kue

Saya di Usia 23 Tahun

Dahulu (yang sepertinya tidak dulu banget), darah muda saya mengalir cepat. Seperti pemuda lainnya, saya bercita-cita tinggi menggapai semuanya, pendidikan, jabatan, dan semacamnya. Saya ingin menjadi ‘orang’ yang lebih bisa mengubah banyak hal.

Saya yang SMA pernah aktif berbagai kegiatan di dalam maupun luar sekolah, membawa saya pada mimpi luar biasa yang mungkin pada waktu itu bisa mengubah dunia.

Beberapa bulan kuliah di UI saya sempat ikut berbagai kepanitian dari mulai donor darah hingga panitia pemilihan raya kampus. Bahkan walaupun saya pindah (karena satu dan lain hal) ke STAN pun saya juga aktif jadi sekretaris angkatan dan berbagai kegiatan lainnya. Demi mempersiapkan hal-hal luar biasa yang akan saya lakukan nantinya.

Berubah

Namun semua pola pikir dan cita-cita tersebut mulai berubah ketika saya menjadi PNS yang menghabiskan waktu pagi hingga sorenya di kubikel dengan sistem yang demikian rumit.

Saya bukanlah siapa-siapa, hanya orang yang terjebak di macetnya jalanan setiap hari senin sampai jumat, lalu kemudian tertidur kelelahan di asyiknya ranjang Sabtu dan Minggu.

Saya PNS Pajak dengan pangkat rendah, dengan kerjaan yang begitu-begitu saja, dan tak kunjung mengerti soal pajak. Saya juga gagal dalam tes melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi.

Saya tersadar jika ternyata dunia tidak sesederhana yang dipikirkan.

Keinginan (atau mungkin yang lebih tepatnya ambisi) saya luluh sedikit demi sedikit. Saya lelah dengan cita-cita di atas awan.

Sampai pada suatu titik kefrustasian tersebut, takdir memperlihatkan saya pada orang-orang yang ternyata masih pontang-panting mencari pekerjaan. Beberapa mendapatkan pekerjaan yang tidak menarik dan lebih membosankan dengan gaji yang tak seberapa.

Saya tersadar masalah selama ini hanya karena lupa bersyukur, takdir membuat saya tak perlu mencari pekerjaan sana-sini. Saya diangkat langsung menjadi PNS di usia muda dengan gaji yang bisa dikatakan lumayan. Saya ditempatkan pada kantor pusat di Jakarta yang tidak jauh dengan keluarga. Saya juga bisa menginjakkan kaki di semua pulau besar di Indonesia dari mulai Sumatera hingga Papua berkat perintah dinas luar dari kantor.

Di usia 22 tahun, di saat yang lain baru mulai menabung untuk biaya perkawinan, saya sudah bisa menikah dengan resepsi yang walaupun sederhana namun masih ‘pantas’. Honeymoon berdua dengan istri ke tempat-tempat luar biasa di Bali, Malang, hingga Labuan Bajo. Mencicil rumah kecil di depok yang harusnya sebelum saya umur 40 sudah lunas.

Hari ini, di usia 23 tahun, saya mungkin harus memperbanyak syukur saja. Menikmati hari-hari yang dilalui. Menikmati mengerjakan pekerjaan yang walau begitu-begitu saja, tapi tidak terlalu menyibukkan. Tidak usah terlalu berambisi macam-macam, toh kesempatan soal takdir, namun menikmati hidup soal kita mau atau tidak.

Saya mungkin ditakdirkan membantu orang-orang lain yang justru lebih memiliki kesempatan untuk berkembang. Istri saya yang lebih pintar dan diandalkan di kantornya, sering membawa tugas kantornya ke rumah, dan saya sebagai suami yang baik membantunya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut sebisanya.

Adit saya yang juga lebih pintar, sering meminjam kartu kredit saya untuk mengurus beasiswa S2-nya di Eropa. Tugas saya membantunya meminjamkan kartu kredit.

