Seburuk apakah D-I STAN?

April 7, 2013 § 400 Comments

What?! Hanya D-I? Ada ribuan lulusan S-1 menjadi pekerja rendahan atau bekerja dibawah UMR atau bahkan menganggur. Dan apa yang diharapkan dari seorang lulusan D-I?
Boleh di STAN, tapi CUMAN D-I kawan! Itu buruk kawan, mau kerja apa kau nantinya? Mau dapat penghasilan berapa kau? Paling penting, mau jadi apa kau nantinya?

Saya dan teman-teman yang menjadi lulusan D-I seringkali mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan kami sudah berbusa-busa menjelaskan. Emblem-emblem STAN pun tak cukup membuat orang lain mengerti selama masih ada D-I nya. Hanya 1 tahun belajar -bahkan angkatan saya hanya 10 bulan- emangnya dapat ilmu apa? Belum gengsinya. Sudahlah, D-I itu pokoknya buruk. Bahkan teman saya pernah dikatakan, bahwa D-I itu tidak berguna, hanya jadi “kacung” di kantor. Sekali lagi, itu buruk!

Saya yang termasuk lulusan D-I STAN tahun 2011, yang dimana pada tahun 2011 itu tidak dibuka pendaftaran selain D-I Spesialisasi Bea Cukai dan Spesialisasi Pajak, akan mencoba menjelaskan seburuk apakah D-I itu berdasarkan pengalaman saya dan beberapa sumber internet.

Lama Belajar
Buruknya, D-I itu lama belajarnya paling lama hanya 1 tahun. Ya, buruk, karena kita tidak bisa belajar lama-lama atau pun mengerjakan tugas kuliah selama bertahun-tahun. Selain itu kita juga tidak bisa merepotkan orangtua lama-lama karena kita kecepatan lulusnya. Bahkan satu tahun kita sudah bisa ikut pakai baju toga dan diwisuda. Lucu sekali, saat masih unyu-unyu kita sudah siap bekerja dan menghasilkan duit setelah itu sebagai CPNS di Kementrian Keuangan. Buruk itu kawan!

Biaya Kuliah
Buruknya, STAN itu dari dulu tidak pernah mungut uang dari mahasiswanya. Kita yang ingin bayar kuliah malah bingung karena gratis. Belum lagi kebingungan kita bertambah karena selama satu tahun di D-I kita diberi uang saku per bulannya. Juga kadang dikasih buku-buku tulis dari STAN, padahal kita sudah punya buku binder biasanya untuk mencatat kuliah. Bingung sekali mau diapakan buku-buku tulis tersebut. Takut mubazir, dosa. Itu buruk kawan!

Pendidikan
Buruknya, karena D-I dipersiapkan untuk bekerja, Kita harus mengeyam pendidikan 50 sks selama satu tahun atau 25 sks satu semester. Bandingkan dengan kampus lain, sepintar apa pun mahasiswanya, satu semester hanya diperkenankan mengambil 24 sks. Belum lagi, UTS kita yang full lima hari dengan sehari dua mata kuliah. Jadi total ada sepuluh mata kuliah. Padat sekali. Mengurangi waktu tidur. Itu buruk kawan!
Prospek Kerja
Buruknya, kalau D-I itu kebanyakan tidak bisa pindah kerjaan ke bagian lain. Harus sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus. Misalnya, kalau D-I nya pajak, maka hampir pasti dia kerjanya akan ditempatkan di Ditjen Pajak. Kalau D-I nya Bea Cukai, maka hampir pasti dia kerjanya akan ditempatkan di Bea Cukai. Beda dengan D-III yang entah atas pertimbangan apa kadang kerjanya beda dengan apa yang dipelajari di kampus. Misalnya, ada lulusan D-III Penilai yang kerjanya malah ditempatkan di Bapennas, tidak ada hubungannya secuil pun. Sama juga ada yang lulusan D-III Pajak ada yang kerjanya ditempatkan di Bapepam-LK. Atau D-III Bea Cukai malah nyasar ditempatkan di BPKP. D-I tidak bisa merasakan bingungnya kerja di tempat yang tidak dipelajari dahulu di perkuliahan. Itu buruk kawan!

Gaji
Buruknya, D-I itu lulus pangkatnya hanya II-A dibandingkan dengan D-III yang kuliahnya lebih lama berpangkat II-C. Namun, untuk THP (Take Home Pay=Gaji+Tunjangan) sesama Fresh Graduate agak beda tipis. Dan THP untuk golongan II-A di Kemenkeu, khususnya Pajak dan Bea Cukai malah terkadang lebih besar daripada golongan III-A (Setingkat S-1) di beberapa kementrian/lembaga dan pemda. Tidak adil dong harusnya. Itu buruk kawan!

Pekerjaan
Buruknya, jika sama-sama fresh graduate, pekerjaan hampir-hampir sama antara lulusan D-I, D-III, bahkan S-1. Ini yang paling tidak saya suka. Saya pikir kerjaan D-I adalah pekerjaan yang tidak perlu banyak berpikir banyak. Ternyata sama saja. Waktu saya magang di kantor pajak kemarin, saya sempat ditempatkan di frontliner. Itu ibarat garis depannya kantor pajak. Karena di situ akan banyak berhubungan dengan berbagai macam jenis pajak dan berbagai pertanyaannya. Berjuang menghadapi banyak wajib pajak sama dengan D-III atau pun S-I yang sudah lama bekerja. Tidak ada acara disuruh bikin kopi. Padahal saya ingin sekali bikin kopi waktu itu. Terutama White Coffie. Itu buruk kawan!

Kelanjutan Pendidikan
Buruknya, ada beberapa kepala kantor maupun direktur yang dulunya masuk kemenkeu cuman ijazah D-I atau SMA. Bagaimana bisa begitu? Ya salah satunya karena mereka terus melanjutkan pendidikan. Nah, untuk D-I itu baru bisa lanjut pendidikannya ke D-III khusus yang ada di STAN setelah dua tahun bekerja. Jadi, kalau sudah bosan bekerja selama dua tahun itu, kita bisa kabur melanjutkan kuliah dengan digaji. Katanya sih tugas belajar, tapi kalau dipikir-pikir agak gabut karena tidak kerja masih terima gaji. Itu buruk kawan!

Tes Masuk STAN
Buruknya, karena hanya D-I dan USM STAN 2011 yang telat kemarin. Peserta D-I STAN hanya berjumlah 57.000 peserta yang sebelum-sebelumnya lebih dari itu. Ditambah lagi dengan tes yang empat kali penyaringan sehingga hanya menyisakan 1.600 peserta lolos seleksi. Sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang lebih dari 2.000 mahasiswa. Itu buruk kawan!

Buruk yang sebenarnya
Oh ya, buruk yang sebenarnya itu adalah saat menunggu penempatan. Lamanya minta ampun. Itu sangat-sangat buruk kawan! Sekian.

Referensi:

http://www.prodip-stan.com/2011/10/d1-stan-seburuk-itu-kah-atau-justru-itu.html

http://www.stan.ac.id/

http://situs-snmptn.blogspot.com/2012/07/review-jurusan-d1-stan.html

Tagged: , ,

§ 400 Responses to Seburuk apakah D-I STAN?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seburuk apakah D-I STAN? at Elam Sanurihim Ayatuna.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,230 other followers

%d bloggers like this: