya juga sepertinya mengajarkan anak-anaknya untuk menaiki angkutan umum agar terbiasa. Angkutan umum yang biasanya saya naiki adalah bis kota lalu dilanjutkan dengan mikrolet.

Jika hari ini di angkutan umum kita bisa membunuh bosan dengan bermain handphone atau smartphone, berbeda dengan saat itu, masih jarang handphone yang memiliki jaringan internet. Kalaupun ada, biasanya sangat terbatas fitur browsing-nya. Maka untuk membunuh bosan, kita bisa melihat pemandangan sekitar yang dilewati, mengobrol dengan orang lain yang duduk bersebelahan, atau membaca stiker-stiker yang biasanya tertempel dengan tata letak sembarangan. Stiker-stiker inilah yang sering saya baca untuk membunuh bosan. Dari mulai stiker iklan jasa sedot wc hingga stiker kampanye khatam saya baca. Salah satu iklan kampanye saat itu yang berkesan hingga saat ini adalah kampanye dengan tagline “Mengubah Sampah Menjadi Emas”. Hampir di setiap bus kota dan mikrolet yang saya tumpangi saat itu, tertempel stiker dengan tagline tersebut. Entah apa maksudnya, stiker tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut.

Sampai saat ini pun, saya masih belum paham bagaimana mengubah sampah menjadi emas. Namun, setahu saya sekarang kita bisa mengubah sampah menjadi energi. Energi yang dihasilkan oleh sampah adalah energi listrik.

10-Energi-Listrik-dari-Sampah-820x410
Sumber: https://si-nergi.id/energi-listrik-dari-sampah/

Sampah yang telah menjadi berbagai masalah di kota-kota besar di seluruh dunia termasuk di Indonesia saat ini mulai dipikirkan untuk dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan. Konon Indonesia menproduksi 65 juta ton sampah perhari pada tahun dan diperkirakan akan menjadi 68 juta ton sampah perhari pada 2019 nanti.

Dampak buruk dari penumpukan jumlah sampah ini adalah menimbulkan gas metana yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bahaya. Gas metana memiliki sifat mudah meledak dan mempunyai dua puluh satu kali daya rusak ozon dari pada gas karbon dioksida. Selain itu sampah yang menumpuk menimbulkan bau yang menyengat yang menggangu kesehatan penduduk sekitar tempat pengolahan sampah (TPA). Belum lagi sampah yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air dan menyebabkan banjir.

Untuk itulah, kini telah dikeluarkan Peraturan Presiden No.18 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, dan Kota Makassar. Peraturan Presiden ini mengamanatkan pengelolaan sampah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di enam kota tersebut.

Lalu bagaimana sampah bisa diolah menjadi listrik?

Dilansir oleh neraca.co.id pengelolaan sampah dimulai dengan seluruh sampah ditimbun dengan tanah, lalu lewat pipa yang dipasang di dalamnya, gas methan ditangkap dan digunakan untuk mengeringkan sampah. Dengan demikian tumpukan sampah itu akan mengering.

Cairan yang keluar selama proses itu ditampung dan dikelola dalam instalasi khusus atau water treatment supaya tidak menimbulkan pencemaran. Untuk sampah yang baru, prosesnya dipilah dulu. Sampah basah seperti kayu, daun, kertas dicacah dulu, kemudian dimasukkan dalam digester (pengering) yang nantinya menghasilkan biogas dan kompos.

Teknologi ini disebut Anaerobic Digestion. Sedangkan sampah kering semacam plastik akan diolah dengan teknologi pirolisis dan gassfication, yakni dengan pemanasan tinggi tanpa oksigen yang menhasilkan gas dan digunakan untuk menggerakkan turbin.

Namun menurut Direktur Pusat Teknologi Lingkungan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT, Rudi Nugroho dalam pernyataannya di bbc.com, salah satu hambatan penggunaan teknologi ini adalah sampah rumah tangga Indonesia yang cenderung basah sehingga nilai kalorinya rendah dan membutuhkan lebih banyak tambahan batubara untuk membakar sampah.

Implikasinya, pemerintah harus mulai memikirkan penggunaan truk-truk sampah yang bisa melakukan pemampatan sampah dan mengurangi kadar air sebelum sampai ke tempat pembuangan sampah akhir.

Solusi lain, jika tidak dikeringkan, maka untuk tetap menjaga suhu ruang bakar tetap tinggi, harus dilakukan penambahan bahan bakar. Tapi dalam penilaian Rudi, langkah ini bukannya menjadi solusi, malah justru menambah masalah, terutama soal biaya.

Meski upaya mengubah sampah menjadi energi dengan menggunakan metode incinerator atau pembakaran ini sudah umum dilakukan di negara-negara lain, namun Rudi mengingatkan fokus teknologi ini lebih untuk menghilangkan sampah, dan bukan menghasilkan listrik. Sehingga listrik yang nantinya dibeli oleh PLN dilakukan dengan biaya yang lebih tinggi dari energi listrik biasanya, yaitu seperti sudah ditetapkan pemerintah, pada maksimum 18,5 sen per kwh.

Dalam mengembangkan PLTSa ini, Indonesia banyak belajar dari Swedia. Swedia membakar sampah menjadi energi listrik sekitar 2 juta ton per tahun, cukup untuk mengganti 670 ribu ton bahan bakar minyak

Setiap tahun, Swedia hanya memproduksi 461 kilogram sampah. Walhasil, produksi sampah itu memerlukan tambahan untuk memenuhi program waste-to-energy. Swedia pun mengimpor 800 ribu ton sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa, mayoritas berasal dari Norwegia.