Tugas saya memang sepertinya begitu, bukan menjadi orang luar biasa, tapi membantu orang-orang luar biasa di sekitar saya.

Sekarang, cita-cita saya hanya memiliki keluarga yang harmonis, rumah yang cepat selesai KPR-nya, serta menjadi PNS yang menikmati pekerjaannya dan kopi di setiap pagi.

Tabik.

 

 

unnamed

Mencari Rumah dengan BTN Properti

Layaknya pasangan muda lainnya yang baru menikah, saya dan istri dihadapkan pada masalah tempat tinggal, tempat kami untuk bernaung, istirahat, dan berbagi cerita.

Awalnya kami bersepakat untuk tinggal nge-kost di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat. Toh kami masih tinggal berdua, belum ada anak, jadi tinggal di kost-an harusnya tidak terlalu masalah. Lagi pula tempat kost yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja sangat memudahkan kami berdua.

Hanya saja setelah dijalani beberapa bulan, ada hal yang mengusik kami, bukan masalah kenyaman tempat tinggal atau sebagainya, tapi pengeluaran untuk biaya kost ternyata juga lumayan. Uang (yang menurut kami) besar itu hanya menguap begitu saja ke kantong Ibu Kost, tanpa bekas.

Padahal kalau dihitung-hitung, biaya sewa bulanan untuk nge-kost jika ditambah sedikit lagi bisa untuk mencicil rumah sederhana. Apalagi tabungan kami berdua juga cukup untuk membayar DP rumah. Harusnya pun tidak apa-apa jika tinggal ‘sedikit’ lebih jauh, tapi uang terinvestasikan dalam bentuk rumah.

Maka diputuskanlah untuk mencari rumah di kota sekitaran Jakarta yang aksesnya gampang. Karena istri pernah kuliah di Depok dan beberapa saudara ada yang juga tinggal di daerah sana, maka kami prefer  untuk mencari rumah di daerah Depok, terutama yang dekat stasiun, agar mudah mencapai tempat kerja kami di Jakarta.

Ternyata, mencari rumah tidak segampang yang dibayangkan. Kami harus menghabiskan hari Sabtu dan Minggu untuk survei mengelilingi Depok, mencari ke setiap sudut perumahan, rumah yang cocok bagi kami berdua. Untuk satu rumah, bahkan harus kami datangi berkali-kali demi memutuskan apakah rumah ini cocok atau perlu kami delesi dari pilihan.

Ada uang yang cukup belum tentu menjamin gampang mencari rumah. Kata orang, mencari rumah itu seperti mencari jodoh, perlu ada diyakinkan berkali-kali. Dan kami dipusingkan apakah kami yakin untuk menempati rumah yang sedang kami survei.

Belum lagi kami juga dipusingkan soal mekanisme KPR yang saya dan istri juga tidak terlalu paham. Kami banyak bertanya sana-sini dengan keluarga, teman, hingga petugas bank sendiri yang kemudian sering menyodorkan tabel KPR yang dipenuhi angka-angka.

Kami yang tidak mau terlalu rumit dengan angka-angka di tabel akhirnya memilih untuk menghitung sederhana perkiraan cicilan KPR dengan kalkulator KPR yang tersedia. Pencarian kami di internet menemukan kalkulator simulasi KPR yang cukup sederhana namun memuat informasi yang lengkap, yakni kalkulator KPR BTN Properti.

screen-shot-2017-02-03-at-6-45-47-am

Kalkulator simulasi KPR dari Bank BTN yang dapat diakses di www.btnproperti.co.id memuat informasi perkiraan rincian pinjaman perbulan dan pembayaran pertamanya lengkap dengan biaya administrasi bank serta biaya notaris.

Kita juga bisa menyesuaikan variabel-variabel KPR lainnya seperti besarnya bunga fix, lama tahun mencicil, jumlah DP yang dibayarkan, dan sebagainya. Cukup simple dan mudah, tapi juga menghasilkan informasi KPR yang lengkap.

Selain kalkulator simulasi KPR, Bank BTN yang memang terkenal sebagai “Bank-nya Kredit Rumah” dalam situsnya www.btnproperti.co.id, ternyata juga memuat berbagai informasi yang dibutuhkan oleh kita para pencari rumah. Kita dapat mencari rumah-rumah (yang bekerja sama dengan BTN) yang sedang dijual, baik yang bersubsidi maupun tidak. Ada juga simulasi yang menghitung penghasilan kita dan pasangan bisa mendapatkan rumah dengan harga berapa. Bahkan tersedia juga informasi harga pasaran rumah di suatu daerah dengan jumlah tanah atau bangunan yang bisa kita tentukan. Ini sangat membantu kita dalam memperkirakan apakah rumah yang akan kita beli lebih mahal atau lebih murah dari harga pasar. Kita tidak perlu terlalu banyak menyurvei harga-harga rumah lainnya.

screen-shot-2017-02-03-at-6-49-23-amscreen-shot-2017-02-03-at-6-50-02-am

Tidak hanya itu, BTN rupanya juga mulai mendigitalisasi proses administrasinya. Di www.btnproperti.co.id, kita bisa mengajukan permohonan KPR, mengonfirmasi pembayaran, sampai membuka rekening BTN online. Cukup aman, mudah, dan tak perlu mengantri.

Dalam proses pencarian rumah, kami sangat terbantu dengan situs ini.

Bagi kalian yang senasib dengan kami, sedang mencari-cari rumah, bisa menengok www.btnproperti.co.id. Syukur-syukur kalau ada yang cocok dan bisa langsung mengajukan pembelian rumah. Agar segera ada tempat nyaman bagi keluarga untuk tinggal.

Selamat mencari dan menemukan rumah idaman.

Tabik.

 

NB: Tulisan ini diikutkan lomba blog Bank BTN dengan tema Transformasi Digital Bank BTN dalam Meningkatkan Layanna Perbankan.

Ketika Pria Jawa Berjodoh dengan Wanita Sunda

Sejak beranjak dewasa, Eyang saya sering menyampaikan wejangannya agar jangan menikahi wanita bersuku sunda. Bermacam alasan dituturkan, dari mulai adanya ketidakcocokan kultur hingga mitos pernikahan jawa dan sunda yang seringkali gagal.

Memang kebanyakan keluarga besar hampir semuanya menikah sesama suku jawa, hanya beberapa saja yang menikah beda suku. Pernah ada cerita keluarga eyang yang beristri wanita sunda, namun gagal di tengah jalan. Konon pernikahan mereka banyak diwarnai percekcokan karena perbedaan kebiasaan dan cara pandang. Mungkin ini menjadi alasan sehingga saya diarahkan untuk tidak menikahi wanita sunda.

Selain itu, saya juga pernah membaca jika mitos larangan menikah antara suku jawa dan suku sunda dipengaruhi oleh Perang Bubat jaman dahulu kala, antara Kerajaan Majapahit yang jawa dengan Kerajaan Padjajaran yang sunda. Perang yang memakan banyak korban ini membawa ketegangan hubungan jawa dan sunda hingga beratus-ratus tahun kemudian, bahkan hingga saat ini.

Tapi kemungkinan Eyang saya tidak terpengaruh oleh mitos dendam lama nenek moyang tersebut. Ia lebih percaya soal mitos wanita sunda itu matrealistis, hobi dandan, pemalas, dan suka melawan. Walau saya pikir, kalau ternyata mitos itu benar wanita sunda memiliki sifat demikian, tidak hanya pria jawa saja, hampir kebanyakan pria di dunia termasuk pria sunda sendiri juga seharusnya enggan menikahi wanita yang cuman mau enak-enak seperti itu.

Dulu, saya menganggap larangan menikahi wanita sunda ini cuman angin lalu. Toh, saya juga tidak tahu jodoh saya nantinya bersuku apa. Apakah jawa, batak, bugis, minang, atau dayak. Ada 1.340 suku bangsa di Indonesia (BPS:2010), maka probabilitas untuk menikahi wanita sunda harusnya cuman sepersekian persen.