Bayangkan, tidak hanya mengubah sampah dalam negeri saja, Swedia sampai harus mengimpor sampah dari luar untuk memenuhi kebutuhannya. Sampah bahkan telah menjadi komoditi pembangkit listrik.

Tentunya jika Indonesia bisa sukses mengembangkan PTLSa di enam kota tersebut, tidak hanya sampah-sampah di kota saja tersebut yang dapat dimanfaatkan, namun juga kota-kota di sekitarnya.

Bisa jadi sampah nantinya akan diperlakukan sama halnya dengan komoditi batu bara, kita harus membeli sampah untuk mendapatkan bahan bakar pembangkit listrik. Maka nantinya terbukti jika sampah ternyata bisa diubah menjadi emas.

Tabik.

Refrensi:

http://www.neraca.co.id/article/12014/mengolah-sampah-menjadi-energi-alternatif

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160613_majalah_sampah_sumberenergi

https://kumparan.com/manik-sukoco/tentang-pembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-sampah

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

Ayo Wisata ke Pembangkit Listrik Geothermal

Di saat menulis untuk lomba blog #15HariCeritaEnergi saya sebagai suami harapan bangsa seringkali mengajak istri untuk  berdiskusi mengenai tema yang akan saya tuliskan. Hari ini pun demikian. Saya belum menemukan tema apapun untuk dituliskan. Hingga akhirnya istri saya yang orang Tasikmalaya bercerita tentang wisata panas bumi (geothermal) di Kamojang, Garut. Daerah yang hanya beberapa puluh kilometer saja dari kampung halaman istri. Sayangnya istri tak pernah mengajak wisata ke situ walaupun kami seringkali melewati Garut setiap kali pulang ke kampung halamannya.

Maka dari situ, saya mulai browsing mencari info-info wisata panas bumi Kamojang, Garut.

Ternyata banyak hal dari wisata panas bumi Kamojang, Garut yang lebih menarik dari yang istri saya ceritak. Misalnya, kisah Daerah Kamojang Garut yang berasal dari legenda seorang gadis menolak dilamar tuan tanah kaya raya yang beristri empat. Ia memilih melarikan diri dari rumah orang tuanya menuju ke hutan, hingga tak ditemukan lagi keberadaannya. Hutan itu kini dikenal sebagai Kawah Kamojang yang berasal dari asal kata “mojang” yang berarti gadis belia.

Kini, Kawah Kamojang di Garut, Jawa Barat, merupakan kawah gunung berapi yang masih aktif. Kawah ini mencakup 23 kawah yang sebagian mengepul mengeluarkan asap. Apabila mengunjungi kawasan ini, pengunjung akan disuguhkan dengan pipa-pipa besar, yang merupakan bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pertama di Indonesia yang dikelola PT Pertamina.

Hasil gambar untuk kawah kamojang garut

Berdasarkan penelurusan di internet, untuk mencapai lokasi ini, dari Kota Bandung kita dapat melalui rute Bandung-Majalaya-Kamojang. Ada jalan baru dibuat menuju lokasi area Kamojang. Di jalan baru tersebut, terdapat pula Kamojang Hill Bridge, jembatan Kamojang berwarna kuning yang suka dilewati pengunjung untuk beristirahat.

Hasil gambar untuk kawah kamojang garut

Tidak jauh dari pintu masuk kawah Kamojang, kita akan disambut dengan dua kawah kecil, yaitu Kawah Manuk dan juga Kawah Berecek. Kawah manuk memiliki keunikan tersendiri, yaitu beberapa lubang yang ada di sana dapat mengeluarkan bunyi seperti burung (manuk). Sedangkan Kawah Barecek merupakan kawah yang tidak terlalu aktif lagi.

Di lokasi Kawah Kamojang juga terdapat satu kawah yang disebut dengan Kawah Kereta, dinamai demikian karena kawah ini dapat mengeluarkan suara yang mirip dengan pluit kereta api, dengan tekanan kepulan asap yang sangat tinggi. Bahkan jika kita meletakkan sebuah botol kosong diatasnya maka botol tersebut akan terpental jauh.

Di bagian atas Kawah Kereta, terdapat satu kawah yang bernama Kawah Hujan. Untuk sampai ke kawah ini, kita harus mendaki selama beberapa puluh meter. Kawah Hujan biasanya dijadikan tempat mandi uap oleh para pengunjung. Selain itu terdapat cottage untuk menginap di Kawah Kamojang ini.

Wisata Geothermal Kamojang termasuk yang berpotensi mendunia. Kawasan ini pun jadi pusat pengetahuan dalam bidang pengembangan energi geothermal yang dilengkapi juga dengan sarana laboratorium lapangan dan Geothermal Information Center (GIC). Wisata geothermal Kamojang merupakan bagian kecil dari kawasan panas bumi di Indonesia yang mulai dikembangkan serius.

Selain di Garut, ternyata beberapa daerah di Indonesia juga memiliki tempat wisata geothermal. Di Jawa Tengah ada dataran tinggi Dieng yang juga menjelma sebagai pusat PLTP dan wisata alam.  Selain itu, Kota Tomohon, di Sulawesi Utara, mulai melek terhadap potensi wisata panas bumi. Pemda setempat menggelar festival panas bumi di lokasi wisata Danau Linou Agustus tahun lalu. Kawasan ini juga memiliki museum panas bumi di Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan.