Hingga akhirnya ternyata takdir berkata lain, saya dipertemukan dengan seorang perempuan bersuku sunda yang (menurut hati waktu itu) terasa seperti jodoh. Maka polemik jawa-sunda menjadi urusan utama yang harus dipikirkan.

Hati-hati saya menyampaikan ke orangtua perihal calon mantu mereka yang bersuku sunda. Walau butuh waktu untuk berpikir, orangtua yang cenderung memiliki pemikiran lebih terbuka dan modern, akhirnya menyetujui untuk saya menikah dengan wanita sunda. Ibu saya hanya menyampaikan beberapa nasihat mengenai posisi pria nantinya dalam pernikahan seperti apa. Harus bisa memimpin, mengayomi, dan mengarahkan istri ke hal-hal yang baik. Pesannya, bukan masalah suku wanitanya, tapi apakah suami dapat mengarahkan atau tidak.

Namun, pekerjaan berikutnya adalah menyakinkan keluarga besar, terutama Eyang. Hal yang ternyata tidak terlalu sulit. Di suatu kesempatan, saya mengenalkan sang calon kepada Eyang yang kemudian berjalan mulus. Semula Eyang tidak tahu jika calon saya ini bersuku sunda. Begitu Eyang sudah bisa “klik”, baru kami memberitahu beliau.

Karena mungkin Eyang sudah terlanjur suka, jadi beliau tidak terlalu keberatan. Untuk anggota keluarga besar pun berhasil dibicarakan dengan baik.

Dan syukurnya, ke keluarga pasangan pun, saya juga tidak terlalu ada permasalahan penikahan beda suku tersebut.

Saya jadi tersadar, menikah beda suku, apalagi jawa-sunda bukanlah persoalan ketakutan mengenai perbedaan kesukuan. Melainkan ketakutan perbedaan karakter dan cara pandang karena dibesarkan dengan lingkungan yang berbeda. Saudara kandung yang dibesarkan dari kedua orangtua yang sama saja bisa jadi berbeda karakter, apalagi yang dibesarkan dengan orangtua dan cara yang berbeda jauh dari segi budaya.

Maka, jika ingin untuk menikah berbeda suku, yang pertama harus dilakukan adalah saling memahami. Paham jika memang ada perbedaan-perbedaan dalam kebiasaan dan memandang sesuatu. Ada do and don’t yang berlaku. Bisa jadi ada sesuatu di keluarga kita yang diperbolehkan, tapi di keluarga lain tidak diperbolehkan.

Juga soal bahasa, misalnya saja, kata “dahar” (artinya makan) di jawa itu sudah cukup halus untuk berbicara ke orang yang lebih tua. Tapi di sunda, kata dahar merupakan bahasa kasar dan tidak cocok dipakai jika berbicara dengan orang yang lebih tua.

Adat istiadat yang berbeda bukanlah halangan dalam hubungan. Harusnya itu yang membuat kita harus saling belajar mengenai karakter masing-masing. Melakukan sesuatu di tempat dan kesempatan yang tepat. Jangan terlalu kritis jika ada hal yang menurut kebiasaan dan pandangan kita tidak tepat, tapi coba pahami dulu apakah memang berbeda rule-nya, jangan salah tangkap.

Jadilah karakter yang diharapkan. Bukan untuk menjadi orang lain, tapi untuk menghormati keluarga pasangan yang memang berbeda kebiasaanya. Misalnya jika ada keluarga yang menganggap jika perempuan yang baik adalah yang tidak tertawa terbahak-bahak, maka cobalah untuk bersikap dan tertawa sewajarnya jika berada di lingkungan keluarga pasangan.

Patahkan juga soal mitos-mitos jelek yang telah terlanjur dianggap. Buktikan jika memang bukan seperti itu kenyataannya. Saat masih pacaran dulu (sampai sekarang juga), istri saya selalu menyempatkan membantu pekerjaan rumah tangga yang sekiranya perlu dilakukan. Minimal merapikan tempat kami mengobrol di ruang tamu. Demi mematahkan anggapan jika wanita sunda itu pemalas.