Tempat-tempat wisata geothermal ini bisa saya bayangkan jika terus dikembangkan kelak nantinya akan menjadi Taman Nasional Yellowstone yang begitu mendunia sebagai kawasan panas bumi dengan kaldera yang menyuguhkan atraksi air panas yang menyembur dari perut bumi. Tempat yang dikunjungi sedikitnya 3-4 juta pelancong per tahun. Yellowstone hanya satu dari 11 kawasan panas bumi yang sukses dikembangkan oleh AS yang berhasil mengemas Yellowstone sebagai “supervolcano” yang mendunia dengan 100 lebih titik air panas.

Bisa juga nantinya Indonesia mengembangkan kawasan panas bumi yang memadukan wisata budaya dan religi seperti Fuji-Hakone-Izu National Park yang setiap tahunnya dikunjungi sedikitnya 100 juta pengunjung. Mendunia juga seperti The Vulkaneifel di Jerman, The Blue Lagoon di Islandia, dan Geothermal Parks di Selandia Baru.

Indonesia memiliki potensi ini karena seperti dilansir www.tirto.id khusus di Jawa Barat saja ada 52 potensi lokasi panas bumi. Kebanyakan lokasi ini diincar hanya untuk pengembangan PLTP yang total potensinya di Jabar mencapai 6.101 MW, termasuk di Kamojang. Ini dapat dibuktikan dari kajian dinas energi sumber daya mineral (ESDM) Jawa Barat 2013 lalu, dari 52 potensi lokasi panas bumi, yang direkomendasikan untuk wisata hanya satu lokasi yaitu di kawasan Ciheuras, Tasikmalaya.

Seperti dikutip www.tirto.id yang juga mengutip tulisan Volcano and Geothermal Tourism yang disunting Patricia Erfurt-Cooper and Malcolm Cooper, dituliskan mengenai sepuluh kategori atraksi yang bisa dijual dalam sebuah kawasan gunung api dan panas bumi untuk pengembangan wisata, yaitu aliran lahar, erupsi, geyser dan air panas, danau lava, danau kawah, kolam mendidih, kolam lumpur panas, sungai air panas, lubang semburan air panas, hingga terasering sedimen aktivitas vulkanik (sinter terraces).

Indonesia punya semua potensi wisata geothermal tersebut, hanya saja kita masih fokus mengembangkan potensi panas bumi sebatas untuk pembangkit listrik. Jika potensi panas bumi bisa dimaksimalkan tidak hanya sebagai PLTP tapi juga dimaksimalkan sebagai tempat wisata tentunya ini selain menambah pendapatan pengelola area, juga dapat mengedukasi masyarakat mengenai panas bumi sehingga generasi mendatang terus dapat mengembangkan potensi panas bumi sebagai energi terbarukan.

Tentunya kita juga harus mendukung upaya edukasi geothermal melalui wisata ini dengan mendatangi tempat-tempat tersebut. Saya dan istri juga akan memulai berwisata geothermal yang akan dimulai dari Kamojang Garut.

Tabik.

Refrensi:

https://tirto.id/mengemas-wisata-panas-bumi-berkelas-dunia-b9ml

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

Energi untuk Transportasi Masa Depan

Hari ini adalah Jumat. Seperti biasanya, Jumat sore kemacetan terparah selalu terjadi. Jutaan kendaraan, seperti motor dan mobil memadati jalanan Ibukota dengan mengeluarkan emisi asap polutannya yang menghiasi langit Jakarta, sekaligus menjelaskan energi fosil yang banyak terbuang sia-sia akibat kemacetan. Di tengah kondisi demikian, saya sebagai pegawai yang bekerja di Jakarta selalu terjebak dengan cobaan jalanan tersebut. Risiko tinggal di Jakarta yang harus dialami dengan sikap maklum yang luar biasa.

Belum lagi adanya rencana kebijakan pelarangan motor untuk memasuki Jalan Rasuna Said dan sekitarnya yang biasa saya lalui pasti mengalihkan pengendara motor ke jalanan lainnya yang akan lebih padat dan macet, sehingga otomatis membuat waktu dan jarak tempuh yang lebih lama bagi para pengendara motor. Hal yang juga membuat banyak bensin yang diiring peningkatan jumlah asap knalpot motor saya dan pengendara lain terbuang lebih banyak.

Saat-saat seperti itu kemudian saya sering berpikir, dengan peningkatan jumlah kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya, akan seperti apa langit Jakarta kelak dengan emisi yang pasti akan sama bertumbuhnya dengan jumlah kendaraan?

Belum lagi menurut ramalan matematis sederhana kita, peningkatan jumlah kendaraan ini nantinya akan menimbulkan kemacetan yang akan lebih parah yang tentunya akan membuat kerugian ekonomi baik akibat terbuangnya energi fosil itu sendiri maupun dampak yang ditimbulkan dari pencemaran udara.