Menikah beda suku juga mengharuskan kita membuat beberapa kesepakatan di antara banyak perbedaan. Bagaimana hubungan komunikasi kita berdua, apa do dan don’t yang berlaku dengan mempertimbangkan kebiasaan dan karakter masing-masing.

Adat pernikahan apa yang dipakai juga perlu disepakati. Saya dan keluarga sendiri tidak terlalu mempermasalahkan adat pernikahan, karena pernikahan dilangsungkan di keluarga istri, maka kita memakai adat sunda waktu itu. Beberapa teman saya yang menikah beda suku ada yang menge-mix adat pernikahan, ada juga yang melakukan dua kali acara sehingga adat masing-masing dilaksanakan. Tergantung kesepakatan dan dana yang tersedia.

Selain itu, pernikahan beda suku otomatis membuat perbedaan kampung halaman. Sepakati bagaimana aturan pulang kampung saat lebaran. Bisa dalam sekali pulang kampung mengunjungi dua kampung halaman jika memang memungkinkan. Jika tidak, bisa sepakati bergantian, misalnya tahun ini di kampung halaman suami, tahun berikutnya di kampung halaman istri.

Terakhir yang tak kalah penting dari semua itu, jika ingin menikah, tidak hanya menikah berbeda suku, bahkan satu suku pun, jangan lupa untuk berdoa. Terkadang ada beberapa hal sulit bisa terlewati hanya dengan doa. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, sudah selayaknya kita menjemput dengan baik.

 

Tabik.

thumb_csln2854_1024

 

 

Lelaki yang Menjadi Suami Buncit

Dua hari sebelum menikah, saya menimbang demi membuktikan mitos jika setelah menikah, berat badan dipastikan akan melonjak naik. Saya mencatat dengan seksama berapa berat badan pada saat itu.

Hingga dua bulan setelah menikah, setelah baju mulai sesak, saya baru menimbang kembali. Ternyata mitos tersebut benar adanya. Saya sudah naik 6 kilo selama dua bulan! Jadi setelah menikah, tiap bulan rata-rata saya naik 3 kilo! Pantas saja baju-baju kantor slim fit yang dahulu memperlihatkan lekuk tubuh, berganti menjadi memperlihatkan timbunan lemak.

Kata orang-orang ini pertanda bahagia?

Bisa jadi iya. Dibandingkan saat bujang yang tidak terlalu peduli kapan waktu untuk makan, setelah menikah saya jadi lebih disiplin soal makan sehari tiga kali. Walau tidak setiap waktu makan selalu disiapkan, minimal ada yang mengingatkan untuk makan. Ada yang menunggui di rumah untuk makan malam. Selain itu, makan yang dahulu sendiri, kini ada yang menemani, berbagi cerita sembari makan, hingga tahu-tahu sudah habis banyak. 😀

Namun, bahagia sama seperti hal lainnya di dunia ini, harusnya tidak boleh terlalu berlebih. Apalagi bahagia dalam wujud perut buncit yang bisa jadi menimbulkan banyak penyakit sudah selayaknya untuk segera dihentikan.

Bukankah sehat bersama lebih baik daripada buncit bersama. Maka sebagai awal resolusi 2017 ini, marilah kita menyehatkan badan, mengakhiri segala penjajahan kemalasan untuk berolahraga.

 

Kwitang, 12 Januari 2017

Ditulis samba ngopi dan ngemil

 

C360_2017-01-12-19-44-48-068.jpg

Menikah Tak Segampang dan Sesulit Itu

Setelah melalui persetujuan kedua keluarga masing-masing, dipilihlah tanggal 1 Oktober 2016 sebagai hari pernikahan kami.