Namun yang perlu dipertanyakan dari ramalan matematis kita tersebut, apakah ke depan manusia akan terus menggunakan kendaraan dengan energi fosil seperti sekarang ini? Bagaimana dengan fakta energi fosil yang cadangannya akan semakin menipis jika terus digunakan dan bisa jadi akan habis di masa depan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kini umat manusia mulai memikirkan kendaraan dengan energi alternatif selain energi fosil yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah dengan membuat energi biodiesel. Seperti yang sudah saya jelaskan pada tulisan di blog beberapa hari lalu, energi alternatif pengganti solar yang terbuat dari berbagai unsur organik baik tumbuhan maupun hewan ini mulai banyak dikembangkan. Hanya saja biodiesel saat ini belum bisa sepenuhnya menggantikan solar. Biodiesel masih harus dioplos dengan solar asli agar dapat digunakan pada kendaraan.

Maka selain itu, mulai dikembangkan energi ramah lingkungan lain untuk kendaraan, yakni listrik. Listrik selain ramah lingkungan karena zero pollution juga nilai produksinya kebanyakan lebih rendah dibandingkan energi fosil.

Kita yang tinggal di Jakarta mungkin akrab dengan kereta listrik Commuter Line. Kereta listrik ini merupakan salah satu contoh bagaimana energi listrik dapat digunakan untuk kendaraan. Selain kereta listrik Commuter Line, nantinya angkutan massal lain yang sedang dibangun seperti kereta MRT juga akan menggunakan energi listrik.

Tidak hanya kereta, sedang tren di dunia transportasi pengembangan mobil dengan tenaga listrik. Di Indonesia pun kini telah hadir mobil listrik besutan produsen mobil Tesla asal Amerika. Hanya saja mobil listrik Tesla ini dibandrol sangat mahal, yakni seharga 2,6 miliar rupiah.

46top-autos-china-pasar-mobil-listrik-terbesar-di-dunia

Dalam pengembangan industri mobil listrik, beberapa negara seperti Norwegia, Jerman, Prancis, Inggris, Amerika, dan India telah menarget pelarangan mobil berbahan bakar fosil dan menggantinya dengan mobil berbahan bakar listrik.

Pemerintah Indonesia tentu tidak mau ketinggalan dari negara lain untuk turut serta mendukung pemakaian mobil listrik dalam negeri. Pemerintah kini sedang menggodok regulasi-regulasi untuk mendukung energi listrik. Salah satunya akan diberikannya insentif perpajakan untuk Industri ini

Selain pemerintah, seperti dilansir di situs resmi Kementerian ESDM (www.esdm.go.id) dukungan percepatan kendaraan listrik untuk sektor trasportasi ini  juga mendapat dukungan dari banyak pihak antara lain dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang dinyatakan oleh Sekretaris Umumnya, Kukuh Kumara, jika Gaikindo siap untuk melaksanakan isi dari Peraturan Presiden atau Peraturan Pemerintah yang akan dikeluarkan untuk percepatan kendaraan listrik untuk transportasi. “Kan Gaikindo sudah punya macam-macam produk mobil listrik tinggal masalahnya kapan mau dibawa kesini dengan harga yang terjangkau. Dan kalau mau di produksi di Indonesia jumlah itu diperhitungkan dan dari kami sendiri itu inginnya diproduksi sendiri bukan impor CBUnya,”ujar Kukuh.

Dalam pengembangan mobil listrik, Indonesia bersaing dengan Thailand yang juga saat ini sedang mengembangkan hal yang sama. Namun di Indonesia volumenya lebih menjanjikan dan kita tentunya harus mendukung keinginan Pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai Negara berbasis industri namun juga berbasis teknologi.

Selain mobil, kini juga sedang dikembangkan motor berbahan bakar listrik oleh PT PLN. Tidak hanya itu PLN juga telah membentuk tim terkait kendaraan listrik sejak tahun 2011 dan saat ini sedang dalam tahap finalisasi untuk Charging Station.

Charging Station untuk motor listrik yang dimaksud adalah Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang telah tersebar di sejumlah lokasi di Jakarta. Secara sederhana SPLU ini bisa dianggap SPBU versi energi listrik.

svuba2wnfmiykylfknb1

Seperti diungkapkan oleh Anggota Tim Kendaran Listrik PT PLN melalui keterangan resmi pada http://www.kumparan.com (24/8) “Ada sekitar 542 SPLU yang telah kami sebar di Jakarta dan telah menyediakan prototype charging mobil listrik sesuai dengan APEC di Bali tahun 2014 lalu, target kami akhir tahun 2017 kami sudah berhasil menyediakan 1000 SPLU”.

Saat ini, untuk mengisi penuh satu motor listrik di SPLU dibutuhkan kira-kira 500 watt. Artinya, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 5.000 untuk sekali charge, untuk jarak tempuh sampai 80 km. Ini tentunya sangat murah jika dibandingkan motor konvensional.

Listrik nantinya akan menjadi energi untuk kendaraan-kendaraan masa depan. Hanya saja untuk konversi energi tentunya perlu dipergunakan listrik yang berasal dari energi terbarukan semisal dari PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) atau PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), jangan dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang berasal dari batu bara yang juga menghasilkan emisi. Kita perlu konservasi energi dan alam dari hulu ke hilir.

Tabik.

Refrensi

1. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/gaikindo-dukung-percepatan-mobil-listrik

2. https://kumparan.com/edy-sofyan/dukung-kendaraan-listrik-pln-bangun-542-pengisi-daya-di-jakarta

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

Kajol dan Energi Terbarukan

Siapa yang tak kenal Kajol? Artis kenamaan India bernama lengkap Kajol Devgan yang sejak dahulu hingga sekarang terus melambung namanya melalui berbagai film Bollywood, terutama jika ia berpasangan dengan aktor legendaris Shahrukh Khan. Generasi sampai 1990-an akhir sebagian besar akrab dengan pasangan ini. Pasangan serasi yang bermain bersama dalam film Koochie Koochie Hota Hai itu sukses menggoyang dunia, termasuk Indonesia. Membuat stasiun televisi menyiarkan berulang-ulang kali film ini di layar kaca. Kajol dan Shahrukh Khan pula yang membuat radio-radio di rumah-rumah kita terus memutar ulang lagu Koochie Koochie Hota Hai. Terakhir mereka berpasangan dengan film laris berjudul My Name is Khan. Film yang seolah meneguhkan pesona Kajol yang telah berumur hampir empat puluh tahun saat itu tak habis dimakan usia dan seolah selalu terbarukan dari waktu ke waktu, sekaligus menunjukkan kedigdayaan film-film Bollywood yang tak pernah mati diterjang cobaan zaman.

Kita mungkin bisa belajar banyak dari India soal perfilman. Bagaimana Bollywood tetap bisa exist di tengah ketatnya persaingan industri perfilman dunia. Bollywood yang terus konsisten menghadirkan ciri khas film yang banyak selingan lagu dan tarian ala India, bisa menjadi contoh untuk Indonesia untuk mengembangkan film-film yang memiliki ciri khas kebudayaan tersendiri.

Namun selain belajar mengenai industri perfilman, hal yang tak kalah penting untuk kita pelajari dari India adalah bagaimana mengembangkan energi terbarukan yang kini tumbuh pesat di negara mereka.

benar_img10

Selama ini kita melihat contoh energi terbarukan dari negara-negara telah maju seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara maju di Eropa. Seolah pengembangan energi terbarukan hanya menjadi domain negara-negara maju. Tapi dari India kita bisa belajar jika negara-negara berkembang pun juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan peningkatan kapasitas produksi energi terbarukan. India sejak akhir 2015 memiliki kapasitas energi terbarukan dari tenaga angin terbesar keempat di dunia. Hingga maret 2017, total kapasitas energi yang dihasilkan dari tenaga angin yang dimiliki oleh India adalah sebesar 32,17 GW (Gigawatt) yang menyebar di regional selatan, barat, dan utara. Sebagai perbandingan, data sampai tahun 2014, keseluruhan total kapasitas energi listrik nasional di Indonesia yang dikelola oleh PT PLN  39,25 GW. Hanya berbeda sedikit dengan kapasitas energi listrik tenaga angin India. Bahkan Menteri Keuangan India telah menargetkan pemasangan kapasitas produksi listrik tenaga angin nantinya pada tahun 2022 adalah sebesar 60 GW.

Pengembangan energi listrik tenaga angin ini pun didukung dengan kebijakan tax holiday untuk pengembang dan listrik yang dijual pun tidak kena pajak serta pemerintah yang memberikan subsidi untuk lahan (inkind) untuk pengembangan energi angin. Berkat dukungan pemerintah ini, India memiliki wind farm yang banyak untuk menyokong 70% dari total keseluruhan energi terbarukan mereka.

Asia's largest solar power station, the Gujarat Solar Park, in Gujarat, India

Selain energi angin, India kini juga tengah mengembangkan energi listrik dengan tenaga surya (matahari). India sempat mencetak rekor harga termurah untuk biaya produksi tenaga listrik dengan memakai tenaga surya. Biaya yang dihasilkan pun jauh di bawah biaya produksi listrik yang berasal dari batu bara.

Dilansir dari Vice Indonesia, dalam lelang tender listrik pemerintah digelar baru-baru ini, dua perusahaan pembangkit berbasis tenaga surya menawarkan harga per kilowatt hour (kWh) senilai 2,62 Rupee (setara Rp543 saja). Phelan Energy dan Avaada Power, yang sama-sama berani mengajukan harga jual listrik murah meriah itu, berebut konsesi pembangunan pembangkit berkapasitas 250 Mega Watt di Negara Bagian Rajasthan.

Tawaran harga yang murah tersebut bukan hal yang baru dalam tren energi terbarukan di India. DIberitakan pada april lalu, perusahaan asal Prancis berani mengajukan harga jual per kWh sebesar 3,15 Rupee. Angka ini menandai semakin murahnya listrik berbasis tenaga surya di India, yang awal 2016 masih dihargai 4,34 Rupee per kWh. Sebagai perbandingan, harga listrik untuk pembangkit tenaga surya di Indonesia masih berada di kisaran Rp1.995 per kWh. Akibatnya, harga itu membuat ongkos produksi listrik dari sinar matahari di Indonesia (yang terhitung negara kawasan khatulistiwa dengan jarak yang seharusnya lebih dekat dengan matahari) jauh lebih mahal daripada Kamboja. Dampak lainnya, di Indonesia Pembangkit Listrik Berbasis Batu Bara yang kurang ramah lingkungan masih dianggap lebih murah, karena berada di kisaran Rp800-Rp900 per kWh.

Karena murahnya harga produksi energi listrik bertenaga surya tersebut, India kini menjadi pasar paling atraktif dan menarik dalam hal investasi energi terbarukan, bahkan mengungguli Amerika.

Tren ini lalu juga didukung oleh Perdana Menteri India yang ingin mengelontorkan aliran subsidi dana milik pemerintah sebesar 3,1 miliar dollar AS untuk mengembangkan industri pembuat panel surya di India. Tujuannya agar kapasitas produksi pembangkit energi fotovoltaik meningkat serta agar India bisa menjadi pengekspor produk listrik bertenaga surya.