Tanggal yang kemudian membuat kami hanya memiliki waktu tiga bulan saja untuk mempersiapkan segalanya. Kami pikir tiga bulan adalah waktu yang cukup, tapi ternyata pemikiran kami tidak sepenuhnya benar. Tiga bulan yang terpotong liburan lebaran itu harus dilalui dengan pontang-panting ke sana-kemari, bergulat dengan berbagai proses yang melelahkan. Menghabiskan weekend tanpa istirahat, bahkan sesekali pulang pergi Jakarta-Tasikmalaya. Belum lagi terkadang pulang kantor pun harus rela berlelah-lelah demi persiapan pernikahan.

Kami memang tidak menargetkan pernikahan yang sempurna lagi mewah. Hanya saja, kami menyakini bahwa pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup dan merupakan pertemuan berbagai keluarga, sahabat, dan handai taulan yang telah merelakan waktunya untuk melakukan perjalanan jauh menuju tempat resepsi, sehingga harus dihargai dengan persiapan sebaiknya-baiknya.

Untuk biaya pernikahan pun sedari awal sudah kami anggarkan serendah mungkin dengan bertanya sana-sini. Pada prinsipnya acara menyesuaikan anggaran, bukan sebaliknya. Undangan kami cetak di pasar tebet yang memang terkenal murah. Souvenir kami beli di pasar jatinegara setelah tawaf seharian mengelilingi pasar tersebut mencari souvenir yang cocok di hati dan kantong. Cincin kawin kami beli di Tasikmalaya, sedangkan mas kawin berupa gelang kami beli di Cikini yang memang pusatnya emas perhiasan.

Sementara untuk Wedding Organizer, kami mencari yang direkomendasikan beberapa teman yang menikah di Tasikmalaya. Wedding Organizer ini pun bukan yang biasanya bersifat all-in satu paket, mereka bertugas saat acara saja dan hanya mencarikan serta menghubungkan vendor-vendor pernikahan seperti dekorasi gedung, sewa gaun pernikahan, dokumentasi, dan sebagainya. Sehingga kita bisa dengan leluasa mengatur vendor mana saja yang kita pakai sesuai keinginan dan anggaran yang tersedia. Misalnya saja, saya dan istri ingin ada kembang api di pernikahan, Wedding Organizer inilah yang bertugas mencarikan.

Selain itu, di tiga bulan itu, kami juga melakukan foto prewedding dengan searching di internet. Dan akhirnya kami menemukan suatu tempat foto di bilangan kota Tangerang yang cukup murah dibandingkan yang lain karena sedang diskon lumayan. Hasilnya pun juga memuaskan.

Oh ya, di tiga bulan yang sempit itu, dua minggu sebelum pernikahan, kami juga mengadakan acara lamaran yang menghadirkan dua keluarga,. Jadi sebenarnya tanggal pernikahan ditentukan sebelum lamaran. Walau sebelumnya saya telah melamar secara informal ke keluarga istri, namun untuk formalnya kami mengadakan acara lamaran sederhana. Jadi betapa sempitnya persiapan pernikahan ditambah dengan persiapan lamaran.

Namun, di akhir semua kelelahan selama tiga bulan tersebut, prewedding, lamaran, dan persiapan resepsi, semua kemudian terbayar manis di meja penghulu. Di saat ijab kabul yang mendebar-debarkan terucap lancar diringi suasana syahdu pernikahan.

Pelajaran

Di balik proses persiapan menikah tiga bulan itu kami banyak belajar, ternyata menikah itu tidak segampang yang dijargonkan para motivator di media sosial selama ini. Menikah selain butuh kemapanan harta (karena seringkali ada biaya tidak terduga dari budget yang dianggarkan) dan fisik (karena prosesnya yang melelahkan), juga butuh kesiapan mental. Konon, semakin mendekati hari pernikahan, syaitan akan semakin menyelusup dalam rupa keragu-raguan akan pilihan kita. Betapa sering ada berita pernikahan yang dibatalkan begitu saja saat mendekat hari H. Mungkin ini disebabkan karena memang tekanan saat persiapan pernikahan sangat besar. Persiapan pernikahan yang melelahkan kadang kala membuat komunikasi hubungan jadi renggang,  juga pertengkaran karena perbedaan pendapat di balik pemikiran dua kepala (bahkan dua keluarga) juga sering kali muncul saat menentukan konsep pernikahan, sehingga mencari jalan tengah untuk keduanya adalah salah satu pekerjaan yang terunyam dalam mempersiapkan pernikahan.