Pemerintah India telah membuat proyeksi 40 persen atau sebesar 175 Gigawatt kebutuhan energi dalam negeri dibangkitkan melalui energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, dan angin pada 2030. Di India juga terdapat masalah yang hampir sama seperti di Indonesia, terdapat lebih dari 300 juta warga yang sama sekali belum tersentuh listrik. Energi surya merupakan energi termurah bagi warga India. Pemerintah India mengharapkan mereka bisa menghasilkan energi tenaga suryanya secara swadaya.

Optimisme India ini dalam mengembangkan energi terbarukan sepertinya akan terwujud melihat konsistensi mereka dan utilitas energi fosil serta nuklir yang semakin lama berbiaya tinggi. Belum lagi akibat polutan yang ditimbulkannya.

Seperti yang disebutkan di awal, India adalah contoh baik bagaimana negara berkembang pun dapat memiliki peran besar dalam pengembangan energi terbarukan. Indonesia seharusnya banyak belajar dan juga harus bergegas mengejar ketertinggalan dalam hal pengembangan energi terbarukan. Selain bergegas mengejar ketertinggalan dalam hal industri perfilman juga tentunya. 🙂

*Tabik

Refrensi

https://www.theguardian.com/environment/2017/may/10/indian-solar-power-prices-hit-record-low-undercutting-fossil-fuels

https://en.wikipedia.org/wiki/Wind_power_in_India

http://windergy.in/index.php/wind-energy-in-india/

https://www.vice.com/id_id/article/9aedvz/harga-listrik-tenaga-surya-di-india-cetak-rekor-termurah

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #15HariCeritaEnergi

https://www.esdm.go.id

 

 

Bagai Sang Surya Menerangi Desa-Desa

Mengikuti lomba menulis blog #15HariCeritaEnergi adalah tantangan tersendiri. Di tengah aktivitas yang padat dan waktu yang sempit, kita yang menjadi peserta lomba ‘dipaksa’ untuk konsisten menulis setiap harinya mengenai energi. Di tengah-tengah mengejar deadline tiap malamnya, kita harus melakukan riset kecil-kecilan mengenai tema energi terbarukan dan konservasi energi sebelum kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan di blog. Riset dan penulisan yang harus dilakukan dengan seksama di tengah berbagai kesibukan cukup menguras energi (tentunya energi yang dimaksud di sini adalah energi yang dipakai oleh tubuh untuk beraktivitas, bukan energi yang menjadi tema lomba ini).

Saya sendiri meluangkan waktu menulis setiap harinya pada saat malam hari, setelah seharian bekerja dan melalui jalanan macet pulang kantor. Sebuah lagu dan secangkir kopi seringkali menjadi teman setia dalam membuat tulisan untuk lomba blog ini. Namun, selain kedua hal tadi, tentunya yang tidak kalah penting adalah supply listrik untuk menghidupkan alat-alat elektornik penunjang kegiatan menulis, seperti komputer, AC, dan lampu.

Hal-hal sederhana tersebut terkadang terlupa untuk disyukuri. Padahal kehidupan terang seperti itu masih belum ditemui di banyak desa-desa di Indonesia. Menurut data Kementerian ESDM, terdapat setidaknya kurang lebih 2.500-an desa yang belum menikmati listrik. Artinya sekitar 290.000-an rumah masih dalam kondisi gelap gulita selepas matahari terbenam.

bulb

Salah satu desa yang sempat belum teraliri listrik adalah Desa Tomuan Holbung di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kab. Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, namun desa mereka tak kunjung dilistriki. Hingga akhirnya siswa-siswi SD di desa tersebut mengeluhkan kondisi tersebut pada Presiden dengan berfoto berseragam pramuka sembari memegang karton kardus bertuliskan, “Bapak Presiden RI Pak Joko Widodo yang Terhormat. Tolonglah Desa kami Pak, karena sampai pada saat ini desa kami belum dialiri arus listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara). Desa kami: Desa Tomuan Holbung, Kec. Bandar Pasir Mandoge Kab. Asahan, Provinsi Sumatera Utara?”. Foto tersebut sempat viral di media sosial.

hl 3 Ribuan warga Kabupaten Asahan menghadiri acara syukuran Wakil Gubernur Sumatera Utara (1)

Untungnya sejak viral foto tersebut, pemerintah cepat merespon keluhan tersebut. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM melakukan pertemuan antara PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera dengan PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) Sumatera Utara I.

Pertemuan ini dilakukan karena PT PLN Wilayah Sumatera Utara awalnya telah merencanakan untuk membangun jaringan listrik ke wilayah tersebut. Namun, pembangunan fasilitas distribusi listrik ke Desa Tomuan Holbung ini memerlukan pemangkasan dan penebangan pohon karet milik PT BSP.

Mediasi pun dilakukan agar pembangunan fasilitas distribusi listrik dapat melalui wilayah perkebunan milik PT BSP. Sebagai informasi, pembangunan jaringan 20 kilo volt (kV) di Desa Tomuan Holbung ini merupakan program pemerintah yang dilaksanakan oleh PT PLN, sehingga dalam pelaksanaannya tidak tersedia anggaran ganti rugi untuk penebangan pohon.

Usai dilakukan mediasi, PT BSP menyampaikan dukungan bagi program listrik perdesaan di Desa Tomuan Holbung, dengan catatan meminimalkan resiko kerugian penebangan pohon. Tindak lanjut mediasi tersebut adalah survei ulang yang dilakukan PT. PLN Wilayah Sumatera Utara dan PT. BSP untuk meminimalisir penebangan pohon.

Informasi terakhir yang diberikan oleh website Kementerian ESDM, Desa Tomuan Holbung kini telah teraliri listrik. Anak-anak SD Desa Tomuan Holbung kembali berfoto dengan memegang kardus, namun dengan tulisan terima kasih kepada Presiden karena desa mereka telah teraliri listrik.

Selain Desa Tomuan Holbung, pemerintah juga akan melistriki desa-desa lain dengan program Listrik Masuk Desa (Lindes).

Hanya saja ternyata tak semua desa seberuntung Desa Tomuan Holbung dan desa-desa yang teraliri listrik dengan program Lindes. Masih banyak desa-desa lain yang belum bisa begitu saja dialiri listrik oleh PT PLN. Karena berbagai kendala teknis, seperti daerah-daerah yang terlalu terisolasi sehingga masih belum memungkinkan penyambungan listrik ke daerah tersebut.

Untuk itulah, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 47/2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi Bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik dan juga Permen ESDM No. 43/2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Peraturan-peraturan ini kemudian diewajantahkan dalam bentuk program pembagian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

DHpEWXMUIAAdCqt.jpg-large

LTSHE ini merupakan program pemerintah dengan membangun independent home solar system, semacam pembangkit tenaga surya kecil-kecilan yang mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Jadi ada pemasangan tenaga surya yang kecil paling tidak bisa menerangi empat lampu. Walau belum bisa menyalakan perangkat selain lampu, seperti televisi dan sejenisnya, tapi minimal rumah-rumah yang memakai LTSHE ini sementara mampu menikmati listrik dengan lampu sehingga tidak lagi menjadi gelap gulita jika malam.

LTSHE selain mampu menjadi pembangkit listrik sementara bagi rumah-rumah, memiliki juga keunggulan berupa alat yang dapat dipindah-pindah (portable), daya tahan lebih lama, dan pemasangannya yang tidak terlalu susah.

LTSHE ini bisa menjadi pembangkit sementara sebelum adanya jaringan listrik yang masuk ke desa-desa tersebut. Karena beberapa daerah sebetulnya memiliki potensi tenaga air yang mampu menjadi pembangkit listrik, hanya saja belum dikembangkan. Jika pun tidak ada potensi tenaga air, dapat pula dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya seperti yang telah dilakukan oleh Kementerian ESDM di beberapa desa yang telah ada. Pembangkit Listrik Tenaga Surya lebih memungkinkan dibangun karena potensi cahaya matahari di Indonesia relatif banyak.

Semoga kelak, usaha pemerintah dalam menerangi pedesaan tertinggal semakin banyak hasilnya hingga nantinya tidak ada lagi yang tidak menikmati listrik di era kemerdekaan seperti saat ini.

 

Refrensi:

1. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pln-sudah-tersambung-ke-desa-kami

2. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/terangi-desa-terpencil-kementerian-esdm-andalkan-lisdes-dan-ltshe

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id

 

 

Menjadi Sebaik-baiknya Generasi Milenial Urban yang Sadar Energi

150114_energy_renewable

Kita, anak-anak muda seringkali disebut generasi Y atau generasi milenial karena telah melewati pergantian millennium. Pergantian seribu abad yang menjadi salah satu simbol peralihan zaman yang kemudian juga menjadi menanda peralihan teknologi yang semakin maju, dari semula memakai tombol hingga kemudian berlayar sentuh. Dahulu saat masa bapak-ibu kita yang jarang memakai kendaraan sendiri dan jumlahnya terbatas, berbeda dengan sekarang yang bahkan dari sejak dini telah memakai kendaraan pribadi. Konon juga, kita memiliki akses informasi yang tidak terbatas dari berbagai intensitas pemakaian perangkat teknologi. Kita pun, anak-anak muda yang rata-rata sudah bekerja sebagian besar senang sekali menjadi kaum urban, senang kerja di kota besar yang lebih menjanjikan, menjadi pelaju yang berangkat tiap subuh dan pulang malam harinya pun dilakoni dengan senang hati demi memuaskan hasrat aktualisasi diri.

Aktivitas-aktivitas kita tersebut yang penuh dengan kebutuhan akses informasi dan mobilisasi yang lebih banyak dari generasi sebelumnya tentu memerlukan jumlah supply energi yang tidak sedikit pula. Misalnya saja kebutuhan informasi, kita memerlukan banyak daya listrik untuk membuat perangkat-perangkat informasi kita bekerja, seperti televisi, handphone, tablet, laptop, dan semacamnya. Kebutuhan mobilisasi kita pun juga memerlukan berbagai energi, motor atau mobil kita memakai energi yang berasal dari bensin atau solar sebagai bahan bakar, juga kereta listrik yang memerlukan energi listrik sebagai penggeraknya.

Namun, kebutuhan energi kita yang besar ini ternyata tidak diimbangi oleh cadangan energi yang tersedia. Cadangan minyak untuk bensin atau solar kita semakin lama semakin menipis. Energi listrik yang kebanyakan berasal dari energi batu bara pun suatu saat bisa habis. Lalu nantinya, jika kita memboroskan dan hanya mengandalkan energi-energi yang ada saat ini, bertahun-tahun kemudian anak cucu kita akan mengalami krisis energi.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar hal tersebut tidak terjadi?