Namun, menikah juga tidak sesulit yang dibayangkan para single tuna asmara. Di balik kesulitan anggaran pernikahan yang kadang kala membengkak, di situ sering kali ada kemudahan rezeki, entah itu berupa bonus kantor atau sebagainya.

Juga walau kadang ada ragu menyelisik saat persiapan pernikahan (dan itu wajar), tapi yang harus dipahami adalah bahwa setiap orang memiliki kekurangan, dan telah dijodohkan seseorang yang terbaik untuk kita dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya dan kita pribadi.

Kami juga belajar, menikah itu pada intinya memurnikan niat untuk ibadah untuk menjalankan perintah-Nya. Tentu di balik setiap ibadah yang dilakukan, ada ujian-ujian yang menyertainya. Namun, di setiap ujian ibadah, tentu selalu dijanjikan adanya kemudahan di dalamnya. Yakinlah!

Salam.thumb_CSLN3060_1024.jpg

Selamat Setahun

Tepat setahun lalu, kita bertemu.

Di tengah hujan rintik-rintik penada bulan penghujan Desember, kita membawa kisah petualangan masing-masing. Bercerita kemana saja, dengan siapa, bagaimana prosesnya, apa hasilnya, hingga akhirnya setelah tiga setengah tahun lamanya bisa kembali duduk bertatapan satu meja. Saling memandang, saling mengagumi, lalu mengulang saling jatuh cinta.

Kita mungkin tak perlu pertemuan seperti Rangga dan Cinta yang tiba-tiba bertemu di kota lain secara kebetulan, atau pertemuan tabrakan tidak sengaja di jalan ala-ala sinetron FTV tengah malam. Pertemuan kita sederhana, direncanakan kita berdua, namun dirancang tindak lanjutnya oleh semesta.

Semesta yang kemudian bekerja mempersatukan dalam takdir yang telah tertulis jauh-jauh hari dalam kitab-Nya dalam rentang waktu yang tidak lama. Dengan segala kesungguhan kita akhirnya menikah. Tanpa banyak kata, tanpa banyak alasan, tanpa banyak drama, namun penuh kegembiraan.

Hingga kemudian, kita mengikat diri dalam suci, dalam ucapan yang tak lebih dari satu menit dengan perjanjian berat yang membahagiakan. Menyelesaikan kisah yang bertahun-tahun dulu mengambang dengan segudang tanya yang kini telah terjawab semua.

Kemudian memulai lembaran baru, dari halaman satu yang katamu tidak boleh terlipat. Kalaupun ingin dijeda harus dengan pembatas yang bagus agar tetap rapi. Dan aku pun juga ingin menyelesaikannya dengan rapi pula denganmu. Tanpa lipatan apalagi sobekan. Menyelesaikan dengan alasan yang memang telah habis lembarnya.

Kwitang, 13 Desember 2016

Tepat setahun yang lalu kami bertemu kembali.

 

img_20161010_155429-1

Kepada Dewi

Aku tidak percaya cinta pandangan pertama
Tapi aku ingat pada pandangan pertama kamu terlihat manis

Sama tak yakinnya aku pada cinta abadi
Tapi aku tahu tujuanku abadi bersamamu

Aku takkan seromantis Romeo menciumi racun padamu
Mungkin aku akan seperti Nuh yang membiarkanmu menentukan pilihan
Tapi aku akan seperti Adam yang akan merindukanmu setiap hari
Dan mencarimu ribuan kilometer

Lalu pada detik yang telah, sedang, dan akan berlangsung, terlantun harap yang penuh suka cita
Serta bait-bait yang takkan pernah aku lupa

images-1