Sudah selayaknya kita, para generasi milenial untuk sadar akan pentingnya energi. Untuk menghindari krisis energi, sejatinya kita dapat melakukan penghematan (konservasi) energi dan mencari sumber-sumber energi baru, seperti sumber energi terbarukan.

Tentu tak semua dari kita mampu mencari sumber-sumber energi terbarukan, karena latar belakang dan profesi kita yang berbeda-beda. Hanya saja, ada beberapa hal yang dapat kita semua lakukan untuk menghindari krisis energi tanpa memandang latar belakang dan profesi kita, yakni:

  1. Memakai kendaraan umum

Di era sekarang, memang kita harus bermobilisasi tinggi dari satu tempat ke tempat lainnya. Hanya saja, kendaraan-kendaraan pribadi yang kita gunakan memakan biaya energi yang sangat besar. Belum lagi banyaknya kendaraan pribadi membuat kemacetan di jam-jam kantor sehingga memperparah jumlah energi yang terbuang sia-sia. Kendaraan-kendaraan pribadi juga menimbulkan asap dan polusi udara yang bisa mengakibatkan global warming.

Dengan menggunakan kendaraan umum, kita ikut turut serta mengurangi jumlah kendaraan yang menimbulkan kemacetan dan polusi serta menghabiskan energi yang cukup besar.

Beberapa kendaraan umum juga ada yang bebas dari kemacetan, semisal busway dan kereta listrik. Kita pun selain dapat menghemat energi, juga dapat menghemat waktu perjalanan dan terhindar dari stress akibat kemacetan.

Kita pun tak perlu takut lelah dan letih layaknya mengendarai kendaraan pribadi yang menyebabkan risiko kecelakaan semakin besar. Kita tinggal menikmati perjalanan. Lebih bisa berinteraksi dengan penumpang lain dan melihat pemandangan sekitar. Kalau naik mobil sendiri kan nggak boleh ngobrol, terlalu menoleh terus-terusan menikmati pemandangan, sangat beresiko kecelakaan.

  1. Menggunakan sepeda

Jika jarak tidak terlalu jauh, ada baiknya kita memakai sepeda ke tempat tujuan. Misalnya ketika tempat kost kita tak jauh dari tempat bekerja, jangan memanjakan diri dengan menaiki motor atau mobil. Sesekali bersepeda selain dapat menghemat energi juga dapat berolahraga agar tubuh lebih sehat.

  1. Menghemat penggunaan listrik

Sebagai generasi milenial yang membutuhkan banyak sekali perangkat elektronik, sudah barang tentu kebutuhan akan listrik tak dapat dihindarkan. Namun kita dapat melakukan penghematan listrik dengan cara mengefisiensikan penggunaannya. Misalnya dengan cara mengatur kebutuhan penggunaan lampu. Siasati kebutuhan penerangan di rumah dengan menggunakan lampu hanya pada saat benar-benar dibutuhkan saja. Manfaatkan sinar matahari sebagai sumber penerangan utama saat siang hari. Gunakan lampu hemat energi yang hanya menggunakan jumlah kebutuhan listrik yang relatif sedikit. Usahakan untuk menerapkan aturan mematikan setidaknya dua lampu pada pukul 17.00 hingga 20.00 (jam-jam dimana kebutuhan energi listrik cukup tinggi).

Bisa juga dengan melakukan penghematan penggunaan AC. Pilihlah AC yang hemat energi dengan kemampuan untuk menaikkan suhu atau off secara otomatis ketika ruangan sedang ada sedikit orang atau justru tidak ada orang sehingga kita tidak perlu mendinginkan ruangan yang efeknya tidak akan dirasakan siapa-siapa. Sesuaikan suhu AC dengan luas ruangan dan jumlah orang yang ada. Suhu 20°C untuk luas ruangan sama yang diisi oleh satu orang dengan 5 orang dapat dirasakan berbeda.

Hal yang penting namun seringkali terlupa untuk mematikan alat-alat elektronik yang tidak dipakai saat akan tidur, seperti televisi dan gadget. TV yang masih menyala ketika kita tidak sedang menontonnya jelas selain memboroskan energi, juga membuat tagihan listrik membengkak. Jangan pernah tinggal gadget kita dalam keadaan masih mengisi daya ketika kita memutuskan untuk tidur. Selain boros energi, risiko lain seperti baterai menggelembung hingga bocor mengintai.

  1. Ikut kampanye hemat Energi

Kementerian ESDM memiliki kampanye gerakan hemat energi “Potong 10 Persen” yang merupakan gerakan menghemat 10% pemakaian listrik sehari-hari. Selain itu, ada pula kampanye yang digalang oleh Earth Hour dengan mengajak kita mematikan listrik di jam-jam tertentu yang biasanya merupakan jam penggunaan listrik tertinggi. Dan masih banyak lagi program lainnya.

Kita dapat menjadikan kampanye hemat energi sebagai tren hidup kita sebagai generasi milenial.

Demikian tadi hal-hal yang dapat kita lakukan sebagai generasi milenial dalam kelangsungan energi, agar nantinya di generasi-generasi selanjutnya tidak mengalami apa yang disebut sebagai krisis energi.

Tabik.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #15HariCeritaEnergi oleh Kementerian ESDM.

http://www.esdm.go.id